
"Sayangnya aku sedang bertugas, jika tidak maka aku akan mengajakmu bermain-main sejenak tuan muda Hutama. Ternyata semudah ini menakhlukanmu hemm?? Mana sikap arogan dan kecerdasanmu? ha...ha...ayah terlalu takut pada berita hoak tentangmu. Kau itu bukan singa, tapi kucing lucu. Hello kitty pula." Tangan Amanda Larsons menjelajahi wajah Fernando pelan. Senyum manis tersungging di bibirnya yang bergincu merah menyala. Seorang pengawal yang tadi membantunya sudah dia suruh pergi saat tugasnya usai. Rasa penasarannya pada sosok Nando membuatnya bertahan sejenak dikamar itu. Sebuah kecupan dibibir dia sematkan pada bibir tipis sang tuan muda.
"Tampan...kau sangat tampan. Nanti aku akan mendapatkanmu setelah drama rumah tanggamu terekspose ke publik dan...istri kampunganmu itu kusingkirkan. Owwhh ..aku hampir melupakan sesuatu tampan..aku jadi ingin tau berapa ukuranmu yang sebenarnya.'' Kali ini tangan Amanda merambat turun ke bawah, hendak melepas handuk yang melingkar di pinggang Fernando.
Tap...tap...tap...
"Sial!!" Maki Amanda saat langkah kaki mendekati pintu kamar. Dengan segera dia membuka pintu balkon, menutupnya lalu menyambut tangan seseorang yang sudah berjaga disana. Gerakannya begitu berani, melompati balkon kamar dilantai lima itu tanpa gentar sedikitpun.
Alex memasuki kamar Nando. Dia bergegas menghampiri tempat tidur saat tau tuan mudanya tergeletak disana. Untung saja dia tak jadi berendam dan memutuskan mandi kilat untuk segera beristirahat. Saat akan meraih ponselnya, dia melihat ada seseorang yang berada di ranjang bersama sang kakak. Andai itu pria lain maka Alex pasti memilih tombol skip karena kemungkinan besar tuannya itu memang sedang menyewa wanita panggilan untuk bersenang-senang. Tapi yang ada disana adalah Fernando. Sang ipar yang tidak pernah tertarik pada wanita selain pasangannya. Maka kesimpulan akhirnya adalah sang tuan muda berada dalam posisi tidak sadar. Dan itu yang membuat Alex segera berlari ke kamar Nando tentu saja dengan pakaian yang masih berantakan.
"Cepat panggil dokter ke kamar 505, sekarang." pintanya pada resepsionis hotel. Dia tidak ingin mengambil resiko lagi. Selain itu Alex juga mengubungi beberapa pengawal yang tadinya berjaga disekitar Nando agar kembali ke posisinya.
Seorang pengawal datang mengantarkan seorang dokter muda berkulit coklat masuk ke kamar itu dengan tas ditangan. Dia segera memeriksa Nanda dan memberikan suntikan pada pasiennya itu.
"Dia terkena obat bius dosis tinggi."
"Apa bisa segera siuman?" tanya Alex sambil menatap dokter muda itu tajam.
"Sebentar lagi dia siuman. Sementara itu saya akan ke kamar lain untuk memeriksa seorang tamu yang sedang sakit pula. Jika dalam 10 menit teman anda belum sadar juga, tolong hubungi saya." ujar dokter itu seraya memberikan sebuah kartu nama pada Alex. Dia memang dokter terdekat dari hotel itu. Tampaknya dia juga bekerja sama dengan pihak hotel bila ada tamu yang punya keluhan kesehatan.
Tepat sepuluh menit setelah dokter itu keluar, kelopak mata Nando mulai bergerak dan berlahan terbuka. Tuan muda Hutama itu menatap sekelilingnya dan segera terduduk begitu melihat Alex yang duduk bersedekap di dekatnya.
"Apa yang kau lakukan dikamarku!" hardiknya marah. Alex hanya mengangkat bahunya, tak peduli.
"Harusnya aku yang bertanya pada kakak, kenapa tidur hanya berbalut handuk. Ditemani wanita pula." jawab Alex enteng. Mata Nando terbelalak lebar
"Wanita katamu?? Siapa??"
"Itu juga yang ingin kutanyakan padamu."
"Kau jangan main-main denganku Lex." ucap Nando kesal. Meski tampan dia bukan pria hidung belang yang main celup sana sini sesukanya. Dia pria hidung mancung yang sangat setia pada pasangannya.
"Sebentar." dan dengan cekatan Alex menyuruh Nando memperhatikan laptopnya yang terhubung dengan rekaman cctv yang mereka pasang sebelum kejadian. Nando dengan teliti memfokuskan seluruh indranya kesana.
"Shitttt!!" maki Nando kasar kala melihat bagaimana Amanda mencium bibirnya. Tanpa ampun dia meraih tisu basah diatas meja dan menyeka bibirnya kasar. Tak hanya satu dua helai, tapi sudah satu pack dia habiskan hingga membuat Alex geleng-geleng kepala karenanya. Setelahnya, netra biru itu kembali dibuat melotot tak percaya bercampur geram saat melihat tangan Amanda yang akan melepas handuknya dan ingin melihat aset paling berharganya seperti ucapannyanya barusan.
"Rasanya kau harus berterimakasih padaku karena datang tepat waktu kak. Jika tidak, kupastikan ular phitonmu akan ternoda oleh anak Roy larsons itu." ledek Alex santai, membuat Nando makin kesal karenanya. Tapi Alex benar, sedikit saja sekretaris cerdas itu telat maka bisa dipastikan dia akan shock berat.
"Beberapa kali ponselmu berbunyi tadi."
"Kenapa tak kau angkat?" ujar Nando sambil memakai celan dan kaosnya, membuang handuk pada keranjang pakaian kotor disebelahnya.
"Dari kak Sofia. Aku takut dia curiga jika aku yang mengangkatnya." Seketika Nando menepuk dahinya. Dia lupa...benar-benar lupa menelepon istrinya sesuai janjinya.
"Ohh ya Tuhan, bagaimana aku bisa lupa??" keluhnya putus asa. Bergegas dia meraih ponselnya dan membuka aplikasi warna hijau untuk menelepon istrinya. Bisa jadi dirumah mereka Sofia selalu memikirkannya hingga diserang gelisah.
Untuk ketiga kalinya dalam moment ini tuan muda Hutama itu dibuat mendelik kaget kala Sofia meneruskan beberapa foto dirinya dan Amanda yang seolah habis melakukan aktivitas ranjang. Foto-foto yang membuatnya ingin muntah.
"Ada apa?" tanya Alex datar kala melihat perubahan ekspresi pada wajah tuannya itu.
"Sofia sudah tau semuanya." katanya seraya menunjukkan foto-foto dirinya dan Amanda yang dikirim oleh Sofia. Secepat mungkin Nando mendial nomer Sofia, ingin menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya pada istrinya itu, namun nomernya sedang diluar jangkauan. Bayangan kepergian Sofia langsung berputar dalam ingatannya. Dia tidak ingin ditinggalkan untuk kedua kalinya. Dia tidak ingin kehilangan dia....ahh...istrinya juga masih dalam keadaan tidak sehat.
"Alex siapkan penerbangan ke Jakarta sekarang." perintahnya panik dan segera berkemas.
"Tapi bagaimana soal perusahaan?"
"Tempatkan saja Beni disana. Kita bisa mengurusnya dari kantor pusat. Lekaslah Lex, aku tidak ingin Sofia salah paham." rasa panik kembali menyerang Nando yang berubah kekanakan. Otaknya sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Apalagi Sofia sama sekali tidak bisa dihubungi. Nomer rumah dan para pelayan juga semuanya tersambung tapi tak ada yang mengangkat panggilan darinya.
Alex lebih tenang dari tuannya meski dalam hati dia terus menggerutu kesal. Tau begini dia tidak akan pesan hotel. Buang-buang anggaran saja. Apalagi itu hotel bintang lima VVIP yang tentu saja amat mahal. Sekretaris itu mulai memesan tiket penerbangan yang beruntungnya masih satu jam lagi. Setidaknya masih ada waktu bersiap.
πππππππ
Curhat author lagi ya readersπ
Ada apa dengan noveltoon yaa...udah up dari jam 7 malam sampai sekarang masih review aja. Padahal berharapnya bisa bikin kalian bahagia dan dapat doa, tapi espektasinya menggantung. Harap sabar ya readersπππ