
Sofia membisu dalam beku. Lidahnya terasa kelu walau hanya untuk menjawab sepatah kata saja. Antara ya dan tidak. Di depannya Bella memandangi wajahnya dengan penuh harapan dan permohonan. Apa maksud dari semua ini? walau di termasuk kategori wanita cerdas dalam bidang akademik, namun dia masih tergolong hijau untuk urusan perasaan dan kehidupan.
"Kak....kumohon...jika bukan demi aku maka anggaplah ini misi kemanusiaan untuk menyelamatkan keponakanku, satu-satunya harapan hidup kakakku." Sofia mengenggam erat kedua telapak tangan Bella yang ditangkupkan kedepan dadanya, tanda dia sangat memohon pada Sofia saat ini.
"Bel, kenapa harus kamu yang memohon padaku? Elle punya papa bukan? kenapa bukan Fernando yang meminta padaku?"
"Karena kak Nandolah yang menyuruhku melakukan semua ini. Dia tidak ingin Elle tau semuanya."
"Seharusnya dia berterus terang padaku sebelum kami sampai kemari." tegas Sofia.
"Kak Nando dibesarkan dalam keluarga milyarder yang tidak pernah memohon pada siapapun kak. Maafkan sikap kakakku. Tapi lepas dari semua itu, percayalah..tidak ada pria sebaik kakakku."
"Bella maafkan aku,tapi selama bukan tuan Fernando sendiri yang meminta padaku....aku tidak mau.Membohongi Elle bukan tindakan bijak."
"Tapi kak...."
"Katakan pada tuan Fernando, aku minta penjelasan darinya sebelum kembali kerumahnya Bel."
"Baiklah kak, tunggu disini..aku akan menemui kak Nando dulu." tanpa menunggu jawaban Sofia, Bella belari kecil melewati jalan setapak yang dibuat begitu apik dengan tatanan batu alam yang di selang-seling disana sini.
Hanya beberapa menit setelah bayangan Belle menghilang dibalik pintu besar,sesosok tubuh tinggi tegap melangkah lebar ke gaxebo tempat Sofia berada.Wajah pria itu dingin dan kaku.Rahangnya mengetat.
"Apa yang ingin kau tau?" tanyanya dingin dengan mata setajam silet.
"Alasanmu menikahiku tentunya tuan Fernando." jawab Sofia tak kalah dingin juga dengan sorot mata menghunus pada Nsndo.
"Karena aku membutuhkanmu untuk berpura-pura menjadi emma. Bukankah Bella sudah menjelaskannya padamu?kurasa kau tidak sebodoh itu dokter. tukasnya tajam.
"Membohongi Elle bukan hal bijak.Masih banyak hal lain yang lebih baik tuan.Kebohongan hanyalah awal kehancuran."
"Tapi berbohong untuk kebaikan itu diperbolehkan oleh agama. Lagi pula kau istriku bukan? artinya kau juga mama Elle walaupun hanya ibu sambung. Apa kau sedemikian tidak punya hati nurani dan sisi keibuan dokter? Elle bisa depresi dan kehilangan hidupnya jika tau Emma telah tiada. Bukankah kewajibanmu juga membantu sesama?"
"tapi bukan begini caranya."
"Banyak jalan menuju Roma.Menyelamatkan mereka bukan hanya saat sakit dan berdarah saja bukan?tapi juga menghindarkan mereka dari sakit mental. Sebutah aku memohon padamu. Bantulah Elle. Selamatkan jiwanya hingga dia bisa melihat kembali. Aku akan berusaha mencarikan donor mata secepatnya agar kau bisa bebas dan kembali ke kampung halamanmu dokter. Aku berjanji akan memberikanmu kompensasi dengan nominal besar untuk itu." ujar Nando sunguguh-sungguh. Sofia menarik sudut bibirnya muak.
"Apa kalian orang kaya selalu mengukur segala hal dengan materi? Apa kalian kira semua hal bisa dibeli dengan uang? kalian menyebalkan!" dengus Sofia berang. Kilatan kemarahan terlihat di bola mata Nando. Kedua tangannya terkepal erat. Seketika Nando menyambar telapak tangan Sofia yang langsung membeku untuk kesekian kalinya. Pria di depannya itu terlihat sangat menakutkan.
Hampir saja Sofia memekik saat tiba-tiba Nando berjongkok di depannya seraya memegang tangannya. Sesaat tuan muda Hutama itu menarik nafas panjang.
"Seumur hidup aku belum pernah memohon pada orang lain. Tapi hari ini, demi putriku yang sudah menjadi piatu...aku memohon padamu dokter Sofia, berpura-puralah menjadi mamanya agar dia bahagia dan kuat menjalani kehidupannya saat hanya kegelapan yang dirasakannya. Sayangi putriku.Aku akan memberikan apapun yang kau minta."
"apapun?"
"ya.Apapun yang kau minta,termasuk nyawaku agar putriku bahagia." ujar Nando sungguh-sungguh. Berlahan Sofia melepaskan genggaman tangan Nando dan menarik pria itu berdiri.
"Berdirilah tuan. Aku tidak pantas menerima semua ini.Baik, aku akan berpura-pura menjadi mama Elle. Tapi aku juga punya permintaan padamu." Nando mengerutkan keningnya.
"Aku masih ingin tetap bekerja."
"Bukankah dari awal aku sudah setuju?"
"Apa pekerjaan Emma dahulu?"
"Dia ibu rumah tangga."
"Kau lupa aku seorang dokter?aku harus ke rumah sakit sesuai jadwalku. Bagaimana kau bisa menutupinya dari Elle? bukankah dia sudah terbiasa dengan mamanya?" Nando terkekeh,membuat Sofia bingung.
"Emma bahkan tidak pernah memperhatikan Elle. Dia sibuk dengan kelompok sosialitanya hingga lupa pada Elle. Gadis itu..betapa dia sangat ingin mamanya menyayanginya hingga terus mengejarnya kemana-mana.Andai aku bisa....."
"Aku cukup paham tuan muda. Baik, aku setuju. Sebaiknya kita masuk dan segera membawa Elle pulang." ujar Sofia tegas. Sedikit kisah tentang Elle sudah membuatnya tau, betapa menderitanya gadis mungil itu. Ada rasa tidak tega disudut hati Sofia. Dia bergegas masuk ke rumah, mendahului Nando yang mengekor di belakangnya.
"Aunty,apa mama akan meninggalkan aku lagi?" tanya Elle saat Bella merapikan rambut pirangnya. Bella hanya terdiam, bingung harus menjawab apa. Sedang dia tau,diluar sana kakaknya tengah menunggu keputusan Sofia.
"Tidak sayang, mama akan tetap menemanimu.Sekarang...ayo kita pulang. Kita sudah lama merepotkan aunty Bella." sergah Sofia dari arah pintu.Langkahnya semakin cepat hingga tiba di hadapan Elle yang di dudukkan dikursi. Wajah gadis kecil itu kembali ceria. Tangannya mencoba meraba kebaradaan Sofia.
"Mama disini sayang." Sofia meraih tangan mungil itu dan menuntunya pada dirinya. Elle memeluknya sangat erat,seolah takut berpisah lagi. Sofia mengelus punggungnya penuh kasih sayang.
"Sekarang kita pulang ya..ucapkan terimakasih pada aunty ya." Elle mengangguk.
"Aunty, terimakasih sudah menjaga Elle ya. Sekarang Elle pulang dulu ya." katanya dengan wajah berseri. Bella seketika memeluk keponakannya itu. Bagaimanapun dia sudah menganggap Elle sebagai putrinya sendiri, seperti Ling-ling.
"Baik-baik dirumah ya sayang. Elle jangan nakal dan manja ya. Kasihan mama, nanti capek ngurusin Elle." nasihat Bella. Tangannya bergerak menyeka air mata yang tiba-tiba terjatuh ke pipinya.
"iya aunty."
"kita pulang!" ucap Nando. Sofia bergegas menggendong tubuh mungil Elle yang langsung memeluk lehernya.
"Kami permisi. Asalamualaikum." pungkas Sofia sambil menjabat tangan Bella. Dia lebih dulu berjalan menuju pintu dan naik ke mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Alex.
"Terimakasih untuk semuanya Bel." lirih Nando. Bella tertawa ringan.
"Sama-sama kak. Tapi perlu kuingatkan satu hal."
"Apa?"
"Kurasa Sofia akan membuatmu terpikat dalam waktu dekat."
"Kau ini ngawur.Dia bukan seleraku."
"Kadang selera manusia bisa berubah kak." goda Bellla lagi. Nando mendengus teramat kesal.