Dear Husband

Dear Husband
Bawalah Rafa



Lambaian tangan Fransisca dan Bella hilang ditelan kegelapan malam. Ya, mertua dan iparnya itu harus segera kembali ke Jakarta karena Fransisca mendapat telepon agar segera kembali ke perusahaan. Ada meeting yang harus dia hadiri karena Fernando tak bisa datang. Semua orang tau jika itu pasti gara-gara Elle yang masuk rumah sakit dan membutuhkan dirinya. Miris, itu yang dirasakan Sofia. Suaminya itu malah lebih mementingkan anak mantan istrinya dari pada anak kandungnya sendiri. Dalam hati dia berjanji akan selalu menjaga Rafa hingga dia dewasa kelak. Dia yang akan menjadi ibu sekaligus ayah baginya, juga calon adiknya nanti. Ahh...mengingat sang calon bayi membuatnya tersenyum bahagia. Dielusnya perutnya yang masih terlihat datar itu penuh kasih sayang.


"Cepatlah lahir ke dunia sayang, kakakmu membutuhkan teman bermain." bisiknya lirih sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Sofia baru saja menutup pintu rumah dan hendak masuk ke kamarnya saat bel rumah berbunyi. Hena yang masih berbincang dengan Maria layaknya sepasang sahabat yang jarang bertemu segera berdiri, namun dicegah oleh Sofia yang memilih kembali ke daun pintu yang baru beberapa meter dia tinggalkan.


"Apa ada yang ketinggalan hingga mama dan Bella kembali?" gumamnya. Otak cerdasnya berusaha mengingat dengan cermat setiap barang bawaan sang mertua yang mungkin saja tertinggal.


"Apa ada yang......."


Degh....


Sofia terpaku ditempatnya dengan mata membulat saat melihat siapa yang mengetuk pintu rumahnya. Tubuh tegap penuh pesona itu telah hadir dengan nyata di depannya. Manik blue oceannya berpijar entah untuk apa. Sofia segera menutup pintunya kembali, tak ingin menemui pria itu saat sebuah lengan besar menahan pintu itu kuat, bahkan lebih kuat dari tenaganya seraya menatapnya amat tajam.


"Dimana putraku Sofia?" desisnya penuh itimidasi. Tangannya bahkan sudah bisa membuat pintu itu terbuka sepenuhnya dan memasuki ruangan itu tanpa perlawanan berarti.


"Tuan muda anda...." Tentu saja Hena sudah bertindak cepat membarikade tangga sebelum sang tuan muda mendekat. Raut terkejut tak menyangka Fernando akan datang secepat itu membuat dia sedikit gugup. Demikian pula Maria yang bersiap mendial nomer polsek terdekat. Antisipasi jika ada tindak kekerasan dari sang majikan pada istri dan anaknya. Mereka sangat ingat perintah nyonya besarnya untuk menjaga menantu dan cucunya dari siapapun temasuk ayah kandungnya.


"Minggir Hena. Aku tidak akan segan melukaimu jika kau menghalangiku." ancam Fernando dengan wajah sedingin esnya. Tapi Hena tak bergeming. Matipun dia sudah siap demi mengabdi pada sang nyonya besar yang sudah banyak berjasa padanya ataupun keluarganya. Hena tau dia bukan lawan yang sepadan bagi Fernando. Tapi setidaknya dia sudah berusaha.


"Hena...menyingkirlah." suara halus itu menyirap keteguhan dan tekad sang pengawal. Dibelakang Fernando, Sofia yang tau persis sifat arogan suaminya memilih mengalah agar tak jatuh korban tak berdosa pada masalah rumah tangganya


"Tapi nyonya...." Terlihat sekali jika pengawal pemberani itu gamang. Matanya menatap pasangan suami istri itu bergantian. Dia baru pindah dari posisinya saat Sofia memberi isyarat padanya.


Fernando melewatinya tanpa kata lalu menuju satu-satunya kamar yang ada di lantai atas itu dengan langkah tergesa. Sofia segera mengikutinya hingga ke pintu kamarnya, dimana Rafa tidur setelah makan terlalu kenyang tadi. Dilihatnya Fernando yang merengkuh tubuh putranya, menciumi pipi dan kepalanya bergantian.


"Kau boleh mengunjunginya kapanpun karena kau ayahnya. Tapi maaf, aku tidak akan membiarkan putraku berada dalam bahaya sekali lagi. Aku yang mengandung dan melahirkannya, hanya aku yang tau penderitaannya. Aku tidak minta apapun darimu, tapi jangan pisahkan aku dari anak-anakku." lanjutnya penuh penekanan pada setiap kata yang dia ucapkan.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" balas Fernando kemudian. Sofia tau, pasti jawaban itu yang akan keluar dari bibir sang tuan muda arogan di depannya itu. Fernando adalah pribadi yang tak suka mengalah meski pada bayangannya sekalipun. Egonya terlalu tinggi untuk ukuran manusia biasa.


"Dulu kau pernah berjanji untuk mengabulkan apapun permintaanku bukan? maka anggaplah hari ini aku meminta hakku sebagai istri sekaligus ibu dari anak-anakku. Aku mohon biarkan Rafa tetap tinggal bersamaku. Kau pria yang tak kan lemah jika dijauhkan dari darah dagingmu, tapi kami para wanita akan hidup bagai raga tak bernyawa jika jauh dari anak-anak kami."


"Apa aku terlihat begitu kejam pada kalian? apa kau lupa pada semua yang sudah kulakukan padamu? pada keluargamu? Juga pada masa depan mereka?" Sofia menggeleng lemah. Fernando sudah banyak berubah sejak menikah dengannya. Tapi sekarang, baginya semuanya sudah berubah abu-abu lagi. Ingin rasanya dia berkata jika baik dia maupun keluarganya tidak meminta perlakuan istimewa itu. Fernandolah yang memaksa melakukannya. Tiba-tiba dia merasa sangat hina. Dia seperti kacang yang lupa akan kulitnya jika membalas semua kebaikan itu dengan perkataan yang tak pantas. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah hutang budi, dan Sofia tau pasti akan hal itu. Sebuah senyum getir terbit disudut bibirnya.


"Baiklah, bawalah Rafa pergi." ujarnya berusaha tegar walau dengan bibir bergetar. Ada tangis yang berusaha dia sembunyikan. Siapa bilang seorang wanita akan bahagia jika dipersunting pria tampan yang kaya raya? hidup tak seindah kisah novel yang ditulis sebuah jiwa yang melankolis. Setelahnya, wanita muda itu menutup pintu dan berjalan menjauh. Langkah lemahnya berjalan menuju ruang kerjanya dilantai satu. Sebuah kamar yang dia gunakan untuk belajar dan menyimpan buku-bukunya. Dia tak ingin larut dalam kesedihannya. Bagaimanapun dia sudah kalah.


"Nyonya apa anda baik-baik saja?" tanya Hena saat mereka berpapasan diujung tangga. Ada rona khawatir yang tergurat diwajah dua asisten yang ditempatkan mertuanya itu. Sofia berusaha tersenyum.


"Aku baik-baik saja Hena. Kau dan Maria pergilah beristirahat. Tak akan ada apa-apa karena tuan Fernando sudah datang menjaga Rafa. Aku akan belajar untuk menyelesikan tesisku." Hena dan Maria saling berpandangan sebelum akhirnya berpamitan istirahat dikamar Hena yang terletak di dekat pintu depan.


Sofia membuka pintu ruang kerjanya berlahan. Tangannya terulur membuka laci, mencari obat tidur cair dan meminumnya dengan dosis standart. Hal yang sebenarnya tak boleh dikonsumsi seorang ibu hamil. Tapi dia butuh istirahat. Stres hanya akan mengakibatkan bayinya tidak sehat. Lebih baik tidur dan mengistirahatkan otaknya yang lelah.


Hanya butuh beberapa menit sebelum tubuh sang dokter mendarat dikasur kecil disudut kamar itu. Rasa kantuk sudah membuatnya lupa dalam lelap, menyelami mimpi indahnya hingga tengah malam tiba. Wanita muda itu sama sekali tak menyadari jika ada seseorang yang memasuki kamar itu juga kala sebuah tangan kekar sudah meraih tubuhnya, menggendongnya keluar menuju lantai atas.


"Tuan muda anda...."


"Tidurlah Hena. Aku tidak akan pernah menyakiti istri dan anak-anakku." katanya dengan suara berat.