Dear Husband

Dear Husband
Tamu



Sofia baru saja mematikan video call gabungan antara sang mertua dan Karin, kakak iparnya. Mereka berdua minta maaf karena tidak bisa pulang ke Indonesia karena virus merajalela yang sedang menyerang dunia global saat ini yang mempersulit kepulangan mereka. Sebagai gantinya, mereka berjanji akan datang saat semuanya baik-baik saja.


Sofia cukup mengerti kondisi mereka karena dia juga termasuk tim medis walau masih dalam masa cuti melahirkan. Hanya saling telepon dan mengirim foto saja yang bisa mereka lakukan. Lihatlah, nenek gaul itu begitu antusias pada kelahiran cucu laki-laki pertama keluarga mereka. Maklum, dua anak Karin perempuan semua. Bukannya tidak suka atau membedakan, tapi bagaimanapun kelahiran Rafael juga adalah hal yang selalu dinantikan keluarga mereka.


Tangisan baby Rafa membuat kesadaran Sofia kembali setelah sesaat tadi terus mengingat ekspresi dua wanita yang juga sangat disayangi Fernando tersebut. Maria dengan sigap membantu Sofia menggendong baby Rafa yang ada dalam box bayi lalu menyerahkannya untuk disusui momynya.


"Terimakasih Maria, istirahatlah. Nanti biar Rafa tidur disini saja sampai dadynya pulang." Sejak pulang dari rumah sakit memang Marialah yang membantunya mengurus Rafa. Kelumpuhan sesaat yang dideritanya membuat Sofia kesulitan beraktifitas hingga harus mengandalkan orang lain dan kursi roda untuk bergerak kemanapun. Bisa dibayangkan bukan repotnya dirinya yang harus mengurus bayi dan masih dalam masa nifas? Untunglah Fernando adalah tipe suami siaga. Dia yang berlatar belakang tuan muda Sebuah keluarga besar dan terpandang tak risih turun tangan untuk merawat langsung anak dan istrinya.


"Tapi nyonya, nanti saya dimarahi tuan." tolak Maria halus. Tentu saja tuan mudanya akan marah besar jika dia tau Sofia ditinggal sendirian. Padahal seharian ini sang nyonya hanya menyuruhnya rebahan disofa dan menonton tv saja. Dia hanya akan bergerak jika baby Rafa menangis dan butuh sesuatu. Nyonya mudanya memang wanita lembut dan baik hati. Dia masih disuruh istirahat walau seharian ini hanya rebahan cantik dikamar tamu, dimana majikannya berada setelah kelahiran baby Rafa.


"Tuan tidak akan marah Maria. Aku sudah mengatakan ini padanya. Pergilah, kau butuh istirahat. Sebentar lagi juga mas Nando pulang." Jelas Sofia sambil menyusui Rafa yang terlihat sangat haus. Tangan kecilnya menggapai-gapai ke udara. Sekilas dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore. Artinya satu jam lagi Nando sudah akan sampai dirumah.


Sejak menjadi seorang ayah, Nando memang merubah jam kerjanya. Dia berangkat pagi seperti biasa, namun pulang jam empat sore setiap harinya. Tiap sabtu minggu dia sengaja libur untuk menemani istri dan anaknya dirumah. Seorang ayah yang soo sweet bukan?


Ketukan dipintu terdengar saat Sofia selesai menyusui dan menidurkan putranya. Sesaat kemudian bibi Sarla muncul dan memberi hormat.


"Ada apa bi?" tanya Sofia halus.


"Ada tamu ingin bertemu anda nyonya."


"Siapa?" Sofia mengrenyitkan dahinya. Siapa yang datang jam segini? dari tadi juga ponselnya tidak berbunyi. Artinya yang datang berkunjung bukan sahabat, rekan kerja atau saudaranya. Karena tiap akan datang mereka pasti akan mengabari dulu.


"Adik nyonya Emma, Emily." jawab bi Sarla pendek tanpa ekspresi. Sesungguhnya wanita paruh baya itu amat sangat tidak suka dengan kehadiran Emily kerumah itu. Emily hanya akan mengingatkannya pada sosok Emma yang tidak pernah memanusiakan manusia disekitarnya, apalagi pembantu.


"Jika nyonya tidak berkenan saya akan menyuruhnya pergi." Sarla masih sangat berharap nyonyannya akan menolak kehadiran Emily.


"Tidak perlu bik, saya akan menemuinya." Sofia terus bertanya-tanya, bagaimana bisa Emily keluar dari penjara secepat itu? bukankah kali terakhir mereka bertemu Emily sedang bururusan dengan polisi.


"Tapi nyonya...."


"Saya akan mengantar anda nyonya." tegasnya sambil mendorong kursi roda nyonya mudanya keluar kamar.


Diruang tamu yang besar dan mewah, seorang wanita cantik berpakaian kurang bahan dengan dandanan menor duduk dengan angkuh di sofa singel. Kakinya yang disilangkan, menambah kesan sombong pada dirinya. Sofia menghela nafas dan menyuruh Sarla mendorong kursi rodanya mendekat.


"Selamat pagi nyonya Moraima." sapa Sofia ramah. Dia sengaja memanggil begitu untuk menyadarkan Emily jika dirinya sudah bersuami. Emily tersenyum getir, namun sebentar kemudian air mukanya berganti.


"Sekarang aku memang nyonya Moraima dokter...tapi nanti aku akan menjadi nyonya muda Hutama." katanya percaya diri, membuat Sarla geram dan ingin meremat mulut sombongnya.


Sofia hanya menyungingkan senyum manis saat mendengarnya. Tak ada kemarahan pada dirinya saat mendengar perkataan Emily.


"Ada apa hingga anda datang kemari nyonya?" tanyanya ramah.


"Hanya ingin memastikan jika nyonya rumah ini sudah lumpuh dan tidak bisa menjadi istri dan ibu yang sempurna." jawab Emily mengejek. Sofia masih tetap tenang.


"Tapi setau saya tuan Fernando belum mengumumkan pendaftaran calon istri baru. Apa anda yakin tidak salah rumah nyonya?" seketika Emily meradang. Tadinya dia ingin memancing amarah Sofia, tapi malah dia yang terpancing amarah akibat kata-katanya sendiri.


"Aku tidak perlu mendaftar. Aku punya tempat khusus disini. Kau hanya wanita menyedihkan yang digunakan sebagai mesin penghasil anak bagi Fernando."


"Begitukah? Jika iya, maka saya akan sangat bangga bisa melahirkan anak baginya. Tidak seperti anda yang tidak bisa melahirkan siapa-siapa." Tangan emily mengepal erat. Wanita di depannya itu malah membeberkan kelemahannya.


"Hanya melahirkan saja apa hebatnya? Apa kau tidak malu karena terus menyusahkan suamimu dengan kaki lumpuhmu itu."


"Aku lumpuh karena melahirkan putranya. Sudah sewajarnya jika dia gantian merawatku bukan? Anda terlalu mendramatisir suasana rumah tangga saya nyonya."


"Cihh..dasar perempuan udik tak tau malu!! seharusnya kau pergi dari sini!!" sentak Emily kesal. Wajahnya sudah memerah menahan amarah.


"Kau yang harus enyah dari sini!!" suara bariton menginterupsi aksi saling ejek dua wanita itu.