
" Pikirkan lagi keputusanmu Sof. Jangan sampai kau menyesal nantinya." Rosa menggenggam erat tangan sahabat baiknya itu. Hanya tinggal mereka berdua yang duduk berhadapan di kantin kampus saat itu.
"Sudah Ros. Keputusanku sudah bulat. Tanpa jadi spesialispun aku sudah bisa mengabdi untuk kemanusiaan. Daerah kami butuh banyak dokter Ros, dan aku tidak bisa menutup mata dari itu semua. Semakin jauh semakin baik bukan? agar aku bisa memulai hidup baru." Rosa hanya diam. Dia tau sangat sulit bagi Sofia untuk memilih pilihan itu. Cita-citanya menjadi spesialis sangat besar, tapi cobaan yang dia hadapi juga sama besarnya.
"Kenapa tak memilih alternatif pertama saja? kau akan kembali kesana setelah program spesialis kita selesai. Aku yakin daerahmu juga lebih butuh seorang spesialis. Jangan karena kau bermasalah dengan suamimu lalu kau meninggalkan cita-citamu. Lupakan saja Fernando tapi jangan melupakan ambisimu."
"Aku tidak ingin bertemu dia lagi."
"Kau tidak akan bertemu dengannya jika duniamu hanya kampus, rumah sakit dan kamar kost. Jangan kemana-mana selain itu." Rosa masih saja kukuh pada pendiriannya menahan Sofia kembali ke kampung halamannya dalam keadaan setengah tanggung. Terlalu banyak yang akan dia korbankan nantinya hanya karena seorang Fernando. Tuan besar kaya raya yang bisa datang dan pergi semaunya.
"Dengarkan aku Sof, bertahanlah, aku akan mengembalikan uang penjualan rumah untukmu agar kau bisa terus bertahan hingga lulus nanti."
"Tidak Ros. Uang itu milik Fernando dan aku tidak ingin menerimanya. Rumah itu juga dibeli atas namanya, aku juga tidak bisa membalikkan namanya meski kau kembalikan uangnya." tolak Sofia halus.
"Kau lupa dia membeli rumah itu dengan harga diatas pasaran. Kelebihannya yang akan kukembalikan padamu." lagi-lagi Sofia menggelengkan kepalanya.
"Itu rejekimu, bukan punyaku."
"Kalau begitu akan kukembalikan uang milikmu saja, kali ini kau jangan menolak. Berikan nomer rekeningmu!" dan tanpa kompromi Rosa merebut tas sofia dan mengaduk-aduk dompetnya. Kebiasaan lamanya saat masih satu kost berdua. Bibirnya tersenyum lebar, ternyata Sofia sama sekali tak berubah. Selalu membawa hal-hal penting bersamanya. Cepat dia membuka buku rekening yang terselip cantik disana dan mentransferkan nominal uang milik Sofia dalam beberapa detik saja. Dan...semuanya beres.
"Hey..ini terlalu banyak." pekik Sofia meneliti ponselnya tentang notifikasi uang masuk. Rosa tersenyum lebar.
"Kita bagi dua labanya. Lagian aku juga nggak rugi. Anggap saja itu rejekimu juga. Sekarang mau kutemani mencari tempat kost baru?"
"Nanti saja. Aku masih ada urusan. Kartu ini harus kukembalikan pada pemiliknya." Kata sofia menarik black card dari dompetnya. Tentu saja Rosa melonggo melihatnya. Untung saja istri Fernando adalah Sofia yang jujur dan polos, jika itu wanita lain maka habislah Fernando.
"Kau bodoh ..benar-benar bodoh." bisik Rosa tak terima.
"Aku akan lebih bodoh jika masih menyimpan atau menggunakannya."
"Tapi kau masih istrinya. Kau berhak menggunakannya, itu nafkahmu." kata-kata sama yang pernah dia dengar dari bibir Fernando. Benar kata Rosa, dia bodoh.
"Aku tidak ingin membawa apapun selain kenangan." air mata jatuh membasahi pipi mulusnya. Sakit hati yang sudah berusaha dia tahan kembali menderanya. Begini rasanya jadi istri yang tak dianggap.
"Baiklah, terserah kau. Lakukan apapun jika itu membuatmu merasa lega. Aku selalu ada untukmu. Jangan pernah sungkan meminta bantuanku." Kata Rosa tulus. Sofia menghapus air matanya dan tersenyum lebar.
"Aku tau."
"Kantor Hutama grup." jawabnya mantap. Dia tau Nando disana. Dia harus bertemu dengannya.
"Kuantar ya."
"Ros, kamu harus menjaga kandunganmu." Rosa terkekeh. Sahabatnya itu memang sangat menyayanginya hingga menjadi super cerewet saat dia hamil.
"Hey nyonya..aku ini cuma hamil, bukan sakit. Ampun deh, lagian kita naik mobil, bukannya jalan kaki atau lari-lari.yuk berangkat!" dan si bumil menarik paksa lengan dokter cantik itu. lama-lama disana juga tak berguna. Jadwal kuliah mereka sudah berakhir satu jam lalu. Mau tak mau Sofia menurut.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai ke halaman kantor Hutama grup yang amat luas.Beriringan mereka berjalan masuk. Anehnya, semua petugas sudah kembali ke formasi awal baik satpam atau resepsionis mereka.
"Selamat siang nyonya muda." sapa sang satpam memberi hormat, juga resepsionis tempo hari yang tak lagi menanyakan keperluannya. Mereka langsung diarahkan ke lantai paling atas tempat Fernando bekerja. Rosa mengenggam erat jemari sahabatnya untuk menguatkannya.
"Boleh aku mengantarmu sampai disini saja?" katanya parau. Dia sungguh tak ingin mencampuri urusan rumah tangga sahabatnya. Memberi Sofia dan Nando ruang lebih baik agar mereka bisa bicara empat mata dan menyelesaikan masalahnya.
"Ya, tentu saja. Duduklah disana dan tunggu aku ya." dan Rosa menyetujuinya, calon bumil itu mengepalkan tangannya, memberi semangat ulang agar Sofia maju dan berjuang. Lalu dia melangkah lebar menuju lift dan menghilang dibalik pintunya.
Tiba dilantai paling atas, dia menuju ruang kerja suaminya dan mengetuk pintunya. Seseorang membukanya dari dalam.
"Reza?" desisnya saat melihat pria berseragam serba hitam layaknya bodyguard itu muncul dari sana.
"Bu dokter." tampak sekali pria itu juga terkejut akan kehadiran Sofia tanpa pemberitahuan resepsionis. Dia mengira Alex yang datang. Tapi sudah terlanjur basah, pintu sudah terbuka lebar hingga Sofia bisa melihat siapa saja yang ada disana termasuk Susan yang juga berpakaian sama dengannya.
"Susan." gumamnya lagi seraya melangkah masuk. Wanita muda itu juga menatapnya dengan raut tak terbaca.
"Mbak ehhh...nyonya muda maafkan saya."
"Hmmm.." gumam Sofia. Dia bukan wanita bodoh yang tidak tau apa arti semua ini. Pasti Nando yang memerintahkan dua orang ini tinggal di depan rumahnya untuk mengawasinya. Sofia tersenyum miris meruntuki dirinya yang pasti sudah terlihat bodoh dan menyedihkan karena terlalu banyak dibohongi.
Tapi ada yang membuat darahnya tersirap. Disana, di sofa Fernando...seorang wanita cantik berwajah kebulean duduk setengah memeluk suaminya dengan wajah sumringah. Sedang Nando? hanya menatap acuh padanya seolah tak kenal dengannya. Sakit? itu pasti. Tapi dia tidak ingin lemah.
Dengan langkah pasti dia mendekati meja dan berdiri tegak dihadapan suaminya dan wanita itu tentu saja. Nando masih terus bersikap acuh dan menganggapnya tidak ada sedang wanita disampingnya sudah melepaskan pelukannya berlahan.
"Saya datang untuk mengembalikan ini pada anda tuan muda." katanya tegas seraya meletakkan kartu dan juga cincin pernikahan mereka yang barusan dia lepas setelah melihat hal barusan. Dia yang tadinya masih ingin bertahan menjadi ingin menyerah. Sudah lelah.
"Terimakasih untuk semuanya , saya permisi. Assalamualaikum." dan setelahnya Sofia sudah berbalik dan berjalan cepat keluar dari sana. Dia tak berharap ada yang akan mengejarnya seperti kisah drama korea, dia cukup tau diri. Sofia hanya tak ingin ada orang yang tau air matanya.