Dear Husband

Dear Husband
Alibi



Fernando membuka brankas disudut ruangan. Dia mengambil setumpuk uang dan menutupnya kembali.


"Ambil.” katanya seraya mengulurkan tangannya. Sofia meraihnya dengan hati-hati. Dia tidak tau berapa jumlahnya. Yang pasti tangannya sedikit bergetar saat menerimanya.


" Seratus juta, ambillah." tegas Nando seakan mengerti arah pikiran Sofia.


"Ini terlalu banyak. Aku hanya minta setengahnya saja." Sofia mengembalikan setengah uang itu ketangan Nando, namun pria itu bersikeras mengembalikannya.


"Ambil untuk keperluanmu. Kau perlu banyak tenaga dan uang untuk melawan tiap debu yang akan mengotori matamu nantinya."


"Jika debu itu benar-benar mengotori mataku, aku percaya kau akan datang untuk meniupnya sebelum dia membuatku menangis.” tegas Sofia. Fernando tersenyum tipis.


" Aku lebih percaya bahwa kau bisa menghilangkanya sendiri tanpa campur tanganku dokter. Karena menjadi nyonya Hutama tidak mudah, kau harus cukup tangguh untuk menyingkirkan debu dan kerikil tajam yang berada disekeliling suamimu ini." Wajah Sofia menghangat. Apa ini berarti jika Nando akan tetap memegang janjinya untuk tidak akan pernah menceraikannya? apa sekarang dia sudah boleh berharap lebih?


"Apa itu berarti jika aku boleh menyingkirkan debu itu dari rumah ini?" tanyanya hati-hati. Sofia sadar sepenuhnya posisi realnya dirumah ini. Dia juga tidak tau pasti seperti apa hubungan antara Nando dan Clara. Dokter cantik itu takut salah berucap


"Lakukan apapun yang menurutmu benar karena kau nyonya dirumah ini."


"Termasuk jika debu itu sudah kau bawa masuk ke kamar kita? kadang aku heran, apa sudah tidak ada tempat lain dirumah ini selain kamarmu tuan muda? sebejat itukah moralmu hingga membawa wanita lain menginap disini sekian lama?" Sofia tidak bisa menyembunyikan perasaan marahnya lagi. Wanita mana yang tidak marah saat ada orang lain masuk ke kamar pribadinya? suatu penghinaan yang menyakitkan.


"Kau terdengar seperti wanita yang cemburu Sofia. Katakan saja jika kau mulai mencintaiku." Nando malah mulai terkekeh geli dengan senyum yang menyebalkan. Wajah tampannya tampak menggoda.


"Aku tidak tertarik pada pria yang suka berselingkuh." katanya tajam. Wajah cantiknya kembali mengeras.


"selingkuh? apa kau menuduhku nyonya muda Hutama?"


"Bukan tuduhan, tapi kenyataan. Apa namanya membawa wanita lain masuk ke kamarnya jika bukan selingkuh?"


"Tapi aku tidak melakukannya Sofia."


"Kau perlu alibi untuk itu tuan muda." tegas Sofia makin tak mau kalah. Nando mengeram kesal. Baru kali ini ada orang yang berani melawannya, apalagi dia wanita. Dia lupa jika dimanapun seorang pria akan takhluk dibawah kerling wanita, ratu rumah tangga.


"Ikut aku!" Nando menarik lengan Sofia dan membawanya memasuki pintu lain disana. Sebuah kamar tidur lengkap dengan kamar mandinya. Walau ukurannya lebih kecil, tapi tempat itu didesain nyaman dengan sebuah almari dan sofa empuk disana. Sebuah jendela besar menghadap ketaman menampakkan kilau cahaya senja yang indah.


"Lihat baik-baik Sofia." Nando membuka lemari, kamar mandi dan keranjang pakaian kotornya yang berisi beberapa pakaian. Selimut habis pakai dan sprei teronggok disana karena barusan diganti. Sofia tau suaminya adalah tipe pria bersih yang tidak suka bau tertinggak ditempat tidur. Sebuah bathroop dan handuk juga menggantung disana.


"Kau...tinggal disini mas?" tanyanya ragu sambil terus meneliti isi kamar dan merapikan sprei yang masih berantakan ujungnya karena belum selesai dipasang.


"Seperti yang kau lihat."


"Sejak kapan?"


"Maaf." bisiknya pelan. Sofia hampir saja berteriak kaget saat tangan Nando sudah menjangkau tubuhnya dari belakang dan menyandarkan kepalnya di bahunya. Entah sejak kapan jilbab yang dikenakan Sofia tersingkap, memperlihatkan leher jenjangnya yang berlahan memutih karena perawatan rutin. Bibirnya dengan nakal mengecupi leher dan belakang telinga Sofia intens hingga membuat dokter cantik itu merinding.


"Lepaskan aku mas." Sofia berusaha berontak dari pelukan Nando, namun sia-sia. Cengkeraman pria itu makin erat. Lengannya juga melingkar posesif di pinggangnya.


"Mas aku harus pergi."


"Kau mau kemana?" Nando menghentikan gerakan Sofia yang akan memutar tubuhnya untuk pergi dari sana.


"Aku harus kekamar Elle.Dia butuh penanganan karena debu yang kau bawa masuk ke rumah ini sudah membuatnya dehidrasi." Nando mencekal lengan Sofia.


"Apa terjadi sesuatu pada Elle?"


"Aku sudah memberikannya suntikan pereda nyeri dan demam. Kau jangan khawatir."


"Kita kesana sekarang."


"Biar aku saja. Kau bukannya mau bekerja?"


"Apa aku terlihat sibuk?" Sofia mengedarkan pandangannya dipenjuru ruangan. Mata coklatnya menatap sesuatu. Ya, suaminya itu barusan mandi karena rambutnya yang masih terlihat basah. Sebuah handuk menyampir asal dikursi kerjanya. Mungkin karena dia tergesa-gesa membuka pintu tadi. Sofia juga baru sadar jika Nando hanya mengenakan celana pendek dan kaos santai dengan bau sabun menguar dari tubuhnya. Kenapa? kenapa wajahnya terlihat berpuluh-puluh kali lebih tampan sekarang? Wajah Sofia bersemu merah.


"Katakan dulu kau percaya padaku." desis Nando di telinga kanannya. Tak aa jawaban hingga Nando merasa gemas dan memutar tubuhnya. Sebuah ciuman lembut berlabuh dibibirnya. Sangat lembut hingga Sofia tak kuasa menolaknya. Malu-malu dia mencoba sesekali membalasnya. Nando yang merasa mendapat lampu hijau berlahan menjatuhkan tubuh Sofia dan menindihnya dikasur. Pria itu membuka jilab dan kancing atas Sofia hingga dua gundukan di dadanya yang berbalut bra warna hijau menyembul jelas seakan menantang Fernando yang tanpa malu-malu sudah meremas-remasnya pelan. Bibirnya juga sudah berpindah menghisap puncaknya lembut namun lama-lama menjadi kuat dan menuntut karena erangan yang lepas dari bibir Sofia yang lolos tanpa sadar. Nando melirik wajah wanitanya memerah dengan nafas tak beraturan. Senyumnya merekah.


" Mas, lepas. Aku..aku belum mandi. Aku...juga harus merawat Elle." bisiknya lagi. Sepertinya Sofia sudah mendapatkan separuh kesadarannya setelah sekian menit terbuai oleh cumbuan panas Nando. Pria itu menghentikan kegiatannya dan menarik tubuhnya keatas, menjajari Sofia yang masih telentang dengan nafas terengah. Tanganya masih sibuk memilin ****** yang berdiri tegak disana.


"Katakan dulu kau percaya padaku sayang." bluuus...wajah cantik itu kembali memerah. Sayang? sepertinya panggilan itu begitu disukainya namun membuatnya malu.


"Aku tidak akan melepasmu sebelum kau mengatakanya."


"A..aku percaya padamu. Sekarang lepaskan aku mas." katanya terbata. Nando mencium keningnya lembut, membuat Sofia memejamkan matanya, meresapi kelembutannya.


"Jangan pernah menuduhku selingkuh karena aku membenci perselingkuhan apalagi diselingkuhi sayang. Menjadi istriku, artinya kau harus percaya padaku." desisnya jelas ditelinga Sofia.


"Selamanya aku tidak akan menjadi istri sesungguhnya bagimu karena aku bukan seleramu bukan?" sindir Sofia keras. Amarahnya kembali membuncah saat ingat ucapan Nando padanya. Harga dirinya terinjak.


"Kau memang bukan selaraku Fi, tapi apa yang bisa kulakukan jika aku membutuhkanmu."


"Sebagai istri formalitas."


"Bukan....sebagai belahan jiwaku dan ibu dari anak-anakku."