Dear Husband

Dear Husband
Jose



Sofia terkesiap saat raungan menyedihkan menggema dikamar itu hingga membuat penasaran beberapa penunggu pasien ataupun petugas medis yang kebetulan lewat. Mereka hingga harus melongok kearah jendela yang sedikit terbuka karena penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana. Clara memukul-mukul dada Nando kasar karena merasa tidak terima dengan jawaban pria itu.


"Tidak! kau sudah berjanji padaku dan ayahku Fer. Kau akan menikahiku. Kau harus melaksanakan janjimu. Ceraikan wanita ini!" teriaknya lagi. Nando hanya diam membisu, menerima semua pukulan pada dirinya dan memegang erat kedua tangan Clara. Sigap, dia benamkan tubuh wanita muda itu dalam pelukannya dengan tangisan menyayat hati.


"Kau harus menikahiku Fernando. Harus!" kata Clara diantara ratapannya.Tak ada sahutan. Sofia juga hanya berdiri ditempatnya.


"Aku tidak bisa Cla. Maaf...."


"Kau sudah berjanji Fer..kau harus menikahiku. Demi roh papaku disyurga sana. Kau akan dikutuk jika kau ingkar Fernando."


"Dengar Cla, janjiku menikahimu adalah saat kau hanya sendirian di dunia ini. Tapi sekarang? kau masih punya ibu, kakak, adik dan seseorang yang sangat mencintaimu. Dan jangan lupa..kau punya calon bayi. Kau akan jadi orang tua Cla." Clara menggeleng kuat. Terlihat sekali jika wanita itu frustasi.


"Tidaaakk!!! nikahi aku atau biarkan aku mati saja Fernando."


"Dia tidak akan menikahimu karena aku adalah ayah dari calon bayi dalam perutmu Clara." suara bariton memecah ketegangan. Pria berambut coklat setinggi Fernando dengan kulit pucat memasuki ruangan itu. Dibelakangnya, seorang pria tinggi besar mengikuti langkahnya dan memberi hormat pada Sofia.


"Jose!" desis Clara tak percaya. Berlahan dia melepaskan dirinya dari Fernando.


"Kau...kau yang menghubunginya Fer? kau benar-benar pria munafik. Aku membencimu!!" kali ini Clara menangis lebih kencang dan histeris dari yang tadi. Dia bahkan melempar bantal dan selimutnya sembarangan.


"Bukan aku yang melakukannya Cla.Aku berani bersumpah.”


" Aku sama sekali tidak bisa lagi mempercayaimu Fernando. Kau penghianat."


"Aku yang menelepon tuan Jose dan mengatakan semuanya. Jika kau marah, maka marahlah padaku." ungkap Sofia tegas. Tangan Clara terkepal kuat. Dia akan beranjak dari brangkar dan menyerang Sofia jika Nando tidak menahan tubuhnya.


"Lepaskan aku Fernando! kau dan istrimu sama-sama bedebah!"


"Tenang Cla...diam dan dengarkan aku." redam Fernando ikut berteriak karena kesal. Akhirnya pria ini terbawa emosi juga menghadapi Clara yang keras hati.


"Dia datang untukmu!"


"Bohong!!" dengus Clara penuh amarah.


"ya, Aku datang untuk menjemputmu dan calon bayi kita Cla." Sahut Jose tetap dengan kelembutannya. Air mata berderai dipipi mulus Clara. Bibirnya bergetar kuat entah akan mengatakan apa. Nando mundur dan memberi ruang bagi mereka.


Jose mendekat dan mengenggam jemari Clara yang tiba-tiba berubah sedingin es lalu mengecupnya lembut.


"Cla, maafkan aku yang telah meragukan kehamilanmu. Maaf juga sudah membuatmu depresi hingga lari kesini. Aku hanya terkejut saat itu. Aku tidak menolak kehadiran bayi kita, aku hanya butuh waktu untuk menerimanya." Jangan tanya bagaimana ekspresi Clara saat itu. Wanita itu terus menangis sambil memeluk sang pria yang juga mendekapnya sangat erat.


"Apa...apa kita akan menikah?" tanyanya ragu. Sang pria mengecup keningnya lembut.


"Ya, hari ini juga kita pulang ke Singapura. Ibu dan saudara-saudaramu sudah menunggun kedatangan kita." bujuk Jose pelan. Lama keduanya berpelukan. Jose berulang kali menyeka air matanya. Pria itu sangat bahagia bisa menemukan Clara dan calon bayinya. Jika tidak, maka selamanya dia akan mati dalam penyesalan karena kehilangan orang yang paling dicintainya karena kesalah pahaman semata.


"Terimakasih sudah kembali padaku." katanya disela isakan yang mulai reda. Entah berapa lama wanita itu menangis di dada seorang Jose.


"Kau......" Clara yang masih enggan meyapa Sofia masih sulit mengucapkan kata terimakasih meski itu menyangkut nyawanya.


"Sudahlah. sudah tugasku melakukannya tuan."


" jose...namaku Josep. Kau bisa memanggilku begitu dokter." Jose mengulurkan tangannya menyalami Sofia dan Nando yang langsung memeluknya hangat. Dua pria itu saling menanyakan kabar dan terlibat pembicaran hangat. Rupanya Jose dan Nando teman semasa kuliah dulu, sama seperti Clara.


"Oohh ya dokter, kapan Claraku boleh pulang? Bisakah aku membawanya pulang hari ini?"


"Kau bisa menanyakan pada dokter yang menanganinya nanti Jose. Tapi kurasa belum bisa karen kondisi Clara masih lemah dan belum stabil. jika terus membaik, besok di bisa pulang. Apa kau berencana menginap disini? jika tidak maka aku saja yang akan menungguinya." sahut Sofia kalem. Dari awal dia memang tidak tega membiarkan Clara sendirian disana. Dia bahkan menunggui Clara hingga wanita itu sadar tanpa bergerak dari sana. Bagaimanapun jahatnya mulut wanita didepannya itu, Sofia masih punya belas kasih padanya.


"Jangan Sof, aku yang akan menunggui Clara. Kalian pulanglah. Terimakasih sudah menjaga calon istriku." Jose berkata ramah.


"Kau mengusir kami?" kata Nando dengan wajah dingin.


"Tentu saja tidak tuan muda Hutama. Terus terang aku takut jika kau membatalkan kerja sama kita jika aku engusir partnerku." Suara tawa keduanya terdengar kompak.


"Hmmmm...kalian teruskan dulu ya. Aku akan ICU dulu." Nando mengalihkan pn


andangannya pada Sofia.


"Sayang, bukanya kau sedang menempuh spesialis. Apa kau juga harus tetap masuk kerja?" Wajah Sofia merona. Entah kenapa dia selalu merasa begitu jika Nando memanggilnya dengan sebutan itu walau dia tau Nando hanya bersandiwara didepan orang lain.


"Aku ini pegawai pemerintah mas. Aku harus tetap bekerja walau berstatus residen. Hanya saja jam kerjaku dikurangi, tidak seperti dulu. Aku hanya akan melapor sebentar saja disana karena ini bukan shiftku." jelas Sofia sopan.


"Hmmmm...baiklah. Hubungi aku begitu selesai. Kita akan pulang bersama."


"Tapi mas..."


"Tidak ada bantahan." dan Sofia hanya mengangguk kecil, memberi salam lalu keluar dari sana.


"Sofia." dan Sofia menghetikan langkahnya saat mendengar suara lemah memanggilnya. Dokter cantik itu membalikkan tubuhnya dengan mode slow motion.


"Ya?"


"Terimakasih." Kedua wanita itu saling tatap dalam diam hingga Sofia sedikit berlari kearah brankar dan memeluk Clara yang terduduk disana.


"Lupakan. Sekarang kau harus berjanji akan selalu baik-baik saja. Maafkan aku juga yang pernah salah paham padamu." bisik Sofia.


"Apa kau...mau jadi temanku?" tanya Clara ragu masih memeluk Sofia.


"Tentu saja. Aku akan selalu ada jika kau butuh aku."


"Terimakasih Sofia. Tanpamu aku mungkin sudah kehilangan nyawa."