Dear Husband

Dear Husband
Bangun



"Sayang ayo bangun." ucap Nando lirih seraya mengecup bibir wanitanya lembut. Sofia membuka matanya pelan. Wajah tampan Nando sudah berada tepat diatas wajahnya yang tiba-tiba bersemu merah. Gemas. Itulah yang dirasakan Fernando tiap wanitanya terlihat demikian. Wajah biasa saja Sofia jadi amat menarik dan cantik dimatanya. Jangan lupakan tatapan malu-malu dan salah tingkah yang serasa membuatnya jatuh cinta dan cinta lagi setiap saat, setiap waktu.


"Ehmm mas..." Sofia buru-buru menutup bibirnya karena canggung. Bagaimana tidak? Nando sudah mandi, gosok gigi dan bau wangi. Sedang dia?? bau bantal, muka bantal dan semrawut tak karuan.


"Kenapa hemm??" ujar Nando makin gemas. Dia malah semakin mendekatkan wajahnya pada sang istri saat wanita itu mundur untuk membuat jarak.


.......cup......


Lagi-lagi sebuah kecupan ringan mendarat di bibir sensual itu. Tentu saja Sofia dibuat melengos karenanya.


"Kenapa? bukannya biasanya begitu? Morning kiss." sambung Nando terkekeh.


"Aku masih bau mas." protes Sofia dengan wajah cemberut. Nando malah terpingkal karenanya. Sungguh...tawa lebar itu membuat perasaan Sofia menghangat. Suaminya terlihat sangat tampan pagi itu. Rasanya dia harus banyak bersyukur bisa menikah dengan sang suami. Pria tampan, kaya raya dan sangat mencintainya meski kadang over posesif padanya.


"Memangnya kenapa? aku tetap mencintaimu saat bau ataupun tidak."


"Tapi mas..menjauhlah sedikit." Bukannya menuruti istrinya yang mendorong tubuh tegapnya menjauh, Nando malah makin mendekat. Dia bahkan nekat menindih tubuh sintal wanitanya.


"Jangan terus bergerak sayang...kau membangunkan sesuatu dibawah sana." bisik Nando sesual. Lidahnya sudah bergerak mengulum telinga istrinya. Yang dikatakannya benar. Sesuatu disana memang menegang karena perlakuan Sofia yang meronta dan membuat gesekan ringan yang membuatnya memejamkan matanya. Apalagi bayangan percintaan panas mereka semalam membuatnya terus menginginkan lebih. Bagaimana tidak, bumil itu malah sangat agresif dan terus ingin memegang kendali permainan hingga usai. Tentu saja Nando sangat menyukainya. Sofia yang biasanya hanya pasrah dibawah kungkungannya kini seolah menjelma menjadi joki profesional dalam arena pacu ranjang panas mereka. Dia ingat bagaimana wanitanya itu membuatnya mendengus keras dengan nafas memburu, juga teriakan kencang saat mereka berdua menggapai puncak bersamaan. Ahhh andai pagi itu dia tidak sedang tergesa.....


"Bangun dan cepatlah mandi sayang. Kita akan ke suatu tempat pagi ini." ucap Nando seraya bangkit dari tubuh istri tercintanya. Sofia mengangguk, beringsut turun dari sana saat tangan kekar suaminya lagi-lagi melingkari perutnya dan menariknya agar kembali jatuh dalam pangkuannya. Entah apa yang merasuki pikiran Nando. Yang dia tau tubuh istrinya terlihat amat seksi dengan beberapa kissmark yang dia ciptakan semalam. Bibirnya mulai mencumbui Sofia seduktif.


"Hubby ..aku harus mandi.." rengek Sofia lemah. Rengekan yang malah terdengar manja dari pada menolak. Cumbuan panas suaminya benar-benar membuatnya terbakar. Dia ingin lebih. Apa mungkin itu bawaan bayi yang selalu ingin dekat dan ditengok dady tampannya ya?? ahh..dia tak bisa menjabarkannya.


"Ssshhh...apa ..apa kau menyukainya hubby?" timpal Sofia menahan erangan yang keluar dari bibirnya. Cumbuan Fernando benar-benar membuatnya kehilangan kewarasan.


"Sangat...." desah Nando mengigit telinganya seksi. Sofia segera mendorong tubuh lelakinya agar rebah ke ranjang panas mereka lalu bergerak lincah menaiki tubuh berotot dengan sejuta pesona itu bak singa lapar yang siap menerkam mangsanya. Berkali-kali lenguhan Nando terdengar. Lihatlah wajah suaminya yang sudah berubah merah padam dengan aksi tarik ulurnya. Pria memang tidak sabaran.


"Sofiaaaaaaa .....!!!!" pekik Nando dengan kepala menengadah sempurna saat pertahanannya runtuh dalam gelombang kenikmatan yang ditebarkan istri cantiknya. Rasa lega terlihat mendominasi raut wajahnya setelah orgasme dahsyat yang di dapatnya. Sedang wanitanya sudah terkulai lemas diatas tubuhnya dengan keringat bercucuran. Wajahnya tersenyum puas. Nafas keduanya tersengal. Nando mempererat pelukannya seolah tak mau wanitanya beranjak dari tubuhnya.


"Katamu aku harus mandi." bisik Sofia setelah mendapatkan kesadarannya kembali. Dihirupnya wangi tubuh suaminya yang menenangkan.


"Hmmm..kita mandi bersama." dan dengan sekali sentak tubuh kekar itu sudah bangkit dan mengendongnya bak bayi koala ke kamar mandi. Sofia mengeratkan pelukannya ke leher Nando.


" Mas mau sarapan apa pagi ini? akan kusiapkan." Nando tersenyum, mengusap kepala istrinya, penuh rasa sayang. Walau sibuk kuliah, bekerja dan merawat Rafa, istrinya itu tak pernah lupa untuk memperhatikan dan memanjakannya dengan menanyakan hal apa yang dia inginkan. Istri yang sempurna.


"Hmmmm...kita akan makan di pesawat." balas Nando sambil memakai kaos polosnya.


"Pesawat? kita mau kemana mas?" Tentu saja Sofia tak mengerti. Sejak kelahiran Rafa mereka memang jarang pergi bersama.


"Menengok ayah ibu ke Surabaya." Senyum lebar menghiasi bibir Sofia yang sedikit membengkak karena ulahnya. Sofia segera menubruknya.


"Mas tidak bohongkan?"


"Kapan aku pernah berbohong padamu sayang?" dan lagi-lagi sebuah ciuman menimpa bibirnya.