Dear Husband

Dear Husband
Heran



"Maaf saya belum bisa menyerahkan surat persetujuan itu karena belum mendapatkan ijin dari suami saya pak." ungkap Sofia saat sudah duduk berhadapan dengan Shandy diruangannya. Perasaan tidak enak benar-benar menerpa dirinya karena menyampaikan berita itu. Dia takut dianggap tidak bertanggung jawab atau tidak menganggap serius kepercayaan yang diberikan Shandy padanya. Padahal dosen muda itu sudah memilih dia dari sekian banyak mahasiswanya.


"Apa anda masih ada keinginan untuk ikut program itu nyonya Sofia?" tanya Shandy. Tangannya mengetuk-ngetukkan bolpoin hitam yang dipegangnya keatas meja, lirih. Dosen muda itu terlihat sedang menimbang dan memikirkan sesuatu.


"Masih pak. Saya juga ingin lulus lebih cepat." balas Sofia mantap. Lebih cepat lulus lebih baik banginya. Banyak impian yang harus dia wujudkan suatu saat nanti.


"Baik, saya beri anda satu kesempatan lagi. Kumpulkan besok, saya tunggu disini." tegas Shandy. Sofia segera berpamitan dan keluar dari sana. Matahari mulai terik, dia harus segera kembali ke rumah. Tugasnya tinggal meminta ijin pada Fernando agar pria itu mau menanda tangani surat ijinnya. Dia yakin itu bukan hal sulit karena selama ini Nando tidak pernah ingin tau dengan kehidupan pribadinya. Pasti pria itu akan menyetujuinya tanpa bertanya dua kali.


Langkah penuh semangat Sofia membawanya keluar kampus. Dia akan ke rumah sakit dan berada disana hingga menjelang maghrib. Belum ada jadwal tetap baginya semenjak kembali kuliah.


Senja menjemput malam, taksi online yang dia pesan sudah menunggu di pintu gerbang rumah sakit. Wajah sedikit kusam membuat Sofia terlihat lelah. Dia memang lelah sore itu hingga langsung ingin pulang dan merebahkan dirinya dikasur sambil menunggu Nando pulang.


Memasuki halaman rumah mewah berlantai dua milik pribadi Fernando, Sofia disambut ramah dua orang pengawal yang sedang bertugas dengan hormat, begitu juga Maria yang sore itu berada diteras yang sedang bercengkrama dengan tukang kebun baru mereka. Terlihat dia masih memegang nampan , mungkin baru saja mengirim kopi atau makanan kecil dipos jaga. Sofia mengangguk dan tersenyum ramah membalas sapaan mereka.


"Apa tuan sudah pulang Maria?" tanyanya pelan sembari memasuki pintu rumah, Maria yang lalu menutupnya.


"Belum nyonya." Sudah dia duga. Mobilnya belum ada, demikian juga mobil pengawal yang biasanya membuntutinya meski ada sekretaris Alex dan sopir yang selalu bersamanya. Kadang Sofia heran, seberapa kaya suaminya itu hingga harus dikawal laksana seorang jendral dan pejabat besar?


"hmmm baiklah. Aku akan pergi mandi dulu Maria. Sebentar lagi maghrib."


"Baik, silahkan nyonya. Maaf, apa nyonya berkenan makan malam setelahnya?"


"Nanti saja. Aku akan menunggu tuan pulang." Maria undur diri saat Sofia sudah naik tangga menuju lantai atas.


Detik demi detik berlalu, menit demi menit berganti, hampir jam 9 malam saat Sofia terjaga dari tiduran yang membuatnya benar-benar tertidur selepas sholat maghrib tadi. Tenggorokannya terasa kering kala dia memutuskan turun ke dapur. Dia butuh minum air hangat juga bertemu Nando untuk bicara.


"Selamat malam nyonya." Bi Lani yang masih di dapur menyapanya.


"Ehmmm malam juga bi. Kenapa belum tidur?" balas Sofia sambil menuangkan air hangat digelas besar.


"Saya menunggu anda nyonya. Anda belum makan malam. Apa anda mau makan malam sekarang nyonya? akan saya siapkan."


"Apa mas Nando sudah pulang?" mata Sofia celingak-celinguk menatap sekelilingnya yang selalu telihat sepi. Ada atau tidak ada Fernando, rumah itu memang selalu sepi. Apalagi jika Elle menginap dirumah Bella seperti sekarang.


"Nanti saja bi, saya akan menunggu mas Nando pulang."


"Tapi nyonya....." seketika wajah bi Lani mendung. Sofia yang ada didepannya langsung tanggap jika ada sesuatu pada diri pelayannya itu.


"Ada apa bik?"


"Tuan melarang saya tidur jika anda belum makan."


"hmmm saya kira ada apa. Tidak usah menunggu saya makan bik. Tidur saja. Toh mas Nando tidak akan tau."


"Ada cctv dirumah ini nyonya. Bagaimana saya bisa berbohong? saya takut dipecat. Tolong makanlah agar saya bisa cepat istirahat nyonya." bujuk bi Lani sopan. Sofia baru ingat jika sekarang dia ada dirumah mewah yang punya cctv disetiap sudutnya, bukan dikampungnya. Ditatapnya bi Lani yang masih menunggu jawabannya penuh harap. Mau tidak mau Sofia menurut. Dia merasa kasihan pada wanita itu jika tidak bisa segera istirahat. Padahal besok dia harus bangun pagi-pagi untuk bersih-bersih dan membantu rekannya memasak. Bik Lani dan bik Mimi adalah paket komplit. Kakak beradik yang bekerja saling bantu dengan solid meski bi Mimilah yang ditunjuk jadi juru masak dirumah itu.


"Lodho?" bik Lani yang baru saja menghidangkan makanan mengernyit mendengar perkataan sang majikan.


"Lodho?" ulangnya bingung dengan logat dan cara baca yang lucu. Sofia hampir tertawa mendengarnya.


"Maksud nyonya makanan ini?"


"Ya, ayam panggang berkuah pedas dan kental seperti ini adalah makanan khas didaerah saya bik. Namanya lodho. Biasanya dimakan dengan nasi uduk dan urap seperti ini. Dari mana bi Mimi tau kalau saya suka ini? hmmm.… rasanya pas banget dengan selera saya bik." Sofia begitu menikmati makan malamnya. Kerinduannya pada sang ibu dan keluarga dirumah sedikit demi sedikit terobati.


"Kak Mimi mendapatkan resepnya dari tuan."


"Tuan? mas Nando maksudmu??"


"iya nyonya. Tuan memberi kami resep itu juga daftar hidangan yang harus kami masak untuk anda." Sofia masih diam. Dia banyak fokus pada makanan didepannya dan mempersilahkan bi Lani istirahat lebih dulu. Perutnya terlalu kenyang untuk langsung tidur. Lagi pula dia masih harus bertemu Nando. Sofia memutuskan untuk menunggu di sofa sambil menyalakan tv. Faktor lelah dan kekenyangan membuatnya lekas tertidur tanpa mematikan televisinya.


Hampir tengah malam saat mobil mewah Nando memasuki halaman. Seorang penjaga membukakan pintu mobil untuknya karena malam itu sang majikan menyetir sendirian. Tanpa banyak kata, Nando membuka pintu rumah dan masuk. Mata elangnya memincing saat melihat tv yang masih menyala. Pria itu mendekat.


Senyum tipis menghiasi bibirnya saat tau sang istri tengah terlelap disana. Sigap dia mematikan tv lalu mengangkat tubuh semampai itu kekamar utama dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin Sofia terjaga dan tau jika dirinya yang membawa sang istri ke atas. Nando ingin menghindar. Terlalu banyak pertimbangan pada dirinya.


Lembut dia menarik selimut menutupi tubuh sintal berbalut baju tidur itu hingga sebatas dada. Sebuah kecupan dia sematkan dikening wanitanya, lama. Ada sorot sendu dibola matanya lalu dia bergegas pergi dan menutup pintu kamar rapat setelah mematikan lampu besar diruangan itu.