Dear Husband

Dear Husband
Selalu



Acara syukuran yang awalnya hanya dilakukan kecil-kecilan berubah jadi acara besar-besaran karena Nando bersikeras mengundang setiap kepala keluarga di desa itu. Tak tanggung-tanggung, ratusan pria hadir dalam acara itu. Ibu mertuanya yang awalnya hanya ingin memasak hidangan dibantu para tetangga kanan kiri harus menyerah pada keinginan sang menantu yang langsung membooking restu besar untuk menghelat acara itu. Jadilah seluruh keluarga dan tetangga hanya duduk manis dan tinggal makan saja.


Wajah tampan Fernando tersenyum lebar saat seluruh undangan berpamitan pulang dengan bingkisan sembako ditangan masing-masing. Ucapan selamat dari mereka sudah membuatnya amat bahagia. Lihatlah, semua orang jadi kenal jika dia adalah suami dokter Sofia dengan tatapan takjub. Baby El juga tak kalah ramah untuk selalu pamer senyuman, memamerkan deretan gusi ompomgnya dalam gendongan sang dady.


"Sayang jangan melakukan apa-apa." pinta Nando lirih saat Sofia mengambil sapu untuk membersihkan sampah sisa acara. Sofia mendongak menatapnya.


"Hanya menyapu mas. Tidak berat kok." tangan halusnya sudah mengayun sapu, menyingkirkan sampah ditepi halaman agar mudah di ambil nantinya.


"Sayang, sudah biarkan yang lain yang melakukannya."


"Mas, sebentar lagi selesai kok. Orang hamil dilarang menghentikan menyapu. Harus bersih lalu dibuang. Pamali." Nando mendengus kesal. Dirumah saja dia tak pernah menyuruh istrinya menyapu. Sofia diperlakukan bak ratu. Bagaimana bisa dia membiarkan sang istri begitu, apalagi dalam keadaan hamil muda.


"Sofia, kau tak boleh terlalu lelah." ingatnya makin keras. Dia bahkan akan merebut sapu ditangan istrinya jika Sofia tak segera meletakkannya. Panggilan langsung pada namanya sudah menunjukkan pada dirinya jika suaminya sedang amat kesal. Bisa jadi ribut jika dia tak menurut.


"Ada apa nak?" pak Arif yang barusan datang menyapa mereka yang terlihat tegang.


"Aku hanya mengingatkan momynya El agar tak menyapu yah. Takutnya dia kecapekan dan mempengaruhi bayi kami." Arif hanya mengelengkan kepalanya sambil tersenyum. Menantunya ini benar-benar posesif akut. Untungnya putrinya adalah tipe penurut.


"Hanya menyapu ayah. Mas Nando terlalu khawatir pada hal kecil. Ibu hamil itu tidak akan capek kalau hanya menyapu mas. Lagi pula orang hamil juga butuh olah raga." lanjut Sofia walau sudah tak berniat menyapu lagi.


"Yah, bisa titip Rafa sebentar? Kelihatanya putri ayah ini perlu mendapat pendidikan khusus."


"Pendidikan khusus?" ulang pak Arif masih tidak mengerti. Tapi tak urung tangannya menggapai Rafa merasa enggan lepas dari dadynya.


"Sayang..kamu sama kakek dulu ya..." bujuk Nando pada putranya. Untungnya El tipe anak yang cepat tertarik pada sesuatu. Begitu sang kakek mengulurkan lolipop dari dalam sakunya, bocah itu segera bereaksi dan melepas pelukannya dileher sang dady.


"Sayang, ayo ikut aku." ucapnya lembut, menarik tangan Sofia keluar rumah. Nando tersenyum kala beberapa pasang mata tetangga yang membantu bersih-bersih menatap mereka.


"Mau kemana sih?" tentu saja Sofia bertanya-tanya karena mereka memang tak ada rencana apa-apa hari itu selain menggelar tasyukuran.


"Hotel." bisik Nando ringan saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Dua pengawal langsung masuk dan menempati jok depan dengan sigap saat majikan mereka sudah duduk aman di dalam sana.


"Mass....kau ini!" tentu saja pipi Sofia jadi merah padam kerenanya. Saat berkunjung kemari pasti suaminya itu selalu meminta ke hotel terdekat dengan alasan yang sama.


"Pipimu sudah membuatku gemas dari kemarin Sofia." bisiknya lebih sensual seraya mencium pipi dan telinga istrinya.


"Hei..kenapa kalian malah diam dan mendengarkan aku memuji istriku? cepat jalan!!" hardik Nando kesal karena tau pasti dua orang di depan sudah mendengar bisikannya.


"ki..kita mau kemana tuan muda?" tanya pria yang sudah memegang kemudi gugup.


"Hotel terbaik di kota ini." balas Nando masih dengan mode kesal. Tentu saja dua orang itu merasa amat takut karenanya. Bos mereka itu sudah jarang marah atau membentak begitu menikah dengan Sofia yang amat lembut dan sopan. Aura positif yang membuatnya juga berubah positif walau makin posesif. Bergegas mereka menjalankan mobil sebelum sang singa mengamuk lagi.


"Mas, tak seharusnya kau berkata kasar pada mereka." nasihat Sofia lembut sambil membelai kepala suaminya yang tiba-tiba rebah di bahunya. Tangan kekarnya melingkari perutnya. Dengusan nafas tak teraturnya sudah membuat Sofia tau jika pria itu terus berusaha menahan hasratnya. Heran, makin lama menikah Nando makin berubah jadi pria bucin yang sedikit-sedikit tak tahan melihatnya. Apalagi saat pipinya merona, pria itu pasti gemas dan ingin menerkamnya.


"hmmmmm." hanya gumaman itu yang Nando berikan, selebihnya