
"Permisi mbak...ehh...kau...." panggil Aldi pada seorang pelayan yang melintas di dekat kamarnya. Ternyata selain besar dan megah, rumah itu juga lumayan senyap juga hingga suara sedikit saja bisa terdengar ke seluruh ruangan.
"Ada yang bisa saya bantu tuan." sapa Maria sopan saat Aldi mendekatinya, terlihat butuh sesuatu. Sinar kemerahan sang surya di senja kala memantul dirambut cepak ala militernya membuat kesan menawan ditubuh athletis itu. Sungguh, kesan tampan mendominasi adik majikannya itu. Sesaat Maria terpana.
"Siapa namamu?" Untung Maria bisa segera menyikapi keadaan hingga tak bertindak memalukan.
"Saya Maria tuan." sahut Maria sedikit terbata. Aldi tersenyum tipis dan menatapnya dalam, membuat Maria benar-benar salah tingkah karenanya. Selebihnya, gadis muda itu memilih menundukkan kepalanya, menghindari bersitatap dengan Aldi.
"Baiklah Maria, tolong saya ingin keruang gym. Bisakah kau tunjukkan dimana tempatnya?" tanya Aldi tak kalah sopan. Dia baru mendapat pesan dari Nando agar menyusulnya keruangan itu karena kakak iparnya dan Sofia berada disana.
"Mari saya tunjukkan tuan." dan Maria sudah berjalan lebih dulu memasuki lorong samping yang langsung menuju bagian belakang rumah dimana ruang gym berada. Sejenak Maria berhenti.
"Silahkan tuan." Maria membuka pintu ruangan besar itu dan mempersilahkan Aldi masuk. Sejenak Aldi memandangnya, terpaku. Maria yang merasa salah tingkah dan tak enak hati menundukkan wajahnya, mengigit bibir bawahnya dengan wajah merona.
"Silahkan tuan." ulang Maria menjulurkan tangannya, mempersilahkan Aldi masuk. Pria itu tersenyum padanya sekilas lalu mendekati Sofia yang menggendong Rafael, menunggui dady tampannya berolah raga.
"Ada apa kak Nando memanggilku kak?"
"Tanya saja kakakmu." balas Sofia ringan. Nando yang melihat kedatangan adik iparnya langsung menghentikan kegiatannya berlari diatas treadmil.
Sofia mendekatinya, mengulurkan handuk kecil ke tangan suami tampannya itu dan meraih botol air mineral didekatnya.
"Kau tidak mau olah raga sejenak Di?" tanya Nando sambil duduk di sisi istrinya.
"Besok saya sudah masuk kerja kak. Artinya ya harus latihan fisik lagi." kelakar Aldi disambut tawa kecil Fernando. Siapa yang tidak tau kehidupan aparat negara yang penuh latihan fisik. Tapi itu impian Aldi dari kecil dan Fernando hanya membantu mewujudkannya saja, sama seperti dia membantu seorang Sofia meraih impiannya.
"Besok kau langsung kembali ke Surabaya saja." kata Nando mantap. Aldi dan Sofia sontak terkejut karenanya.
"Mas, Aldi kan kerja disini. Kenapa disuruh balik pulang?" tanya Sofia heran. Bukannya menjawab, Nando malah meraih Rafael dari gendongan momynya dan memangku si gembul yang mulai berceloteh riang.
"Dia memang harus pulang sayang. Mulai besok dia sudah ditempatkan disana." ungkap Nando tegas.
"Sayang dengar...Aldi akan lebih aman bekerja di daerah asalnya. Lagipula ayah dan ibu pasti akan sedih jika anak-anaknya jauh semua. Kau dan Aldo juga tak bisa pulang dalam jangka waktu lama. Hanya Aldi harapan kita satu-satunya agar bisa menjaga orang tua kita." papar Nando memberi pengertian istrinya. Pria itu berusaha membuat alasan senatural mungkin agar istri dan adik iparnya percaya padanya. Wanita sepintar Sofia tak akan mudah dibohongi. Pikirannya terlalu rasioanal dan butuh banyak alasan. Yang sebenarnya adalah Nando yang tak yakin jika jendral Raga akan menepati janjinya. Dia cukup tau siapa Raga. Mereka hanya sekelompok srigala yang bersembunyi dibalik seragam aparat negara. Jadi akan lebih baik jika Aldi jauh dari jangkauan mereka.
"Tapi hubby, kau harus bertanya dulu apa Aldi setuju atau tidak. Dia yang kerja dan menjalaninyakan mas?" protes Sofia dengan nada rendah. Nando segera berbalik menatap Aldi yang duduk anteng menatap interaksi kakak-kakaknya. Pria muda itu terlihat bahagia. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa mesra dan harmonisnya kehidupan rumah tangga kakaknya. Hal yang sebelumnya tak terbayang dalam pikirannya karena dia tau betul apa alasan pernikahan keduanya. Tapi begitu melihat tatapan penuh cinta Fernando pada kakaknya, keponakan juga perhatian pria kaya raya itu pada keluarganya...semua ketakutan itu tertepis sempurna. Walau tak berkata, dia tau kakaknya amat bahagia dengan kehidupan rumah tangganya.
"Hmmm...apa kau keberatan dengan keputusan kakak, Di?" Nando bertanya penuh penekanan. Besar harapannya agar sang ipar mau menerimanya.
"Sama sekali tidak kak. Aku malah sangat bahagia bisa berada di dekat ayah ibu." balas Aldi sumringah. Terlihat sekali rona bahagia disana. Dari awal memang dia berharap ditugaskan di daerah. Tapi dia tetap abdi negara yang harus patuh pada peraturan pemerintah. Entah dengan apa Fernando bisa membawanya kembali. Yang dia tau kakak iparnya itu bukan pria sembarangan. Dia punya kharisma dan kekuasaan.
"Kau dengar sayang....Aldi setuju." bisik Nando bangga. Tanpa aba-aba dia mencuri ciuman singkat di pipi kiri Sofia karena gemas dengan sang istri. Spontan Sofia mencubit lengannya.
"Hubby!" pekiknya menahan malu. Ada orang lain disana walau itu adik kandungnya. Tapi Nando menanggapinya dengan amat santai. Hanya melirik Aldi yang juga senyum-senyum sendiri melihat kemesraan mereka berdua.
"Kulihat ada yang tertarik pada seseorang sejak kemarin." sindir Fernando, membuat tubuh Aldi menegang seketika. Tiba-tiba wajahnya memerah. Apa Nando sejeli itu mengamatinya?
"Siapa yang kau maksud hubby?" Sofia menatap lurus adiknya karena tak ada orang lain disana.
"ehmm kak..kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, aku..permisi dulu. Mau kembali ke kamar." sela Aldi tiba-tiba. Terlihat sekali jika dia amat gugup. Nando hingga tergelak karenanya karena tanpa persetujuan mereka pemuda itu sudah terbirit-birit keluar dari sana.
"Ada apa sebenarnya mas?"
"Kau belum paham juga?" Sofia menggelengkan kepalanya lemah. Benar-benar tak mengerti arah pembicaraan dua pria dewasa itu.
"Kata orang wanita itu peka. Tapi kenapa istriku beda ya?" gumamnya membuat Sofia gemas.
"Mas...!!" rajuknya manja. Kepalanya bahkan sudah bersandar dibahu suami tampannya.
"Aldi tertarik pada Maria." ujar Nando samar.