
"Nyonya anda mau kemana?” bik Mimi yang ada diruang keluarga bergegas menghampiri Sofia yang turun sambil memanggul tas punggungnya. Kepala pelayan itu terlihat menjadi khawatir. Tidak ada pemberitahuan bahwa nyonya mudanya akan pergi kesuatu tempat.
" Saya ada tugas keluar kota bik." Sofia menuju meja makan, menyeruput susu coklat hangat favoritnya yang sudah disediakan bi Mimi. Lama-lama Mimi tau apa menu favorit Sofia.
"Apa nyonya sudah pamit pada tuan muda?" Sofia menyandarkan bahunya pada kursi makan. Dia tau pertanyaan itu akan terucap juga dari bibir sang pelayan senior. Dia juga tau jika bik Mimi selalu memata-matainya walau tak banyak bicara.
"Bibi sampaikan saja padanya saya dinas keluar kota." datar saja.
"Kenapa tidak nyonya saja yang menelepon dan bicara sendiri pada tuan Nando?"
"Karena tuan Nando tidak pernah menelepon saya. Bukannya dia selalu menghubungi bibi? jadi saya minta tolong bibi sampaikan saja jika dia menanyakan keberadaan saya. Tapi saya sama sekali tidak yakin jika dia menanyakan saya."
"Nyonya anda salah. Tuan sangat...."
"Saya juga berharap dugaan saya salah bik. Tapi benar atau salah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya lagi." Sofia segara berdiri begitu susunya habis.
"Nyonya anda belum sarapan."
"Saya belum lapar bik. Mungkin nanti saya akan sarapan dijalan saja. Assalamulaikum bik."
"Walaikumslam nyonya....tapi berapa lama anda disana?" Sofia menoleh, tersenyum hambar.
"Saya juga belum tau bik." Setelahnya Sofia berlalu keluar dari pintu dan berlari kecil menuju gerbang. Taksi online yang dipesannya sudah tiba beberapa menit lalu. Dua orang satpam penjaga gerbang hanya melongo.Mereka belum sempat bertanya mau kemana sang nyonya sepagi itu, namun mobil putih milik sekretaris Alex sudah datang memasuki pekarangan rumah yang terbuka lebar karena mereka belum sempat menutup gerbang.
"Selamat pagi tuan Alex." sapa mereka bersamaan. Alex hanya mengangguk.
"Siapa yang barusan keluar?" tanya Alex menatap tajam mereka. Sudah lama Sofia tidak memakai jasa taksi online saat ingin keluar dari rumah. Tapi tidak mungkin juga ada tamu sepagi ini mengingat nyonya mudanya juga pulang larut semalam.
"Nyonya muda. Dia membawa tas punggungnya tuan."
"Tas punggung?" ulang Alex.
"iya tuan." Alex mengerutkan dahinya. Tidak biasanya kakak iparnya itu membawa tas punggung. Yang ada dia hanya membawa tas kerjanya saja dengan jas putih menggantung disikunya. Tak banyak bertanya dia bergegas memasuki rumah, menemui bik Mimi. Dari pintu, dia sudah bisa mendengar jika pembantu senior itu tengah menelepon Fernando. Alhasil dia hanya berdiri mematung disana sambil ikut menyimak pembicaraan mereka.
Benar saja, beberapa detik setelah bik MiMi menutup telepon, ponselnya berdering. Nama sang tuan muda terpampang disana.
"Alex, cari tau dimana Sofia ditugaskan. Jangan lakukan apapun, suruh orang mengawasi dia. Pastikan dia aman."
"Baik tuan muda." Setelahnya Nando memberikan perintah seputar pekerjaan yang dengan cepat diangguki Alex.
Dijalan menuju tempat kerja baru, Sofia mengusap matanya yang berembun. Tidak ada yang istimewa antara dia dan Nando , tapi kenapa dia merasa sangat sedih? Mungkin bisik-bisik para pembantu semalam ada benarnya. Hanya sedikit kurang tepat. Mereka mengibaratkan dirinya itik buruk rupa. Tapi entah kenapa Sofia cenderung menganggap dirinya seekor burung gagak? Siapa yang tidak tau gagak? burung hitam buruk rupa, buruk segalanya, bersuara keras dan tidak punya sedikitpun keindahan. Dan dia ingin berumpul dengan seekor merak tampan dari keluarga Hutama? ini tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun dia merubah penampilan dan gaya bahasanya, dia tetap seekor gagak, tidak akan pernah menjadi merak.
"Kita sudah sampai nyonya." kata sopir taksi memutuskan lamunan Sofia. Dia tersadar dan mengambil dompetnya membayar ongkos lalu turun didepan rumah dinasnya.
Sofia membuka pintu, meletakkan tasnya lalu menelepon toko perabotan yang dia pesan kemarin. Sebelum malam, semua pesanannya harus sudah datang karena dia memerlukannya. Dia juga menelepon pihak puskesmas agar segera mengirimkan sepeda motor iventarisnya kesana. Mungkin saja dia perlu keluar nanti.
Tak berapa lama berbagai barang itu sudah diantarkan. Sofia yang sekarang sibuk merapikan rumah. Meletakkan perabotan dapur, mandi dan kamar tidurnya pada tempatnya sehingga dalam sekejap rumah mungil itu terlihat rapi dan bersih. Tidak sia-sia dia menjadi anak kost dalam kurun waktu lama. Kebiasaan mandiri memang membuatnya cekatan dan trampil.
"Huuufftt...aku lelah sekali. Untung esok masih ada waktu istirahat sebelum dinas resmi." gumam Sofia. Dia melongok keluar jendela depan. Tak terasa suasana telah menjadi gelap. Tapi sesaat matanya mengerjab ceria. Ternyata disekitaran rumah dinasnya adalah kawasan ramai. Disana sini ada banyak penjual makanan dan minuman versi kaki lima yang berjajar rapi menawarkan dagangannya. Dalam hati dia sangat bersyukur karena tak perlu pergi jauh-jauh jika butuh sesuatu. Sebenarnya Sofia bukan tipe wanita yang suka membeli makanan diluar karena pertimbangan kesehatan. Tapi sesekali dia juga ingin makan diluar.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, dia bergegas keluar rumah. Training panjang dan kaos oblong lengan panjang membalut tubuhnya malam itu. Tak ketinggalan jilbab instan menutup kepalanya. Sofia memang tak secantik model atau bintang. Tapi dia punya inner beauty yang kuat, karismatik dan smart. Secara total dia punya pesona yang luar biasa hingga tanpa make up pun dia tetap bisa tampil memikat.
Lapak penjual gado-gado adalah tujuan utamanya. Dia memesan sekaligus dengan minumannya untuk dibungkus pulang. Tidak ada larangan makan disana memang, tapi sekali lagi dia adalah wanita rumahan yang lebih suka menikmati makanan yang dibelinya dirumah.
ting.....
' Kau dimana?'
pesan dari Fernando muncul diaplikasi warna hijau ponselnya. Sofia mengabaikannya dan tetap melahap makanannya.
...ting.....
'jawab aku Sofia.'
pesan kedua muncul kembali. Tapi lagi-lagi Sofia tidak menggubrisnya. Sesaat kemudian telepon dari Fernando masuk. Tak hanya sekali dua kali, namun Sofia bersikap seolah tak mendengar apa-apa. Begitu telepon berhenti, Sofia sigap meraih ponselnya lalu menghapus nomer whatssapnya dan menggantinya dengan nomer lain yang barusan dia beli. Cukup sudah, semuanya harus segera diakhiri. Nanti jika dokter Maya sudah selesai dengan urusannya dikota, maka dia akan memohon dipindah tugaskan kembali ke daerah terpencil agar bisa lepas dari kehidupan seorang Fernando yang sudah dia kubur menjadi masa lalu.
Hujan turun dengan deras membuat Sofia merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya. Baru saja dia memberitau teman-teman dan dinas jika nomernya sudah diganti agar mereka tidak kesulitan menghubunginya. Untunglah dari awal dia berpesan agar mereka merahasiakan tempat tugas barunya pada siapapun termasuk keluarganya dengan alasan privasi. Ironis memang, tapi dia juga berhak hidup nyaman bukan?