
Ramai lalu lalang calon penumpang terdengar sedikit berisik ditelinga Sofia. Ada kelegaan tersendiri saat jemari halusnya memegang tiket bus malam ke Surabaya. Ya, dia ingin pulang. Kerumahnya, tempat terindah dalam hidupnya. Tempat paling penuh kasih sayang dan cinta.
Beberapa menit kemudian, bus yang akan dinaikinya datang beberapa menit kemudian. Bergegas diraihnya kantong plastik berisi roti basah dan minuman yang sempat dia beli tadi di warung dekat agen bus. Sofia bergerak mencari tempat duduk.
Dia yang sudah tidak ada selera makan memaksakan diri mengisi perutnya dengan makanan hangat dan membeli roti dan minuman itu untuk berjaga-jaga jika perutnya kembali lapar nantinya. Ada kehidupan lain yang harus dia jaga. Sofia mengelus perutnya penuh kasih sayang.
"Sayang..kita temui kakek dan nenek kamu ya? Kita akan mulai hidup baru disana. Mama janji akan menjagamu dengan baik." bisiknya seraya menyeka air mata yang turun membasahi pipinya.
"Permisi." Seorang wanita berambut pendek mendudukkan dirinya disamping Sofia dan tersenyum sopan. Dia meletakkan tas punggungnya dilantai bus.
"Mau ke Surabaya juga mbak?" tanya Sofia basa-basi. Wanita disebelahnya itu terlihat ramah dan cantik. Tubuh tingginya begitu serasi dengan bentuk ideal. Lihat saja celana bahan dan kemeja katun warna putihnya yang melekat pas di tubuhnya menambah kesan gagah namun manis.
"Iya nyo...ehh mbak. Maaf, saya terbiasa memanggil majikan saya di tempat kerja." balasnya hangat.
" Mbaknya kerja dimana?" sebenarnya Sofia bukan tipe wanita kepo yang serba ingin tau, tapi aura hangat wanita di sebelahnya itu membuatnya ingin sedikit berbasa-basi. Jika benar wanita tadi menuju Surabaya, maka bebrapa jam kedepan mereka akan tetap duduk bersama. Tak ada salahnya jika mereka sedikit bercakap bukan? Lagi pula dirinya bukan wanita sombong yang tidak mau menyapa orang lain.
"Saya staf di perusahaan asing mbak." jawabnya singkat. Senyum manis tak pernah pudar dari wajahnya yang mungkin seumuran dengan dirinya.
"kenalkan, saya Sofia." wanita itu menjabat tangan Sofia hangat.
"Saya Theresa. Mbak asli Surabaya?"
"Tidak, saya dari daerah X. Masih lumayan jauh dari bandara. Mungkin sekitar 4 jam dari sana." terang Sofia. Wanita bernama Theresa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tangannya membuka aplikasi ponsel dengan lincah lalu menutupnya.
"Mungkin kita searah mbak. Saya mau ke kota Y."
"Asli sana?"
"Bukan. Hanya berkunjung ke rumah saudara."
Pembicaraan mereka terus berlanjut hingga kantuk menyerang Sofia. Bertemu orang seperti Therese sedikit membuat hatinya bahagia. Setidaknya dia bisa sedikit melupakan beban hatinya. Theresa wanita dewasa yang punya pengetahuan luas dan rebdah hati. Dia juga tak sedikitpun ingin tau urusan pribadinya. Theresa sudah membuatnya nyaman. Itu sebabnya Sofia tak ragu tidur disampingnya karena kelelahan.
Theresa membangunkan dirinya saat tiba di rest area, menanyakan apa dia ingin sesuatu atau tidak. Tapi Sofia menolak dan tetap melanjutkan tidurnya hingga pagi menjelang. Bus sudah mulai mendekati Surabaya. Tak ada yang Sofia siapkan untuk dibawa turun karena memang dia tidak membawa apapun kecuali tas kecilnya. Hanya selimut tebal milik Theresa yang dia siapkan untuk dikembalikan. Semalam Theresa memaksa Sofia memakainya karena hawa dingin bercampur Ac membuatnya membeku. Ahh..Theresa benar-benar baik hati.
"Mbak, kita pulang bersama saja. Aku dijemput saudaraku. Nanti saya antar mbak pulang lebih dulu."
"Tidak usah mbak, saya naik taksi online saja." Sofia tak enak hati. Therese sangat perhatian padanya.
"Apa mbak tidak percaya pada saya?"
"Bukan itu maksud saya mbak, tapi saya takut merepotkan."
"Sudahlah.Ayo! Itu kakak saya datang." tanpa basa-basi Theresa menarik tangan Sofia agar mengikutinya menuju mobil hitam yang baru memasuki area parkiran. Sedikit ragu Sofia naik kursi tengah, sedang Theresa duduk disebelahnya. Sofia sedikit tersenyum kaku saat melihat wajah pria seusia suaminya mengemudikan mobil itu. Wajahnya memang mirip Theresa.
Beberapa jam berjalan, mereka memasuki kawasan tempat tinggal Sofia. Hamparan sawah dan kebun tebu menjadi pemandangannsepanjang jalan. Sofia yang begitu rindu akan kampung halamannya serasa menemukan harapan baru hingga tidak sadar jika dirinya sudah sampai di depan rumah tepat jam 12 siang, saat matahari sedang terik-teriknya.
"Kalian tau rumahku?" tanyanya kaget. Rumahnya terlihat lengang walau pintunya terbuka. Tentu jam segini ayahnya belum pulang. Hanya ibunya yang ada di rumah.
"Asalamualaikum." ucapnya lembut.
"Walaikumsalam."
Deg...
deg .... .
deegggh...
Suara itu??..
"Kalian terlambat tiga puluh menit." sergah suara bariton itu tegas hingga membuat Theresa dan kakaknya menunduk.
"Maafkan kami tuan muda." balas keduanya berbarengan. Jantung Sofia juga serasa keluar dari rongga dadanya karena sang suami, Fernando sudah duduk santai disamping ayahnya, menikmati kopi hitam buatan ibunya.
"Hmmm.. .istirahatlah."
"Baik tuan muda." lalu keduanya berlalu menuju mobil di halaman. Fernando bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Sofia. Pikiran Sofia menerawang. Pasti Nando sudah menceritakan semuanya pada ayahnya. Mungkin dia ingin mengembalikan anak gadis yang telah gagal ini pada ayahnya. Dia hanya tinggal memasrahkan diri pada nasib.
"Sayang apa kau lelah? kenapa kau sangat keras kepala hem??" ujarnya sambil mengelus lembut kepala Sofia yang terbungkus jilbab hijau daun.
Apa????....apa yang pria ini bilang??? Dia seolah tak merasa berdosa. Lihatlah dirinya yang sudah membawa Sofia kedalam pelukannya dan mengecup keningnya tanpa rasa malu di depan ayah mertuanya. Jantung Sofia bertalu.
"Fi, lain kali jangan bikin suamimu kerepotan lagi. Nyidamnya jangan yang aneh-aneh. Pakai ingin naik bis malam-malam dan tidak mengijinkan suaminu ikut. Kau pikir nak Nando tidak bingung apa? Bis yang kau tumpangi bahkan dikawal beberapa pengawal sampai ke sini. Belum lagi suamimu harus mengambil penerbangan pagi buta agar sampai lebih dulu darimu. Owalah nduk, kalo nyidam itu mbokyo yang mudah-mudah saja." gerutu ayahnya sedikit kesal. Baru saja Sofia ingin membuka mulut untuk menjelaskan duduk perkaranya, sebuah lengan kekar merengkuhnya.
"Tidak apa ayah, demi calon anak kami, apapun akan saya lakukan."
"Maafkan Sofia ya nak."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan yah, hmmm...apa boleh saya bawa Sofia istirahat? Sepertinya dia lelah."
"Ohh ya, tentu saja nak. Bawa istrimu ke kamar. Dia terlihat bingung. Pasti kelelahan."
"Baik yah. Kami ke kamar dulu." Nando segera menarik tangan Sofia lembut dan menuntunnya ke kamar.
"Mas, apa maksud semua ini?" tanya Sofia tak mengerti. Yang dia lakukan adalah menjauhi Nando dan memulai hidup baru. Tapi kenapa pria ini malah menyusulnya kemari?
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Selamat malam readers...
Bab ini sudah saya up jam 7 malam, tapi tetap riview hingga jam 10, nggak tau kapan lolosnya. Selagi menunggu, yuk mampir ke novel baru, tapi mesti sabar ya, soalnya authornya lagi sibuk nyari rejeki di dunia nyata. Jangan lupa mampir dan beri dukungan yaa....Love uuuuuu😘😘😘