Dear Husband

Dear Husband
Debat



"ohh haii..." Sofia menoleh saat sebuah suara menyapanya dari balik pagar. Disana, Andrew duduk manis diatas jok motor besar yang harganya lumayan tinggi saat ini. Separuh wajahnya tertutup kaca helm hingga tak begitu terlihat. Sofia menuju pagar, hendak pergi kuliah.


"Selamat pagi Snow?" sapanya ramah, melepas helm hitamnya. Kini wajah tampannya terekspose sempurna.


"Pagi juga tuan Andre. Anda ingin keluar?" balasnya ramah dari balik pagar. Sesungguhnya Sofia sedang menjaga jarak dari pria itu sesuai permintaan Fernando.


"Ya, hanya jalan-jalan disekitar sini saja. Kau..mau ke kampus?"


"ya."


"Mau kuantarkan?" tawarnya tanpa basa-basi.


"Ohh tidak. Terimakasih tuan, Ojek online saya sudah datang." tunjuk Sofia pada pengemudi motor matic warna merah dengan jaket berlogo perusahaan mereka. Andre menatapnya kecewa. Gerakan Sofia yang menutup pagar dengan cepat dan melompat keatas jok sang driver membuatnya sedikit terpana hingga lupa membalas salam si wanita yang sudah beralu dari sana. Pria itu lalu melajukan motornya dengan wajah masam.


Disebuah rumah mewah, dua pria dewasa duduk berhadapan dengan laptop terbuka di depannya. Senyum samar terbit dari bibir pria tampan bermata blue ocean itu.


"Kelihatannya Andre Marseden sangat terobsesi dengan kakak ipar." bisik lawan bicaranya dan mendapat anggukan dari pria tadi. Ya, Nando dan Alex baru saja melihat rekaman cctv dari rumah sederhana Sofia.


"Ya.Pria ini benar-benar...."


"licik." potong seorang wanita muda berwajah oriental yang datang membawa nampan berisi teh hangat untuk mereka.


"Minumlah." katanya lalu ikut duduk disamping sang suami. Rok rumahan yang dipakainya terlihat sangat segar dengan tema kotak-kotak dicoraknya.


"Ada baiknya kita kirim Elle ke asrama." usul Alex dengan dahi berkerut. Meski berat dia berusaha mengusulkannya.


"Tidak. pria aneh itu malah akan mudah menemukannya dan memabawa Elle pergi. Biarkan Elle tetap disini. Setidaknya dia aman bersamaku." tentang sang istri. Alex hanya terdiam. Dari awal Bella selalu berbaik hati merawat bocah kecil itu karena dia seusia Aling putri mereka.


"Jika sasarannya adalah Elle, aku akan melepasnya secara suka rela. Bagaimanapun Andreas adalah ayah kandungnya. Dia lebih berhak atas diri Elle dari pada aku." Nando yang semula diam akhirnya berekasi juga. Anehnya, dua orang di depannya itu malah saling pandang dengan tatapan aneh. Tidak biasanya Nando bersikap begitu. Dari awal dia selalu menahan Elle yang berwajah sangat mirip dengan ibunya. Ada obsesi tersendiri dalam jiwanya pada diri Elle. Dia merawat Elle melebihi kasih sayang seorang ayah pada anak mereka.


"Kakak yakin?" ulang Bella memastikan. Pandangannya menajam.


"Ya. Karena ada hati lain yang harus kujaga."


"Sofia?"


"Ya. Dia istriku sekarang."


"Walau dia tak secantik Emma."


"Jangan menghina kakak iparmu Bel." hardik Nando terlihat kesal.


"Baiklah...kurasa kau sudah mulai mencintainya."


"Tidak."


"Tak ada salahnya membuka hatimu pada istrimu sendiri kak."


"Aku tidak yakin."


"Perasaan tak bisa dipaksa Bel." pungkasnya dingin.


"Lalu apa yang kalian lakukan selama ini?" kali ini Bella benar-benar terpancing emosi. Masih tergiang ditelinganya kemarin saat Sofia meneleponnya dan menceritakan romansa malam pertamanya, lalu sekarang dengan teganya Nando berkata soal perasaan.


"Dia istriku dan aku suaminya. Kami hanya melakukan kewajiban diantara pasangan." jawab Nando acuh.


"Kewajiban?"


"Ya. Apa kau berharap lebih dari hubungan kami?" selidik Nando dengan pandangan mencemooh.


"Kurasa tidak. Tapi naluriku berkata Andreas Marseden dan Shandy sedang mengincar istrimu." Analisa yang terlalu berani dipaparkan dihadapan seorang Hutama junior mengingat sang tuan muda yang arogan.


"Andreas? Shandy?"


"Ya. Aku yakin Marseden junior itu akan berusaha mendapatkan istrimu agar kau hancur seperti saat Emma meninggalkanmu."


"Aku akan menghabisi dia dengan tanganku sendiri." Kali ini Nando mulai dilingkupi emosi.


"Untuk apa? bukannya kalian hanya pasangan kewajiban?"


" Melindungi istri juga kewajiban buatku."


"Sofia tidak butuh perlindunganmu saat bersama Shandy. Dia pria yang baik."


"Kau terlalu memujinya."


"Sepertinya itu kenyataan. Dia prajurit handal, dosen mumpuni juga pengusaha yang kaya raya. Sungguh dia pria sempurna." kenang Bella sambil duduk menopangkan kedua tangan dirahangnya, menyipitkan matanya membentuk lengkungan soo sweet yang membuat Nando makin kesal padanya.


"Jika itu terjadi, kupastikan dia tak akan melihat matahari esok pagi."


"Oohh ya Tuhan kak...apa kau cemburu?"


"Tidak ada orang yang bisa mengganggu milikku Bel." tegas Nando mengeratkan rahangnya. Bella semakin tersenyum kecil melihatnya. Lihat bagaimana mantan pengacara handal itu mempermainkan hati kakakknya.


"Hiperbola sekali. Melebihi sifat posesifmu pada Emma tampaknya."


"Jangan samakan Sofia dengan Emma." sentak Nando galak.


"Tapi maaf jika kukatakan ini sebagai mantan ahli interogasi terdakwa dipengadilan. Kau...sedang jatuh cinta pada Sofia."


"Itu tidak benar. Kurasa keputusanmu berhenti adalah hal paling benar di dunia. Kau salah menilai klienmu."


" Benarkah? kita lihat saja nanti saat kak Sofia sudah lelah bersaing dengan bayang-bayang wanita yang sudah meninggal." kata Bella tak kalah sengitnya.


"Bella chan cukup. Sudah waktunya menjemput anak-anak." interupsi Alex memecah ketegangan adik dan kakak sepupu itu. Bella memilih mengalah dan pamit dari sana, meninggalkan kembali dua pria itu diruang keluarga.