Dear Husband

Dear Husband
Ku tak bisa



Hampir jam sembilan malam saat Fernando memasuki kediaman Hutama. Kepalanya celingak-celinguk mencari sesuatu. Tak ada siapapun dilantai bawah, walau semua lampu masih menyala. Seketika dia kembali membalikkan badannya.


"Apa nyonya sudah pulang?" tanyanya pada bi Mimi yang baru saja mengunci pintu.


"Sudah dari tadi sore tuan muda. Beliau sedang menidurkan tuan kecil." jawab sang pembantu amat sopan.


"Lalu Aldi?"


"Tuan Aldi sedang istirahat di kamarnya."


"Ya sudah, istirahatlah."


"Baik tuan, saya permisi." Bi Mimi segera memberi hormat lalu berlalu memasuki lorong yang menghubungkan rumah utama dengan kamar para pekerja di belakang sana.


Nando menghentikan langkahnya dan berpikir sejenak. Tidak biasanya istrinya tidak menyambut dia pulang. Biasanya dia akan turun sambil menggendong Rafael untuk menyambutnya walau putra mereka baru akan tidur seperti sekarang. Tak mungkin Sofia tidak mendengar bel yang bergema nyaring dirumah megah itu.


Sedikit berlari kecil, Nando menaiki tangga menuju kamarnya. Dia membuka pintu dalam ketukan kedua. Disana, Sofia sudah duduk anggun di sofa besar kamar mereka sambil memangku Rafael yang telah lelap. Nando sama sekali tak mendekat, dia memilih masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Tak lama, sang tuan muda keluar dengan kimono mandinya. Dia melirik setelan baju rumahan yang disiapkan sang istri untuknya lalu berganti pakaian cepat. Netra birunya menangkap sosok Sofia yang sepertinya menunggunya di sofa.


"Ada yang ingin kau tanyakan?" lirih Nando menatap Sofia lalu mengambil tempat duduk di sisinya.


"Dari mana saja?" tanya wanitanya amat dingin namun diiringi tatapan tajam yang mengguris sukma.


"Mancing." jawab sang tuan muda tak kalah datar.


"Tak memberi kabar dan meninggalkan ponsel dirumah?"


"Sudah kubilang aku pergi mancing. Kalau bawa ponsel dan jatuh di air bagaimana?" Protes Nando membela diri. Itu memang alasannya tak ingin membawa ponsel tadi.


"Sejak kapan tuan muda keluarga Hutama takut ponselnya jatuh? kau bahkan tidak akan jatuh miskin karena kehilangan sebuah ponsel. Kudengar harta keluarga kalian bahkan bisa membeli seluruh pabriknya sekalian. Atau jangan-jangan kau pergi berkencan dengan Delia hingga tak mau kuganggu?" kata Sofia pedas dengan wajah masam. Senyum Nando melebar. Rupanya istri cantiknya sedang cemburu padanya.


"Alasan!" sentak Sofia kesal. Wajahnya melengos kecewa. Nando yang menatap istrinya dilanda rasa marah mendekat, mengenggam jemarinya lembut.


"Tatap aku sayang." pintanya lirih. Sofia berlahan berpaling padanya dengan wajah cemberut.


"Sofia dengar...aku pergi memancing dengan Alex karena dia juga ditinggal sendirian dirumah oleh mom, dad, Bella dan anak-anak ke taman bermain. Mereka semua berlibur." Alex? dia bahkan baru tau jika Nando pergi dengan Alex.


"Itu semua salah Alex yang tak ikut dengan mereka." tukas Sofia amat ketus.


"Bagaimana jika posisi Alex sama sepertiku? Istrinya bahkan tak mengajaknya ikut." terang Nando dengan suara lemah. Sofia berlahan menundukkan wajahnya. Merasa bersalah. Sejak bertemu Aldi dia jadi lupa keberadaan Nando. Fokusnya hanya pada adik dan putranya saja. Dia juga tak mengajak suaminya itu bergabung meski dia tau Nando ada di rumah. Dia bahkan merampas waktu kebersamaan anak dan suaminya tanpa sadar.


"Hubby maafkan aku." kata Sofia nyaris berbisik. Dia sama sekali tak punya keberanian menatap wajah Fernando. Lagi-lagi Nando maraih kedua pipinya, memaksanya menengadah menatapnya.


"Kau sama sekali tidak salah Sofia. Aku amat maklum dengan keadaanmu, maka itu aku memberi ruang bagi kalian melepas rindu. Dan jika kau menuduhku berkencan dengan Delia maka kau harus tau...dia bukan tipeku. Aku tidak akan membuang sebuah berlian demi menukarnya dengan kerikil tajam dijalanan."


"Kau lupa pernah mengatakan hal itu sebelumnya padaku mas?" tanya Sofia dengan mata nanar.


"Mengatakan apa?"


"Jika aku juga bukan tipemu!" kali ini Nando tersenyum getir. Dia ingat tentang apa yang dibahas Sofia. Kata-kata menyakitkan diawal-awal pernikahan mereka. Sedalam itukah efeknya hingga Sofia masih terus mengingatnya?


"Sayang itu dulu..."


"Berarti dimasa depan diapun bisa jadi tipemu. Benar bukan?" buru Sofia jengkel. Nando menggeleng kuat.


"Never. Aku tidak akan mengulang hal yang sama Sofia. Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi aku benar-benar merasakan indahnya kehidupan setelah menikah denganmu. Sejak aku menikah denganmu...Momy dan dad kembali seperti sedia kala, menyayangiku. Demikian juga Karin dan Bella. Mereka yang dulunya hanya setengah hati mendukung keputusanku menjadi amat memihak padaku. Kau tau kenapa? karena mereka semua menyukai pilihanku. Kau tau...aku sangat bahagia saat mereka semua kompak tersenyum dan mendukungku. Aku tidak akan menyakiti perasaan mereka lagi." tutur Nando dengan mata menerawang.


"Tapi aku tidak suka jika kau tak mengabariku mas. Kau tau, aku begitu khawatir. Aku seperti sesak nafas karena terus memikirkanmu, menghitung tiap detik dan berharap kau segera pulang. Aku....aku tak bisa jauh darimu." Sebuah kecupan mendarat di bibir mungil Sofia.


"Maafkan aku sayang. Aku janji semua tidak akan terulang lagi." tegasnya seraya mendekap tubuh wanitanya mesra.