
"Sayang tunggu!!" panggil Nando sebelum pintu kamar tertutup, tapi Sofia menulikan telinganya dan tetap masuk ke kamarnya. Fernando yang mengikutinya nyaris terpentok pintu jika tak sigap menahannya dengan siku lengannya.
"Pulanglah Lex, besok kita lanjutkan lagi." perintahnya sebelum masuk ke kamar menyusul sang istri.
Alex bergegas memasukkan tas Nando ke ruang kerjanya lalu berlalu pulang, demikian pula para pelayan yang langsung menuju dapur, tidak istirahat tapi berkerumun membicarakan nyonya rumah yang menurut mereka...keren! Sudah cantik, proporsional, dokter, keren lagi. Sekarang mereka tak harus memperlakukan sang nyonya bak berlian lagi. Nyonyanya lebih hebat dan kuat untuk ukuran seorang wanita. Ada rasa aman juga kala di dekatnya.
"Hey..ayo bubar. Sudah waktunya istirahat. Jangan sampai tuan muda marah melihat kalian tetap bergunjing disini." perintah seorang pengawal yang kebetulan sedang melewati dapur. Kumpulan para pelayan itu membuat dia penasaran, apa lagi ini sudah malam, maka itu dia sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Hey, kami ini membicarakan nyonya, bukan menggunjingnya. Lagian kau tak tau saja betapa kerennya nyonya kita. Lihat!" dan Maria memperagakan gerakan sofia membanting tubuh Amanda begitu saja bagai membalik sebuah guling yang amat ringan baginya. Padahal dia baru saja melahirkan, bayangkan saja jika dia berada dalam kondisi prima. Bisa hancur binasa pelakor kelas kakap itu.
"Kalian jangan berkhayal. Nyonya muda itu seorang dokter, bukan bodyguard." balas sang pengawal terkekeh. Mana mungkin dia percaya begitu saja? Sedang yang dia tau Sofia itu sosok feminin yang butuh perlindungan hingga tuan mudanya selalu memperketat penjagaan untuk istri dan anaknya kala tak ada dirumah.
"Terserah kau. Pergi sana!" sentak Sarla kesal. Pengawal itu berlalu sambil terus menggerutu tidak jelas.
Di dalam kamarnya, Fernando melepas pakaiannya lalu membersihkan dirinya. Dia tak ingin menyentuh baby Rafa sebelum bersih karena baru bepergian jauh, begitu pesan kakek neneknya dari pihak ayah yang memang memegang teguh tradisi Jawa.
"Sayang, berikan pakaian gantiku." katanya kalem saat keluar dari kamar mandi. Tanpa menjawab, Sofia mengulurkan setelan baju santai suaminya dan berbalik menuju box baby Rafa disisi tempat tidur mereka. Tapi belum sampai disana...
..Greeepp..
Tiba-tiba lengan besar Fernando sudah melingkar manis dipinggang Sofia. Pria itu sudah merengkuh sang istri dari belakang, mencuri ciuman di pipi kanannya. Tak ada reaksi dari Sofia meski tangan suaminya sudah bergerak menyingkap jilbab merah maron yang menutup kepalanya dan meletakkannya di tepi ranjang. Pun saat dia mengecupi tengkuk beraroma mawarnya, dokter cantik itu tetap diam tanpa reaksi.
"Sayang aku merindukanmu." ungkapnya. Tapi tetap tak ada jawaban, Sofia membisu.
"Apa kau tak merindukan suamimu ini hemm??"
"Kau marah padaku?" tanya Nando, menghentikan aktivitasnya. Berlahan dia membalikkan tubuh istri tercintanya. Diraihnya dagu itu agar mendongak menatap padanya. Air mata menggenang dipelupuk mata Sofia.
"Sayang kau menangis?? Ya Tuhan...maafkan aku. Sofia, maafkan aku sayang." ujarnya terbata, mengelus pipi kuning langsat istrinya yang kembali menundukkan kepalanya. Tapi lagi-lagi Nando menangkup pipinya dan memaksa sang istri menatapnya.
"Maaf jika aku menyakitimu Sofia. Tapi demi Tuhan aku tidak mengenal wanita itu. Dia..."
"Apa kau merasa tidak puas dengan diriku?" tanya balik Sofia dengan bibir bergetar. Sebenarnya mendengar ejekan Amanda tadi sudah membuatnya rendah diri. Bagaimanapun dia masih gadis saat menikah dengan Nando walau sudah tak muda lagi. Dia belum pernah bersentuhan dengan lelaki, hingga tak punya pengalaman apa-apa untuk menyenangkan hati suaminya.
"Apa yang kau tanyakan Sofia? jangan dengarkan perempuan itu."
"Aku hanya ingin kau menjawabnya mas." sergah Sofia cepat. Nando kembali memeluk tubuh Sofia seerat yang dia bisa.
"Kau tau...aku selalu menginginkanmu bahkan aku berjuang menahan hasratku padamu. Bukankah pria selalu menginginkan sesuatu yang membuatnya terpuaskan? Aku sangat puas dengan semua yang kau miliki istriku." bisiknya mesra. Istriku?? kenapa kata-kata itu terdengar sangat manis ditelinga Sofia? Berlahan dia membalikkan tubuhnya.
"Lalu wanita itu??" tatapan tajam Sofia menghujam manik blue ocean Nando yang juga menatapnya sangat teduh.
"Sudah kubilang aku tidak mengenalnya."
"Lalu bagaimana dia bisa masuk ke dalam kamarmu? atau kau sengaja tak menguncinya agar dia bisa tidur denganmu?" wajah Sofia memerah menahan amarah. Walau suaminya tidak meniduri wanita itu, tapi dia sudah melihat tubuhnya dan juga menyentuhnya. Membayangkannya saja sudah memnuatnya ingin menghajar seorang Amanda Larsons.
Mata Sofia mengawasi semua kejadian di hotel dari awal suaminya masuk hingga kejadian foto memfoto yang dilakukan Amanda. Tangannya terkepal kuat.
"Bukan aku yang mengundangnya masuk sayang..dia yang..."
"Aku menyesal tidak mematahkan tangannya tadi atau meninju bibir jeleknya tadi!" desis Sofia berang kala melihat Amanda berhasil mencium bibir suaminya.
"Ahh ya Tuhan ..dia...aahhh wanita kurang ajar!!" lanjutnya lagi saat melihat Amanda akan menyentuh milik suaminya, untung saja Alex datang tepat waktu. Jika tidak maka Sofia pasti akan lebih marah dari pada yang sekarang.
"Sayang maafkan aku." bisik Nando di telinganya lirih.
"Sampai kapan kau akan terus meminta maaf padaku?" ketus Sofia dengan tatapan tidak suka hingga membuat Nando salah tingkah. Ternyata menghadapi wanita yang merajuk lebih susah dari pada menghadapi klien paling ribet sekalipun. Minta maaf salah, tak minta maaf apalagi. Bisa tidak diijinkan masuk kamar dia. Andaipun masa nifasnya sudah usai, tentu langkah lain akan diterapkannya.
"Sampai kau memaafkanku." katanya putus asa.
"Aku tidak akan memaafkanmu."
"Sayang..apa yang kau katakan? aku sungguh tidak melakukan apapun." keluh Nando tak berdaya. Ngeri juga dia saat membayangkan adegan banting-membanting antara istrinya dan Amanda tadi. Masih banyak sisi lain sanh istri yang tidak dia ketahui.
"Aku tidak percaya!"
"Sayang....ahhh...harus bagaimana membuatmu percaya??" kali ini Nando mengacak rambutnya frustasi. Meski mantan duda dia sama sekali tidak tau cara menghadapi wanita karena pernikahannya dengan Emma termasuk pernikahan bisnis yang jauh dari kata perasaan.
Nando berdecak sebal saat Sofia masih saja diam mematung ditempatnya. Tangannya bergerak membuka laci dekat sofa dan mengeluarka pisau tajam dari sana. Sofia memundurkan duduknya hingga menyentuh batasan sofa.
"A..apa...apa yang kau lakukan mas?" tanyanya bergidik ngeri. Pisau itu terlihat sangat tajam dan berkilat dalam genggaman Nando.
"Mas!!" pekiknya kala Nando nekat menurunkan celananya juga ********** hingga belalai gajahnya menyembul bergelantungan, membuat Sofia menutup wajahnya. Tapi tangan besar Nando langsung menurunkannya dan memaksanya menatap padanya.
"Potong saja agar kau percaya jika aku tidak melakukannya pada siapapun selain dirimu. Ini juga bisa membuatmu tidak curiga lagi padaku Sofia. Lakukan!" Nando memaksa tangan Sofia yang gemetaran memegang pisau yang dia ulurkan.
"Sofia lakukan!" Seraya menuntun pisau itu kesana.
"Stop mas!!" Sofia membuang pisau itu sejauh mungkin lalu berdiri memeluk suaminya, menenggelamkan kepalanya ke dada bidang dan hangat seorang Fernando.
"Aku percaya padamu." bisiknya membuat Fernando menghela nafas lega dan mengecup kepalanya penuh perasaan.
"Sofia aku hanya minta percayalah padaku. Suamimu ini bukan tipe pria seperti itu sayang. Yang kuinginkan hanya kau, bukan orang lain. Tetaplah disisiku istriku sayang..aku mencintaimu." Setetes air mata jatuh dipipi Sofia. Membayangkan Nando jatuh cinta padanya saja kadang dia takut akan terluka, tapi sekarang...suami impiannya itu malah mengatakan entah untuk keberapa kalinya padanya.
"Lakukan apapun agar kau....."
''ssttt...aku tau. Dan aku percaya padamu." Sofia menempelkan jari tangannya di bibir Nando, spontan Nando memegangnya dan mencium jemari itu amat lembut.