
Sofia dan emily kompak menatap ke arah pintu dimana suara itu berasal. Sesosok pria tampan bertubuh tegap melangkah lebar mendekati mereka dikuti pria lain yang tak kalah tampan darinya, Alex.
"Pergi kau dari rumahku!!" sentaknya kuat. Tapi Emily sudah lebih dulu berpegangan pada lengan kekarnya, membuat Sofia jengah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Lepas!" sentak Nando kasar. Tapi Emily seperti menulikan telinganya. Tangannya tetap bergelayut manja di lengan Nando tanpa tau malu.
"Nando dengarkan aku ..ini semua hanya salah paham. Wanita udik itu...." seketika Nando menghempaskan tangan si wanita amat kuat hingga dia terjerembab ke lantai dengan begitu mengenaskan. Sofia hingga harus menutup mulutnya karena kaget. Meski sudah tau jika suaminya pria arogan, tapi baru kali ini dia melihat secara langsung perlakuannya pada orang lain. Fernando berjongkok dan meraih dagu Emily kasar.
"Siapa kau hingga berani menyebut namaku seenaknya?dasar tidak tau malu!"
"Ohh ..maaf, maafkan aku kak."
"Satu yang harus kau ingat, aku bukan lagi kakakmu!" sinis, amat sangat sinis. Hanya itu yang bisa ditangkap dari sikap Fernando.
"Tapi kau akan selamanya menjadi kakak iparku karena tidak pernah ada perceraian antara dirimu dan Emma. Wanita tak tau malu inilah yang...."
"Jangan pernah berani mengatai istriku. Dia ratuku, sangat tidak pantas jika mulut kotormu itu menyebutnya dengan kata-kata hina. Jika kemarin aku masih mengabulkan permintaan suamimu untuk membebaskanmu, tapi tidak untuk hari ini dan seterusnya. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kekurang ajaran Emily." desis Nando dingin. Aura kejam menyelimuti dirinya. Mau tak mau Emily terhenyak karenanya. Dia sama sekali tidak menyangka jika kebebasan yang dia peroleh adalah hasil permohonan Sean.
"Ini hanya salah paham kak, aku ..aku benar-benar minta maaf." ujar Emily terbata. Menjadi adik iparnya selama beberapa tahun sudah membuatnya hafal karakter sang tuan muda
"Jangan pernah menguji kesabaranku Emily." tegasnya lalu melepaskan cengkeramannya. Alex segera mengulurkan tisu basah pada sang majikan yang langsung menggunakannya untuk mengelap tangan kanannya dengan raut jijik.
"Lexs, segera kirim dia kenegara asalnya bersama kakaknya yang tidak berguna itu dan pastikan mereka tak bisa kemana-mana setelahnya. Tuan Sean tak pantas mempertahankan wanita ****** seperti dia!" perintah Nando tegas.
''Baik tuan muda." dan seketika Emily down. Beberapa kali dia mengibaskan tangannya tanda sebuah penolakan kala dua bodyguard suruhan Alex hendak memaksanya keluar.
"Kak...kau tidak bisa melakukan ini padaku!! Kak!!!" teriaknya kencang dengan terus memberontak agar dirinya terlepas, tapi tenaga dua bodyguard utusan Nando lebih kuat darinya hingga tubuhnya bisa diangkat dengan mudah keluar ruangan. Fernando bersikap acuh saja. Bukannya mendengarkan teriakan dan permintaan maaf Emily yang menghiba padanya, pria itu malah mendekati Sofia dengan senyum terkembang lalu berjongkok di depannya memamerkan seraut wajah lembutnya, kontras dengan ekspresi awalnya dihadapan Emily.
"Sayang apa kau baik-baik saja?" bisiknya lembut. Netra birunya menjelajah setiap inci tubuh istrinya, memindai jika ada bagian yang terluka. Untuk sesaat pandangan matanya terarah pada Sarla yang berdiri mematung di tempatnya.
"Kau....mana Maria?" tanyanya datar.
"Saya kurang tau tuan." Jawab Sarla jujur. Dia juga baru sadar jika Maria yang ditugaskan menjaga sang nyonya tidak ada disana. Untuk sesaat tadi perhatiannya sudah teralih pada Emily.
"Kau datang tepat waktu hubby." bisiknya mesra dengan wajah memerah yang menggemaskan.
"Kau...bilang apa tadi?" kedua telapak tangan besar milik Nando terangkat menangkup kedua pipi Sofia yang merona malu.
"Katakan lagi sayang." desaknya makin penasaran dengan senyum lebar.
"Hubby.,," ulang Sofia lirih namun sudah membuat Nando amat sangat bahagia. Tubuh langsing itu beralih ke dalam pelukannya dengan cepat.
"Aku suka panggilan itu." bisiknya mesra hingga membuat Sofia makin merona malu karenanya. Entah dari mana keberaniannya untuk menyematkan panggilan sayang itu pada sang suami. Dia hanya menuruti kata hati.
Suara tangisan baby Rafa menyadarkan keduanya. Nando bergegas mendorong kursi roda istrinya masuk ke kamar lalu menjangkau baby Rafa secepat yang dia bisa. Rupanya Rafa mengompol.
Sebuah usapan lembut dilengannya membuat Nando yang sedang sibuk mengganti popok putranya terhenti. Matanya bertemu iris kecoklatan yang teduh milik sang istri.
"Biar aku saja. Kau pasti masih capek hubby." kata Sofia lembut. Namun Nando menolaknya. Pria itu tetap melanjutkan pekerjaannya hingga selesai lalu menimang baby Rafa penuh kasih.
"Sayang, apa seharian ini kau jadi anak baik? Jangan merepotkan momymu ya. Kasihan momy." Lagi-lagi kata-kata sederhana itu membuat Sofia tersentuh.
"Biar aku yang gendong Rafa mas, kamu mandi dulu." katanya setelah menyiapkan baju rumahan untuk sang suami. Nando meliriknya sekilas lalu mengulurkan baby Rafa padanya, mengambil kecupan singkat dari keningnya.
"Bagaiman terapimu sayang?" Sejak kemarin Nando memang menuruti saran dokter saraf untuk memulai terapi ringan pada Sofia walau masa nifasnya belum usai. Dia sengaja mengatur jadwal dirumah untuk istri tercintanya.
"Lumayan."
"Hanya itu?" Sofia tersenyum lebar melihat wajah tertekuk suaminya. Tangan kanannya mengelus pipi Fernando.
"Insyaallah sembuh." jawabnya lirih, meyakinkan.
"Hmmm baiklah. Jaga Rafa, aku akan mandi lebih dulu." Sebuah anggukan ringan menyertai langkah Fernando ke kamar mandi. Terlihat sekali jika pria itu mandi dengan tergesa hingga beberapa menit kemudian dia sudah menyusul Sofia yang masih menimang baby Rafa di balkon kamar sambil menikmati suasana sore yang terbilang sejuk.
Aroma mint menyeruak kedalam indera penciuman Sofia saat sebuah lengan kekar menangkup tubuhnya dari belakang. Lagi-lagi sebuah kecupan singkat berlabuh di pipinya menerbitkan senyum secerah langit senja di pipi mulusnya. Nando yang sudah banyak berubah. Akankah dia tetap menahan hatinya untuk tidak terpikat padanya??