
Dua minggu berlalu dengan cepat. Sofia sudah beradaptasi dengan baik dilingkungan maupun ditempat kerjanya. Sedang hatinya? ternyata berdamai dengan diri sendiri memang berat pada awalnya, namun dia akan tetap berusaha menghapus jejak masa lalunya. Kerinduannya pada Elle makin terasa terutama dihari minggu seperti kemarin, saat biasanya dia berkunjung ke kediaman Hutama dan menemuinya. Tapi semakin kesini dia semakin terbiasa. Rindu itu ada, namun tak seperti dulu.
Berkali-kali dia menyemangati dirinya sendiri dengan mengatakan pada bayangannya di depan cermin setiap pagi jika dahulu dia juga bisa hidup bahagia tanpa kehadiran Fernando atau Elle. Hidupnya juga pasti akan baik-baik saja tanpa mereka. Dia juga lebih bebas dan bahagia saat hidup diantara orang biasa dan membantu mereka. Bukan orang yang tidak menghargai dirinya atau pekerjaannya seperti Fernando yang menyuruhnya berhenti bekerja untuk sesuatu yang dinamakan keluarga. Dari awal, membantu orang lain adalah alasan utamanya menjadi dokter. Dia ingin hidupnya berguna untuk orang lain.
Sekarang disinilah dia, dibelakang meja praktiknya memberi resep pada pasiennya. Ani, seorang perawat dari puskesmas membantunya berpraktik dirumah dinas itu. Awalnya Sofia belum ingin buka praktik diluar jam kerja, namun banyaknya warga yang datang untuk periksa disana menggerakkan hatinya. Mungkin ini adalah tradisi dokter-dokter terdahulu hingga masyarakat sekitar terbiasa datang berobat kesana.
"Bu, nanti obatnya diminum 3x sehari ya. Jangan lupa makan tepat waktu. Hindari makanan asam dan terlalu pedas. Lambung ibu bermasalah." nasihatnya pada pasien yang entah keberapa hari ini. Dia buka praktik dari jam 4 sore hingga waktu tak terbatas. Sofia begitu bahagia melihat para pasiennya sangat antusias berobat padanya. Dia menawarkan pengobatan murah namun tetap menjaga kesehatan pasiennya. Dia memilih dan menyediakan obat untuk mereka tanpa pergi ke apotik. Selain karena letaknya jauh, kebanyakan yang ada disana adalah toko obat biasa yang belum menerima resep dokter. Tak jarang dia memberikan rujukan rawat inap dipuskesmas atau langsung mengirim pasiennya ke rumah sakit besar bila kondisinya benar-benar darurat.
" Mbak Ani..masih berapa pasien yang ada diluar?” tanyanya pada Ani yang kebetulan masuk sambil menyerahkan data pasien begitu ibu tadi keluar. Sofia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan angka 8. Empat jam berpraktik dengan hanya istirahat sholat maghrib saja membuatnya sedikit penat. Apalagi tadi pagi ada acara kunjungan dari dinas kesehatan dipuskesmas. Dia jadi merasa kurang istirahat. Namun melihat banyaknya pasien yang mengantri padanya membuatnya tidak tega. Dia akan tetap berjuang atas nama kemanusiaan.
" Masih tiga orang lagi dokter. Apa anda merasa capek? apa saya perlu mengundurkan jadwal periksa mereka?" tanya Ani. Dua minggu membantu Sofia membuat dia sedikit banyak hafal kebiasaan sang dokter.
"Tidak usah mbak, mereka sedang butuh saya. Toh saya juga masih banyak waktu istirahat nanti. Paling juga setengah sembilan sudah selesai."
"Baik dok. Apa anda butuh sesuatu? minuman hangat misalnya?" tawar Ani. Sofia menggeleng pelan.
"Nanti saja. Persilahkan saja pasiennya masuk." Ani segera menyuruh pasien berikutnya masuk. Sama seperti yang lain, pasien itu juga pulang setelah berkali-kali mengucapkan terimakasih. Sofia yang ramah dan lembut meninggalkan kesan positif pada mereka.
Sofia menarik nafas panjang saat pasien terakhir usai mendapat pengobatan darinya. Dia meregangkan ototnya sembari merapikan meja kerjanya. Artinya dia bisa langsung beristirahat dikamarnya yang nyaman sambil menjelajah dunia maya atau rebahan diatas karpet tebal di ruang bebas dan menonton acara televisi favoritnya.Sebentar lagi pasti Ani masuk sambil menyerahkan buku pasien.
"Permisi dok."
"hmmm...taruh saja disitu mbak. Mbak Ani bisa langsung pulang, sudah malam. Kasihan Shella." Ya, Shella adalah putri Ani yang baru berusia 2 tahun. Ani terpaksa harus mencari kerja tambahan karena suaminya terkena PHK beberapa waktu lalu.
"Maaf dok, diluar ada pasien yang tiba-tiba datang untuk periksa. Badannya panas sekali. Saya tidak berani menyuruh masuk karena jam praktik sudah berahir dan dokter kelihatan capek." Sofia berdiri dari duduknya, mengganti flat shoesnya dengan sandal rumahan.
"Tidak apa-apa mbak, suruh masuk saja. Semalam ini pasti sulit menemukan klinik yang masih buka. Kasihan."
"Saya juga berpikir begitu dok, apalagi dia masih anak-anak." mendengar kata anak-anak membuat Sofia tersentuh. Dari dulu anak-anak dan lansia adalah prioritas utamanya. Bukan berarti dia mendiskriminasikan pasien, tapi dia pasti rela memundurkan jam kerjanya jika menemui pasien seperti itu.
"Suruh masuk saja mba."
" Baik dok."
Ani membuka pintu ruangan lalu mempersilahkan sang pasien masuk.
"Mamaaaaaa...." teriak bocah kecil yang berada dalam gendongan pria tampan bermata blue ocean. Tenggorokan Sofia terasa tercekat. Berlahan dia mengangkat kepalanya yang masih meneliti daftar pasien.
"Elle." bisiknya lemah. Seketika tubuhnya bergetar. Ingin rasanya dia berlari memeluk bocah yang memakai kompres instan dikeningnya itu. Tapi dia malah diam membatu.
"Dek, ini bu dokter yang akan memeriksa kamu. Sekarang tidur sini ya, biar bu dokter segera memeriksamu. Nanti kalau sudah periksa kamu bisa langsung pulang ketemu mama." nasehat Ani penuh kesabaran.
"Mama." panggilnya lagi. Ani menggelengkan kepalanya. Dia pikir anak itu berhalusinasi karena demam tinggi. Tidak mungkin dia putri dokter Sofia. Jika dia benar-benar putrinya, untuk apa bersusah payah mendaftar. Tinggal masuk kerumah saja dan dokter Sofia pasti akan memeriksanya.
"Dek, ini bu dokter Sofia. Bukan..."
" Dia putri saya mbak." spontan Ani menoleh kaget pada Sofia. Tapi dokter didepannya itu terlihat serius. Dia menjadi terpana saat Sofia meraih Elle yang sudah menjulurkan tangannya padanya. Bocah itu menangis sesenggukan dalam pelukan Sofia.
"Mama..jangan tinggalkan aku." katanya sambil terisak keras. Dada Sofia bergemuruh. Air bening mengalir dari sudut matanya.
"Sayang badanmu panas sekali. Mama periksa dulu ya. Takutnya kamu kenapa-napa." Elle mengangguk. Sofia meletakkan tubuh kecilnya diranjang dan memeriksanya.
"Sepertinya gejala typus. Kau harus rawat inap sayang."
"Tapi aku mau sama mama."
"Sayang dengar ya...mama tidak punya peralatan yang memadai disini. Kamu harus dirawat diklinik, puskesmas atau dirumah sakit."
"tidak mau!!" tolak Elle lagi.
"Alex!!" teriak Nando.
"ya tuan muda."
"Belikan peralatan rawat inap dan bawa kemari secepatnya!" perintah Nando tegas dan tak terbantahkan. Alex mengalihkan pandangannya pada Ani yang masih berdiri ditempatnya.
" Baik tuan. Dan ehmmm...anda bisa pulang sekarang nona. Maaf sudah merepotkan anda. Terimalah. Ini sebagai tanda terimakasih kami." Alex memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan pada Ani. Awalnya wanita itu menolak karena tidak enak hati pada Sofia, tapi Alex terus memaksa hingga akhirnya dia menerimanya setelah mengucapkan terimakasih.