Dear Husband

Dear Husband
Extra part 3



Rutinitas siang yang melelahkan. Panasnya matahari mungkin tak sepanas adegan ranjang sepasang suami istri yang baru saja menuntaskan hasrat mereka. Terengah dalam kepuasan, berpeluh dalam kelelahan. Nando mengusap peluh yang membanjiri dahi wanitanya, menghirup wangi alami dari sang dokter yang sudah membuatnya candu. Sesekali mata setajam elangnya melirik box baby Rafa. Untunglah putranya sangat pengertian dengan tertidur amat pulas siang itu. Tak terganggu dengan ******* dan teriakan kecil ayah ibunya.


Nando membaringkan tubuh kekarnya disamping Sofia yang masih mengatur nafasnya yang tersengal. Nando melingkarkan tangannya, memeluk belahan jiwanya sambil memberikan kecupan sayang dipuncak kepalanya.


"Terimakasih sayang..." bisiknya mesra. Sofia menjawabnya dengan anggukan, tak ketinggalan ciuman lembut di pipi kiri lelakinya.


"Bisa lepaskan aku dulu?"


"Hmmmmm...." tapi Nando masih terlihat enggan. Pelukannya sama sekali tak mengendur karena permintaan istrinya.


"Mas...."


"Sayang..sebentar lagi." pintanya dengan ekspresi lelah. Sofia memilih menurut hingga Nando merengangkan pelukanya beberapa saat kemudian, barulah Sofia beranjak ke kamar mandi.


"Ahh...mas!! kau mengagetkanku saja!" sentak Sofia yang benar-benar kaget karena Nando masuk begitu saja ke kamar mandi. Padahal saat dia tinggal tadi masih asyik rebahan diranjang.


"Memangnya siapa yang berani masuk ke kamar kita sayang." balasnya terkekeh. Papa muda itu segera menyalakan shower dan mandi kilat di susul Sofia. Mereka harus cepat, takut baby Rafa terbangun tiba-tiba.


"Mas, mau kuambilkan sesuatu?" tawar Sofia saat keduanya sudah duduk di sofa berdua. Bukannya menjawab, Nando malah tidur bersrlonjor dan merebahkan kepalanya di kedua paha sofia.


"Aku hanya ingin begini saja." Sofia membelai sayang kepala Fernando yang terlihat menikmati perlakuan istrinya. Nando dan Sofia memang bukan pasangan yang suka sesuatu yang ekstrim. Mereka sama-sama sibuk dengan aktivitas masing-masing hingga selalu memanfaatkan waktu yang ada untuk keluarga, bermesraan dengan pasangan dan mengasuh Rafa.


"Hubby..."


"hmmmmm." Nando yang akan memejamkan matanya seketika membukanya kembali saat Sofia memanggilnya.


"Tentang pekerjaanku..."


"Apa ada yang menganggumu? atau kau dalam masalah?" Pria itu segera mendudukkan tubuhnya, menatap lurus Sofia.


"Tidak." jawab Sofia tergesa. Dia tidak ingin suaminya salah paham dan akan membuat perhitungan seperti biasanya. Nando sama sekali tidak suka jika ketentraman hidupnya terganggu. Dia tak segan membuat perhitungan dengan siapapun yang berani menganggu orang-orang tersayangnya.


"Lalu?" Sofia memeluk suami tampannya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Aku ingin berhenti."


"Sayang..kau...."


"Sayang dengar...aku memang pernah memintamu berhenti bekerja, tapi itu dulu." lirihnya seraya memegang kedua pipi mulus Sofia.


"Apa maksudmu mas?" kali ini Sofia benar-benar tak mengerti pada reaksi suaminya. Padahal tadi dia berharap Nando akan tertawa senang mendengar keputusannya.


"Kau tau betapa bangganya mama dan papa saat memperkenalkan dirimu tadi? mereka amat bangga mendapatkan menantu seorang dokter. Aku tidak bisa melihat mereka kecewa sayang. Sama seperti aku tak ingin membuatmu begitu saat kau meninggalkan semuanya untuk keegoisanku. Kau benar...negara ini butuh banyak tenaga medis, terutama ahli jantung. Penyakit pembunuh nomer satu yang jadi momok masyarakat." Nando benar, Orang tua, kakak dan adiknya amat bangga saat dia mempersunting Sofia. Walau berasal dari strata sosial jauh dibawah mereka, tapi punya menantu seorang dokter tentu merupakan kebanggan tersendiri bagi mereka mengingat istri pertama Fernando hanyalah seorang model yang lebih banyak sensasi ketimbang prestasi.


"Apa itu berarti kau mengijinkan aku kuliah lagi?" tawa jenaka terlontar dari bibir Sofia. Hanya bercanda, dia tau Nando tidak akan mengijinkannya kuliah lagi seperti dulu karena sudah ada Rafa diantara mereka.


"Ya. Kau akan melanjutkan kuliahmu Sofia." kali ini Sofialah yang dibuat kaget dengan perkataan Nando. Kedua bola mata coklat indah itu membeliak, mencari kebohongan dari manik blue ocean Nando yang pastinya tidak akan dia temukan. Ya, Nando tak pernah main-main dengan perkataannya.


"Mas...aku...." Sofia tak sanggup meneruskan kata-katanya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Sayang, jika dulu kau ingin membuat ayah ibu bangga, sekarang buatlah suamimu ini bangga." Bisiknya ditelinga Sofia.


"Tapi aku takut tak bisa membagi waktuku untukmu dan Rafa mas." Tentu saja Sofia ragu karenanya. Menjadi residen tentu bukan hal mudah. Bisa-bisa seluruh waktunya akan habis di kampus dan rumah sakit. Bagaimana dengan Rafa dan suaminya? sedang dia tidak tega saja jika Rafa diurus oleh pembantu.


"Sayang dengar...mom dan dad sudah membicarakan semuanya denganku kemarin."


"Bicara apa mas?"


"Mereka akan menetap disini. Menghabiskan hari tua disini. Mereka yang akan mengasuh Rafa saat kau sibuk kuliah."


"Tapi itu akan merepotkan mereka mas."


"Merepotkan apanya? mereka sendiri yang memutuskan begitu. Kau tau, mereka tidak hanya akan mengurus Rafa, tapi juga Ling-ling dan Elle."


"Ling-ling? Elle?" tanya Sofia makin tak mengerti.


"Ya. Kak Karin dan suaminya yang akan mengurus perusahaan papa di luar negeri. Selebihnya mereka akan mengurus cucu-cucu mereka untuk kesibukan. Ahh..kau juga harus tau jika mulai minggu depan Bella akan kembali bekerja."


"Bella? tapi untuk apa mas? dia sudah cukup nyaman dengan kehidupannya sekarang."


"Siapa bilang nyaman? Alex sangat tau jika istrinya sudah banyak berkorban untuknya dengan berhenti dari pekerjaan yang dicintainya. Aku tak ingin menyesal seperti Alex sayang. Sungguh, kami suami-suami beruntung yang memiliki kalian."


"Kau salah mas...aku dan Bella adalah wanita beruntung yang dipersunting pria seperti kalian. Diluar sana banyak pria yang sama sekali tak menghargai usaha istrinya yang mungkin harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Terimakasih sudah membuatku seperti sekarang mas..." dan Sofia kembali menangis haru. Menenggelamkan kepalanya di dada suami tersayangnya.