Dear Husband

Dear Husband
Elle



"Sekali lagi kutanyakan padamu kenapa anda menikahiku tuan Fernando satria hutama yang terhormat?"


"hmmm...kau sudah hafal nama lengkapku hanya dalam beberapa jam sejak sah menjadi istriku dokter Sofia aulia rahman. Apa ini juga pertanda jika kau sudah menjadi fans baruku? jika iya, maka kusarankan agar kau segera menyiapkan kertas dan bolpoin karena tanda tanganku sangat sulit di dapatkan."


"Kau terlalu percaya diri."


"Kau juga terlalu ingin tau."


"wajar karena ini menyangkut hidupku."


"Kau akan tau saat kita bertemu Helena putriku."


"baik, aku diam." ujar Sofia kemudian. Dia sudah malas berdebat. Seluruh energinya sudah habis untuk memikirkan nasibnya setelah sampai ke Jakarta. Berdebat dengan Fernando hanya akan membuatnya sakit kepala.


"itu lebih baik." jawab Nando acuh tak acuh.


Mereka sama-sama berdiam diri dalam pemikiran masing- mading hingga satu setengah jam kemudian pesawat mereka tiba di bandara. Nando segera meraih tissu dan membersihkan tangannya lalu berdiri lebih dulu untuk keluar dari pesawat. Sedang Sofia...melangkah malas dibelakangnya. Hilang sudah impiannya hidup bahagia.Padahal dia sudah berniat membuka hati dan menerima takdirnya walau tau, Nando tidak pernah bersikan tulus pada dirinya maupun orang tuanya. Tapi dia cukup tau apa kewajiban seorang istri, karena bagaimanapun Nando sudah menikahinya secara sah baik dalam agama maupun hukum negara.


Alex mengangguk hormat pada keduanya saat tiba di depan mereka. Pria itu dengan cekatan meraih koper kecil keduanya lalu berjalan mengikuti majikannya menuju mobil yang sudah terparkir rapi menunggu mereka sedari tadi.


"Bawa kami ketempat Elle." perintah Nando saat Alex sudah masuk ke dalam mobil.


"baik tuan muda." jawabnya patuh lalu melajukan kendaraannya membelah kepadatan dan kemacetan Jakarta.


Sama pada saat di dalam pesawat, pasangan pengantin baru itu juga tidak berniat mengeluarkan suara satu sama lain. Tatapan mata mereka terfokus ke jalan raya yang makin membawa mereka ke arah berlawanan dengan kediaman Fernando.


Mobil memasuki rumah mewah berpagar tinggi yang dikelilingi tanaman bunga berwarna-warni. Rumah berukuran dua kali kediaman Fernando yang terlihat sunyi dari luar. Seorang pelayan berlari ke dalam rumah untuk menyampaikan kedatangan Fernando pada sang empunya rumah.


"ayo masuk." ajak Nando tegas menyerupai sebuah perintah.Sedikit ragu,Sofia mengekori langkah sang tuan muda yang lebih dulu memasuki rumah dengan langkah lebar. Disana,seorang wanita cantik berwajah oriental berjalan cepat menuruni tangga lalu tanpa basa-basi memeluk tubuh Fernando.Sofia tak bergeming hingga melihat suami pemaksanya mencium kening sang wanita lembut.Ada yang tercabik di sudut hati Sofia kala wanita itu bergelayut manja dilengan suaminya tanpa protes sedikitpun darinya.


"Bagaimana kabarmu ge?" tanyanya manja tanpa melepaskan rangkulannya dari lengan kekar Fernando.


"Seperti yang kau lihat."


"dia....." tanpa melanjutkan pertanyaannya wanita tadi menoleh ke arah Sofia yang masih berdiri mematung di depan sekretaris Alex. Fernando mengikuti arah tatapan mata itu.


"Dia Sofia, istriku." jawabnya singkat. Seketika wanita tadi mendatangi Sofia lalu mengulurkan tangannya.


"Hai kak,aku Arabella.Panggil saja aku Bella." ujarnya ramah. Sofia menyambut tangan itu dan memperkenalkan dirinya sambil mengulas senyum ramah.


"dimana Elle?"


"Dia bermain dengan Ling-ling. Biar aku panggilkan ge." tanpa menunggu jawaban ,Bella kembali ke lantai atas dengan sedikit tergesa.Tak barapa lama kemudian, dia kembali menuruni tangga sambil menggendong gadis cantik bergaun pink dengan aksesoris lucu dirambutnya. Tawa keduanya bergema diruangan besar itu.


"Papa." teriak gadis kecil itu.Fernando bergegas mengambilnya dari gendongan Ele dan memeluknya erat.


"Bagaimana kabarmu bidadari papa?"


"Elle baik pa.Papa datang dengan siapa?aunty bilang papa....."


Nando memberi isyarat agar Sofia mendekat.


" Halo sayang siapa....."


"mamaaaaaaa.....!!!" teriak gadis kecil itu lalu berontak dari pelukan papanya. Sofia merasa sangat kaget saat melihat Elle menuju arah lain.Ahh..ya Tuhan...Elle buta.


"Sayang, itu mama disana." ucap Nando pelan sambil mengarahkan Elle pada Sofia yang masih dilanda keterkejutan. Kesadarannya baru pulih saat gadis kecil itu memeluk kakinya erat. Sofia melemah. Jiwa keibuannya tergerak. Segera dia berjongkok dan memeluk gadis mungil itu erat.


"Mama kemana saja?kenapa meinggalkan Elle dirumah aunty sangat lama? apa karena sekarang Elle buta? apa mama malu punya anak seperti Ellle? apa mama sudah tidak sayang Elle lagi?" tanya Elle terbata. Tangisnya pecah seketika. Sofia yang hanyut dalam kesedihan sang gadis kecil terus memeluknya sambil meneteskan air mata. Sekilas dia melirik Fernando yang menatap interaksi keduanya serius.


"Jangan bicara begitu sayang,mama sayang, mama sangat sayang padamu."


"lalu kenapa mama tidak pernah meneleon Elle?" seketika Sofia gelagapan tak tau harus menjawab apa, sedang dia sendiri tidak tau siapa mama kandung Elle.


Fernando memeluk bahu putrinya.


" Elle, papakan sudah bilang kalau mama sedang menjalani terapi di rumah sakit. Jadi mama tidak bisa kemana-mana. Dokter juga melarang mama membawa ponsel. Yang penting sekarang mama sudah berkumpul lagi dengan kita dan akan membawa Elle kerumah."


"benarkah?"


"ya." jawab semua orang serempak Elle tersenyum bahagia.


"sekarang kita ke kamar Elle ya.Papa bantu Elle siap-siap."


"tapi mama..."


"Biarkan mama berbincang dulu dengan aunty Bella. Mama juga belum boleh terlalu capek sayang. Papa saja yang antar Elle ya." jelas Nando sabar. Dia memberi isyarat pada Bella sebelum menggendong Elle naik ke kamarnya.


"Kak,bisa ikut aku sebentar?" tanya Bella pada Sofia yang masih terpaku ditempatnya.


"tentu."


Bella mengajaknya ke taman depan lalu menuju gasebo yang sejuk disana.


"Fernando itu kakakku.Kau tentu bertanya-tanya kenapa wajah kami tidak miripkan?Itu karena aku sebenarnya adalah sepupunya. Anak mendiang pamannya. Dulu, saat kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan pesawat, papa Teguh datang menjemputku dan membawaku ke rumah ini. Aku, kak Nando dan kak Karin dibesarkan bersama tanpa perbedaan. Mereka juga menganggapku putri bungsu mereka." ulas Bella sambil terkekeh pelan.Rambut hitamnya berkibar diterpa angin.


"Ini adalah rumah keluarga Hutama. Papa dan mama jarang pulang karena sibuk di Inggris. Aku dan suamiku yang menempatinya karena kak Nando memilih hidup mandiri bersama kak Emma setelah menikah." Sofia masih setia menyimak tiap kata yang meluncur dari bibir Bella. Menyimaknya tanpa ingin satu katapun terlewat dari sana.


"Mereka hidup bahagia sebelum kecelakaan maut itu merenggut nyawa kak Emma dan membuat Elle buta beberapa bulan lalu. Kak Nando yang terpukul terpaksa menitipkan Elle padaku agar di tidak tau jika mamanya sudah meninggal.Dan kau tau...Ahh ya Tuhan....apa ini sebuah kebetulan?suaramu sangat mirip kak Emma. Aku sendiri sampai terkejut tadi. Padahal rencananya kak Nsndo akan menikahi Delia sebagai istri pura-puranya dan mengatakan pada Elle jika dia baru saja menjalani operasi pita suara karena kecelakaan itu."


"Dan kak...bolehkah aku memberikan permintaan padamu?"


"katakan."


"Kumohon berpura-puralah menjadi kak Emma,setidaknya hingga Elle medapatkan donor mata yang cocok.Kasihan Elle kak.Dia masih terlalu kecil untuk merasakan arti kehilangan. Melihat Elle sekarang serasa berkaca pad diriku sendiri dimasa silam."