
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Sofia. Reaksi wajar jika seseorang sedang terkejut pada suatu hal. Di depannya, Fernando masih menatapnya lekat. Betapa kontras mereka berdua jika dilihat dari dekat. Si pria dengan kulit putih dan wajah kebuleannya dan si wanita dengan kulit kuning langsat dan wajah pribuminya.
"Jawab aku Sofia.β tekan Nando setengah memaksa.
" Aku harus menjawab apa mas? kita sudah menikah karena kemauanmu. Kau juga tidak mau menceraikan aku. Apa yang bisa kulakukan selain menunggumu bosan lalu menceraikan aku? minimal hingga Elle tau aku bukan ibunya lalu menyuruhku pergi dari sini." bisikan yang nyaris dipenuhi ketegasan hakiki.
"Itu tidak akan pernah terjadi Sofia. Tidak akan pernah ada rasa bosan dalam diriku. Elle juga tidak akan melakukan apa yang kau bayangkan. Dia putriku, aku lebih tau sifatnya dari padamu." Bantah Nando tegas. Elle memang sangat mirip dirinya saat bersikap atau mengambil keputusan. Walau masih usia anak-anak, namun darah Hutama sudah mengali ditubuhnya. Darah seorang pemimpin yang tegas dan matang.
"Kau terlalu percaya diri tuan Fernanndo." sindir Sofia pedas dengan mata tak lepas dari sosok di depannya. Mata mereka bertemu.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan." tawar Fernando mencoba mencairkan suasana.
"Apa?" jiwa ingin tau Sofia meronta. Seorang tuan muda yang bisa membuat segala hal berjalan sesuai keinginannya ingin membuat kesepakatan? bukankah ini hal langka bagi seorang Sofia?
"Kau akan tetap menjadi istriku, menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Kita akan merawat dan membesarkan Elle bersama sebagai orang tua ideal dan sebagai gantinya, aku akan mencukupi kebutuhanmu dan seluruh keluargamu asal kau juga menjadikan aku satu-satunya lelaki dalam hidupmu." Lagi dan lagi Sofia termenung dalam diam. Bayangan kedua orang tua dan adik-adiknya melintas. Sikembar butuh kuliah tahun depan. Hal yang akan sulit dilakukan orang tuanya. Walau Sofia sudah bekerja, namun dia tidak yakin bisa membiayai kuliah kedua adiknya secara bersamaan. Itu hal yang berat baginya disatu sisi dia sangat ingin adik-adiknya mewujudkan mimpi mereka.
" Bagaimana dokter?β' netra itu masih menatapnya lekat. Pikiran Sofia kembali bercabang kemana-mana. Dia bisa bekerja keras dengan bergabung dibeberapa rumah sakit atau membuka praktik sendiri untuk mencukupi biaya pendidikan si kembar. Tapi apa dia punya banyak waktu untuk itu?
"Apa aku bisa menjawab tidak dalam posisiku sekarang tuan Fernando? kau bahkan sudah mengalahkan aku sebelum aku berperang." sahutnya lirih, dengan pikiran yang berkecamuk. Dia memang sudah masuk kedalam perangkap Fernando sekarang.
"Good. Artinya kau setuju! Mulai sekarang kau adalah nyonya rumah ini. Kau berhak melakukan apapun. Memecat dan mempekejakan siapapun yang kau mau, menata rumah ini sesuai keinginanmu, dan aku tidak akan mencampurinya. Tiap bulan keluargamu akan mendapatkan uang untuk kebutuhan mereka. Dan kau juga akan tetap mendapatkan hakmu juga Seluruh kendali rumah ini ada padamu." Sofia hanya menatap takjub pria di depannya itu. Apa dia tidak salah dengar?
"Kurasa itu tidak perlu. Aku bukan tipe wanita arogan seperti itu." balas Sofia datar. Bagaimana bisa dia bersikap seangkuh itu jika dia juga pernah merasakan menjadi bawahan? dia tidak akan setega itu.
"Kau tau kenapa aku memilihmu menjadi nyonya muda Hutama dokter?"
"Karena Elle." balasnya malas. Tanpa diingatkanpun dia tau posisinya.
"Hanya salah satunya. Tapi sejujurnya aku memilihmu karena sikap tegas dan kepedulian pada orang lain yang ada pada dirimu. Kau wanita yang menggunakan logika, tapi tetap menggunakan naluri. Perpaduan sempurna untuk mendampingku. Aku yakin kau juga sosok ibu yang kuat untuk melindungi anak-anakku Sofia."
"Anak-anak?" beo Sofia seperti orang bodoh. Bukankah kata anak-anak adalah jamak yang berati lebih dari satu? apakah itu berarti Nando menginginkan anak lain yang hadir diantara mereka?
"ya. Anak-anak kita nanti."
degg....
"kita?"
"Ya. Anakku dan anakmu. Anak kita." mata Sofia terbelalak lebar.
"ini bukan saat yang tepat untuk bercanda mas."
"Mungkin tidak sekarang, kau dan aku butuh waktu untuk bisa saling menerima. Tapi selama masa itu, kita akan menjadi orang tua yang baik untuk Elle."
"Apa kau pernah berpikir jika permintaanmu ini sangat egois mas?" desis Sofia pelan sambil menundukkan kepalanya, mencoba menghindari Nando. Dia sangat risih karena posisi mereka sedekat itu
"Mama....kau dimana?" suara serak Elle membuat keduanya terkejut. Nando manautkan keningnya dengan kening Sofia sesaat sebelum Sofia melepaskan diri secepat yang dia bisa dan bergerak mendekati Elle yang sudah terduduk di tempat tidur.
"Mama disini sayang." jawabnya seraya meraih tangan Elle yang terjulur ke depan mencoba menggapainya.
"Elle mau pipis, ma." Tanpa menunggu, Sofia membantunya berjalan ke kamar mandi dan menghilang disana, menyisakan Nando yang tersenyum getir di sofa.
"Sudah selesai El?" tanya sang tuan muda saat melihat putrinya muncul diambang pintu kamar mandi mereka.
"Sudah pa. Terimakasih mama."
"Sama-sama sayang." Sungguh keluarga yang sangat santun dan penuh kesopanan hingga mereka mendidik bocah seusia Elle untuk tetap rendah hati dan mengucapkan terimakasih pada siapapun. Berulang kali juga Sofia mendengar putri sambungnya itu mengucapkannya pada pelayan dan para penjaga dirumah besar mereka.
"Elle mau tidur lagi?" Tak dinyana Elle menggelengkan kepalanya dan malah duduk ditengah ranjang.
"Papa mama kenapa belum tidur?"
"ehhmm...papa baru saja menyelesaikan pekerjaanya sayang. Dan mama..."
"Mamamu menemani papa minum kopi di sofa. Sekarang Elle tidur lagi ya. Ini belum tengah malam princess." Nando meraih kepala putri kesayangannya dan mengecupnya penuh kasih sayang.
"Lalu kalian..."
"kami akan menamanimu." jawab keduanya hampir bersamaan. Untuk sesaat keduanya saling pandang karena sedikit terkejut. Tapi beberapa detik kemudian, Sofia dapat menguasai diri dan membuang pandangan ke arah lain.
Kali ini Elle mengangguk senang seraya meraih tangan dua orang dewasa berbeda gender diranjang itu lalu menyatukannya diatas perut kecilnya, saling mengenggam. Senyum bahagianya terbit. Hanya Sofia saja yang salah tingkah, sedang Nando? pria itu malah memasang wajah datarnya seolah itu hal biasa saja dalam hidupnya.
*********
Hai readers....maafkan author yang baru menyapa kalian pada part ini ya....
Maaf jika author belum bisa up setiap hari seperti keinginan kalian karena kesibukan mencari segengam beras dan sebongkah berlian untuk sikecil. Tapi saya akan berusaha up secepat mungkin agar kalian tidak terlalu lama menunggu.
Terimakasih atas kritik,saran dan jejak yang sudah kalian tinggalkan dalam novel saya. I love U allπππππ