
"Sayang..kau mau kemana?" Nando mencekal pergelangan tangan Sofia yang sudah bersiap dengan tas cantik dan seragamnya. Hari ini dia tidak akan ke kampus, hanya ada jadwal ke rumah sakit saja.
"Ke rumah sakit." balasnya datar tanpa melihat Nando.
"Kau lupa akan mengantar mom ke bandara?" Seketika Sofia menepuk kepalanya. Dia benar-benar lupa. Semalam dia tidur terlalu nyenyak hingga melupakan banyak hal selain rutinitasnya.
"Ayo." Sofia menepis halus tangan Nando yang mencekal jemarinya lembut.
"Aku bisa jalan sendiri." Tapi Nando sama sekali tidak mengindahkan kata-kata Sofia. Pria tampan itu malah memasukkan jari jemarinya diantara jemari sang istri hingga terjalin dan saling mengenggam. Ada hangat yang menjalari diri Sofia. Entah kenapa pria tampan itu begitu manis sejak kemarin.
"Aku suamimu, biarkan aku melakukan tugasku." bisiknya lalu membukakan pintu mobil. Sofia masuk dan duduk tanpa diminta. Nando bergegas menyusulnya dan menutup pintu kembali.
"Jalan." perintahnya membuat sang sopir melajukan kendaraan mereka membelah jalanan menuju kediaman Hutama.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai dan disambut suka cita oleh sang nyonya rumah. Nando segera berpindah ke sisi sopir pribadinya, membarkan mamanya duduk berdua dengan Sofia di jok penumpang. Lihatlah, mamanya begitu bangga melihat seragam yang melekt pada tubuh Sofia, abdi negara lengkap dengan jas putih yang masih tersampir dilengannya. Rona yang jelas berbeda saat dia bermenantukan Emma, sang model. Kala itu hanya rasa malu dan menghindar dari publik saja yang dia lakukan.
Bukan hanya bangga, calon nenek cantik itu malah sibuk berswafoto dengan berbagai pose hingga memaksa sang menantu mengirimkan foto-foto aktivitasnya pada ponselnya. Begitulah mama Sisca, jiwa penyayangnya membuat Sofia benar-benar nyaman didekatnya. Ibu mertuanya itu bahkan sudah memposting beberapa foto kebersamaan mereka di akun media sosialnya dengan caption 'Menantu idaman.' Bahkan dengan bangga dia merilis foto Sofia saat berkutat di rumah sakit, saat di kampus atau saat menantunya itu sedang sibuk memasak sesuatu di dapur. Idaman bukan? Sofia seorang dokter muda, cantik, rajin , manis dan pintar memasak dan mengurus putranya. Dia juga sangat lembut dan penurut pada orang tua.
"Apa kabarmu sayang? apa Fernando junior ini menganggumu hmmm?" tangannya terulur membelai perut rata sofia. Hal yang beberapa saat lalu sempat dia lupakan karena sibuk berfoto ria. Keasyikan yang membuat Nando jengah. Wanita jika bertemu dengan sesama wanita memang seperti tak membutuhkan kehadiran pria.
"Alhamdulilah aku baik mom, hari ini dia manis sekali karena tidak lagi membuatku mual."
"Syukurlah. Hey Nando junior...Oma pergi ke London dulu menjemput opamu ya. Nanti kami akan berkumpul di rumah saat kau lahir jagoan." katanya riang. Beberapa pesan dan petuah sudah mengalir dari bibirnya. Sofia menyimaknya baik-baik hingga tiba di bandara. Sang mama segera check in karena waktu sudah sangat mepet.
"Apa masih ada waktu?" tanya Nando saat pesawat mamanya sudah lepas landas. Sofia melirik jam tangannya. Masih satu jam lebih dari ijin yang diajukannya. Tadi dia memang ijin akan masuk jam 9 karena ada keperluan keluarga.
''hmmmm."
"Temani aku sarapan." pinta Nando lembut. Tak ada sahutan, Sofia memilih berjalan lebih dulu dan masuk ke mobil di parkiran khusus. Nando yang melihat mood istrinya kembali buruk hanya mengikutinya dan menyuruh sopir menjalankan mobil ke rumah sakit.
"Pak, bisa menepi sebentar?" kata Sofia tiba-tiba saat melihat panjual siomay pinggir jalan yang baru saja membuka lapaknya. Tiba-tiba saus kacang yang lezat membayangi pikirannya.
"Tidak bisa nyonya. Ini lampu merah, juga arah sejalur. Kita harus berputar dulu." Ada rasa kecewa saat sopir itu berkata demikian. Padahal dia ingin sekali makan siomay dan batagor ditempat itu pula.
"Belok kiri saja lalu berhenti!" perintah Nando yang masih menopang dagunya dan menatap ke depan. Sopir itu menurut. Dia menghentikan mobil beberapa meter dari perempatan besar itu dan memarkirkannya. Sofia turun dengan wajah riang.
"Pak, siomay dan batagor ya..dua porsi." pinta Sofia sambil duduk di kursi kayu panjang yang ada dibelakang penjualnya. Sang penjual dengan cekatan membuatkan pesanannya.
"Pedas bu?"
"Ya..berikan sambal yang banyak ya."
"Sayang, cabe berlebihan tidak baik untuk calon anak kita." nasihatnya lirih.
"Silahkan bu." bapak penjual batagor menyerahkan dua piring berisi pesanan sofia lalu berbalik duduk dikursi plastik dekat rombongnya
"Mau?" tawarnya mendapat gelengan lemah dari suami tampannya. Tapi dokter cantik itu tak patah arang. Dia menyendok makanan itu lalu menyuapkan ke mulut Nando yang mau tidak mau membuka mulutnya ragu. Seumur-umur ini pertama kalinya dia makan makanan pinggir jalan.
"Sudah." tolak Nando setelah mengunyah dan menelannya.
"Sekali lagi mas, coba yang ini." serunya saat mengambil piring lain."
"Sayang....."
"Please..." Dan bisa apa Nando saat melihat pupy eyes istrinya. Kembali dia membuka mulut dan memakannya. Rasa yang enak tapi sungguh dia masih takut jika makanan itu nanti membuatnya sakit perut. Sofia tak menanggapinya dan malah melahap sepiring penuh siomay itu tanpa ragu. Demikian pula dengan batagornya, dieksekusi dengan cepat. Tangan lembut itu lalu mengambil sebotol air mineral dari tasnya dan membukannya. Bukannya meminumnya, dia malah mengangsurkannya pada Nando yang kembali tak bisa menolak dan menegaknya. Ada apa dengan Sofia? apa dia takut keracunan hingga menjadikannya tester makanan? dan setelahnya, Sofia juga menegak minuman itu hingga tandas.
"Pak, kembaliannya..." kata penjualnya sambil mengulurkan uang pada Nando.
"Untuk bapak saja."
"Tapi ini terlalu banyak pak."
"Anggap saja rejeki anak-anak bapak." balas Nando lalu mengajak Sofia kembali ke mobil. Berkali- kali pria penjual batagor itu mengucapkan terimakasih pada keduanya.
"Pak,ini untukmu." Sofia menyerahkan kantong plastik berisi siomay yang dibungkus sterofoam pada sopir mereka yang disambut dengan senang hati. Dia sudah mengambil satu kotak dan membukanya. Nando hanya menggeleng heran melihat istrinya itu masih kuat makan. Rupanya calon bayi mereka benar-benar jagoan😅
"aaaakkk..." Sedikit terkejut Nando melihat Sofia kembali berusaha menyuapinya.
"Kenapa? tidak mau?"
"Bukan begitu sayang tapi...."
"Kau takut keracunankan? takut sakit perut? kalian orang kaya memang selalu menghina makanan pinggir jalan." katanya dengan mata berkaca.
"Kau ini bilang apa?"
" Aku berkata yang sebenarnya jika...."
cup
Nando menghentikan ocehan istrinya dengan mengecup singkat bibir tipisnya lalu beralih memakan siomay tadi. Pipi Sofia merona. Hatinya juga menghangat saat lelakinya itu bahkan tak menolak lagi suapannya hingga potongan terakhir.