
Keheningan mendominasi meja makan pagi itu.Elle dan Nando makan dengan posisi tegak dan tenang.Mengunci mulut mereka rapat dan hanya fokus pada makanannya.Diseberang meja,Sofia mengambil nasi,oseng kangkung dan ayam kecap hasil dari masakan kilatnya lalu memakannya dengan lahap tanpa banyak komentar ataupun menatap bapak dan anak didepannya.Sofia juga meraih dua cangkir kopi dan susu yang dia buat untuk Nando tadi lalu meminumnya hingga tandas.Nando bergidik ngeri melihat menu makanan Sofia.
"El,setelah ini mama mau ke rumah sakit hingga tengah hari.Elle tidak keberatankan jika mama tinggal dirumah bersama mbak Maria?" Sofia mulai membuka pembicaraan saat melihat semua sudah selesai makan.
"Untuk apa mama ke rumah sakit?" Elle dengan jiwa ingin taunya langsung bertanya.Seingatnya,sang mama tidak menyukai rumah sakit,apalagi bertemu dokter.Emma pasti akan memilih mengurung dirinya di kamar bila sakit.
"Mama ker..."
"Mama harus periksa kesehatan El,luka mama belum sembuh sepenuhnya." potong Nando cepat.Dia sudah menduga jika Sofia hampir keceplosan.Wanita itu tidak pintar berbohong atau menyembunyikan sesuatu.
"Ehh..iya itu .Kepala mama pusing sekali sayang." keluh Sofia pura-pura.Wajah Elle berubah muram.
"Tapi mama janji akan segera pulangkan?"
"Tentu saja mama akan segera pulang dan menemani Elle bermain."
"Benarkah?"
"ya.Mama janji El." balas Sofia meyakinkan.Wajah sang gadis kecil kembali ceria.Rasa takut kehilangan begitu mendominasi pikiran kecilnya.
"Kalau begitu Elle pergi sama mbak Maria ya pa,ma?" pamit Elle usai meminum jusnya.Alis Sofia berkerut.
"Mau kemana sayang?" Sofia menjeda gerakannya hendak berdiri dari duduknya.
"ke kamar sebentar.Elle mau menghafal letak barang-barang dikamar seperti yang diajarkan tante Bella."
"owwhh..baiklah El,pergilah.Nanti mama susul setelah beres-beres ya." Maria yang ada disamping kiri nona kecilnya mengangguk hormat lalu menuntunnya ke kamar dengan amat hati-hati.
"baiklah ma,jangan lupa mengunjungi kamarku sebelum berangkat."
"Tentu saja El." keduanya segera menghilang di ujung tangga.
"Apa orang kelas bawah seperti kalian selalu melakukannya?" gumam Nando menginterupsi gerakan Sofia membereskan meja makan dan akan membawanya ke dapur.
"Memangnya apa yang kulakukan?" Nando menyeringai mendengar pertanyaan Sofia.
"Makan makanan berat di pagi hari seperti pekerja kasar,bicara di meja makan seperti perempuan bar-bar,juga membereskan meja usai makan seperti pembantu.Aku tidak habis pikir,kenapa mesti memilihmu menjadi istriku." Wajah Sofia memerah,tersinggung berat dengan semua perkataan Nando yang kembali membakar hatinya.Gerakannya terhenti dan berganti dengan kedua tangannya yang mengepal diatas meja.
"Makananku memang seperti itu dari kecil tuan muda,menu pekerja kasar yang menganggap roti seperti makananmu hanya kudapan,bukan makanan pokok.Kau sudah tau bukan jika aku lahir dari keluarga petani?dan jika kau lupa,aku adalah seorang dokter yang cukup tau apa menu yang sehat dan tidak untuk sarapan.mengenai membersihkan meja makan,mau nanti aku ada dikalangan kalian atau kembali ke populasiku,ini adalah ajaran orang tua yang sudah mendarah daging bagiku.Setiap anak wanita dituntut bisa mengurus rumah tangga tanpa mengandalkan asisten rumah tangganya.Ohhh satu lagi,aku minta maaf soal bicara dimeja makan seperti wanita bar-bar.Sungguh aku lupa jika berada dilingkup keluarga berbeda.Lain kali aku tidak akan mengulanginya tuan muda." protes panjang Sofia terdengar kesal.Tak menunggu reaksi sang suami,dia bergerak cepat ke dapur untuk mencuci bekas sarapan.
"Maaf nyonya,biar kami saja yang melakukannya."
"Ini cuma cucian ringan mbak,saya bisa sendiri." Dua pelayan itu berdiri bingung antara mendengarkan sang majikan,ataupun nyonya baru mereka.
"Kalian ingin saya pecat?" wajah keduanya memucat.Tangan terasa bergetar hebat saat kembali memohon pada Sofia.Sungguh mereka tidak ingin dipecat karena hal kecil.Bekerja di kediaman Fernando adalah anugerah tersendiri bagi mereka.Hanya tinggal patuh dan rajin,mereka mendapatkan gaji tiga kali lipat dari tenaga pembantu diluar sana.Selain itu,Nando termasuk majikan yang royal dan jarang bicara kecuali saat-saat tertentu.
"Nyonya kasihani kami.Kami masih ingin bekerja.Anak-anak kami di kampung butuh makan dan sekolah nyonya.Tolong mengertilah keadaan kami." mohon keduanya memelas.Berat hati,Sofia meletakkan cuciannya seraya meminta maaf pada dua pelayan itu lalu menghampiri Nando yang tetap duduk tenang di kursinya.
"Apa anda sudah puas mengancam mereka tuan Fernanndo?" sarkas Sofia tajam.Nando mendongakkan wajahnya.
"Aku tidak peduli kehidupan macam apa yang kau jalani diluar sana Sofia.Tapi saat dirumah ini,ikuti aturan rumah ini.Kau istriku,bukan pembantuku.Dan nyonya muda di rumah Hutama tidak melakukan apa yang kau lakukan.Kau harus membiasakan diri dengan semua itu sebagai wujud penghormatanmu pada suamimu." glek....Sofia bungkam.Tidak ada lagi protes yang terlontar dari bibirnya.Dia tidak lupa pesan ayah dan ibunya di kampung.Dimana tanah dipijak,disana langit dijunjung.Seseorang harus mengikuti adat dan peraturan dimana dia tinggal saat ini seperti dia mengikuti tradisinya sendiri.
"Baik jika itu maumu." putusnya kemudian.
"Good.Sekarang kembali ke kamar kita,ganti bajumu.Hari ini aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
"itu tidak perlu,aku bisa berangkat sendiri.Beri aku alamatnya saja.Aku bisa naik taksi."
"Apa?taksi?nyonya muda Hutama tidak boleh naik taksi.Kau tinggal memilih mobil mana yang akan kau tumpangi dan suruh sopir mengantarmu."
"tapi...."
"tidak ada tapi Sofia.Bergegaslah.Waktuku tak banyak!" sentak Nando mengakhiri dialog panas pagi itu.Tanpa berkata-kata,Sofia berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian.Beruntung dia sudah sempat mandi di kamar Elle tadi hingga sekarang tinggal berganti pakaian saja dan mengambil tas kerjanya.
Lima belas menit kemudian Sofia menuruni tangga dan menghampiri Fernando yang masih setia duduk di meja makan.
"Saya sudah siap." Nando menoleh.Matanya memincing,memindai tubuh Sofia dari atas ke bawah.Setelan formal yang sederhana tapi elegan namun terasa pas membalut tubuh tinggi semampai Sofia.Make up natural yang dikenakannya juga tak mencolok tapi membuat kesan fresh diwajah cantiknya.Satu hal yang membuatnya sedikit kehilangan fokus.Rambut istrinya yang disanggul tinggi ke atas menampakkan leher jenjangnya yang putih bersih seakan melambai pada dirinya agar melabukan bibir disana.Nando berdiri,tangan kanannya yang panjang menjangkau kepala Sofia tanpa kesulitan.Tak hanya sampai disitu,ikatan rambut itu dilepas paksa hingga tergerai.
"Apa yang kau lakukan mas!!!" ketus Sofia tidak suka.
"Jangan pernah menyanggul rambutmu lagi.aku tidak suka!"
"kenapa?"
"pokoknya aku tidak suka!" balas Nando dengan wajah mengerikan.