
"Hey..mau kemana kau?" tanya Karin saat melihat Nando tidak menyelesaikan makannya. Bahkan dia hanya mengaduk-aduknya dari tadi.
"Aku sudah kenyang kak. Mau istirahat."
"Nando..kau tidak sopan!" Sesaat Nando menghentikan langkahnya lalu menolehkan wajahnya pada Karin yang menatapnya tajam.
"Bawa wanita dan pria itu pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat mereka." lalu dia pergi ke kamarnya tanpa menoleh lagi. Semua orang menatap Sofia iba. Fransisca bahkan menghampiri menantunya itu dan memeluk bahunya.
"Jangan dengarkan anak nakal itu. Momy dan opa yang terlalu banyak memanjakannya dari kecil. Sabar ya..." bisiknya. Sofia hanya mengangguk pelan.
"Anak kurang ajar itu harus diberi pelajaran." ujar Karin dengan tangan terkepal. Bella juga terlihat menahan marah.
"Mulai hari ini kalian berdua tinggal disini." putus Fransisca. Sofia dan Shandy terperanjat karenanya.
"Tan, saya punya rumah sendiri tak jauh dari sini. Tante tinggal menghubungi kalau butuh sesuatu. Saya juga banyak kerjaan tante." gerutu Shandy tidak terima. Akan runyam urusannya kalau dia tetap memaksa tinggal dirumah itu. Jam kerjanya sangat padat. Dari apel pagi, ke kampus, ke rumah sakit belum lagi kesibukannya jadi pembicara seminar. Bisa habis waktunya diluaran. Lagi pula jam kerjanya yang tak beraturan akan membuatnya sungkan keluar masuk rumah itu karena takut menganggu.
"Apa kau tidak ingin menolong sepupumu mempertahankan pernikahannya? atau jangan-jangan kau ingin mereka pisah dan mau menikahi Sofia?" tanya Sisca pelan penuh penekanan.
"Secinta-cintanya saya pada Sofia, saya masih punya iman dan aturan yang wajib saya taati tante. Saya tidak akan merebut Sofia dari suaminya kecuali Nando sudah melepasnya."
"Berarti kau ingin Nando melepasnya begitu?" kini Bella yang mulai ikut-ikutan menghakimi.
"Kalian ini bicara apa? apa kalian pikir tidak ada wanita lain di dunia ini?" ketus Shandy sewot.
"Lalu kenapa kau tak juga menikah sampai setua ini?"
"Tua? enak saja kau bilang aku tua Bell, aku masih tiga puluhan."
"Dasar bujang lapuk."
"Terserah kalian saja." putus Shandy kemudian. Mana mau kaum perempuan mengalah pada makhluk yang namanya laki-laki. Apalagi sekarang 3 banding 1, jangankan menang..seri saja sudah kewalahan. Lebih baik mengalah agar mereka semua diam.
"Besok saja saya kesini tan, malam ini pulang siap-siap dulu sambil menyuruh Kenzo mengurus rumah." putusnya kemudian. Selama ini, kenzo adiknya memang tinggal dimarkas. Hanya kadang-kadang saja menginap dirumahnya atau pulang ke rumah bundanya. Fransisca mengangguk.
"Nanti aku telepon bundamu dan menjelaskan semuanya." selepasnya, Shandy mengajak Bella pulang. Mereka memang datang bersamaan tadi.
Siapa yang tau jika dirinya, Bella dan Nando masih saudara? keluarga mereka sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu. Komunikasipun jarang sejak meninggalnya sang papa, adik Teguh Hutama. Mana Bella tau jika pria disampingnya adalah sepupunya? kedua orang tuanya yang merupakan adik bungsu Teguh Hutama juga telah tiada saat dia masih kecil dan diasuh Fransisca dan Teguh yang lantas dia anggap mama dan papanya. Padahal beberapa kali mereka sudah bertemu di pengadilan saat ada kasus otopsi yang melibatkan Shandy sebagai dokter ahli forensik.
"Sof, kau ingin tidur dikamar Nando atau kamar lain?" tanya Karin lembut.
"Saya akan ke kamar lain saja kak. Mas Nando sepertinya tidak menyukai kehadiran saya." Sofia membatu membereskan meja makan walau sudah berulang kali dilarang.
"Bukan tidak suka, dia itu gengsian." tukas Karin lagi.
"Saya akan tetap tidur terpisah sebelum mas Nando sendiri yang menjemput saya kak."
"Bagus Sofia. Jangan mau mengalah. Tetaplah begitu sampai bocah nakal itu mengakui perasaanya padamu." Karin mengacungkan jempolnya dan membawa Sofia kekamarnya dilantai bawah, bersebelahan dengan kamar Sisca.
" Ini kamar kakak. Tempati saja dulu sampai Nando menjemputmu. Besok kakak sudah harus pulang, suami dan anak kakak menunggu disana. Kau harus tetap semangat, jangan menyerah. Tenang saja...ada momy yang akan menemanimu disini." Karin mengeluarkan baju ganti untuk Sofia. Kebetulan postur tubuh mereka hampir sama hingga tak perlu repot mencarikan Sofia baju untuk malam itu.
"Bagaimana aku bisa tanpamu kak?" keduanya berpelukan. Sofia merasa sangat sedih. Baru sehari bertemu kakak iparnya yang baik hati itu, tiba-tiba dia mau pergi lagi.
"Ada Bella yang akan membantumu dear, percayalah dia adik yang baik. Tanpa aduannya tak mungkin aku dan momy meluangkan waktu kemari." kata Karin menyemangati. Seperti layaknya dua sahabat yang lama tak bertemu, keduanya terus mengobrol hingga larut malam dan tertidur secara spontan.
"Kakak pergi dulu ya...ingat, jangan menyerah. Kakak tunggu kabar baik dari kalian." bisik Karin sambil naik ke mobil yang membawanya menjauh pergi dari rumah mewah tiga lantai itu.
"Sof, hari ini kamu ke kampus?" bisik mama sisca.
"Iya ma,ada apa ya ma?"
"Biar Shandy yang jemput."
"Tapi ma...."
"sssstttt...nurut sama mama. Nanti jam berapa ke rumah sakit?"
"Setelah makan siang ma, pulangnya jam lima."
"Kalau begitu temenin mama belanja ya."
"Tapi...."
"Apa? takut sama anak nakal itu? sudah, jangan takut. Nggak perlu juga minta ijin dia atau mengangkat teleponnya. Nggak penting." ujar sang mertua dalam bahasa Inggris yang fasih. Terdengar aneh memang jika Sisca memakai bahasa Indonesia maka itu dia lebih sering berbahasa campuran tepatnya.
"hmmm..baik ma."
"Diam saja disana, nanti mama jemput ya. Mulai sekarang jangan pamit padanya lagi, kau mengerti sayang?"
"iya ma."
"Gadis baik, sekarang pergilah bersiap-siap. Sebentar lagi kita sarapan."
"Tapi aku harus pulang dulu ma, baju-bajuku..."
"Lihat saja di kamarmu. Mama sudah belikan yang baru. Dan tentang peralatan kerjamu, sopir sudah mengambilkannya tadi."
"Mama terimakasih." kata Sofia dengan suara bergetar. Rasa haru benar-benar menyelimuti hatinya. Mertua yang baik, saudara ipar yang juga baik, keluarga yang juga sangat baik padanya dan mendukungnya sudah cukup membuatnya semangat untuk berjuang. Fransisca memeluknya penuh kasih sayang.
"Momy hanya minta tetaplah bertahan. Mom yakin Nando sangat menyayangimu. Dia tidak pernah mengambil keputusan yang salah saat memilih menikahimu sayang. Sekarang cepat ganti bajumu." Sofia bergegas masuk ke kamarnya dan mengambil setelan formal yang sudah tertata diatas ranjang. Tanpa ragu dia mulai memulaskan make up dan memakai aksesoris yang sudah tersedia lengkap disana. Karin da Bella benar, dia harus berubah.
"Selamat pagi mom." sapa suara seksi dari arah tangga bersamaan dengan Sofia yang juga tiba disana. Senyum Fransisca terkembang sempurna. Lihat anak dan menantunya begitu serasi karena pakaian yang dia siapkan pagi ini. Sesaat Nando melirik Sofia yang tampil anggun berjalan disampingnya menuju meja makan, lalu duduk di depannya tanpa suara. Bau parfumnya masih bisa dia hirup sempurna. Parfum yang sama.
"kenapa dia masih disini?" Tanya Nando tidak suka.
"Tentu saja karena dia istrimu. Menantu mom."
"Tapi ini rumahku mom!" sergah Nando. Fransisca memandangnya tidak suka.
"Jadi kau mau mengusir ibumu dari rumahmu?" tanyanya sengit. Seketika Nando terdiam.
"Bukan itu maksudku mom."
"Mengusir Sofia sama artinya kau mengusir mom. Jika maksudmu tidak begitu maka biarkan dia tinggal disini. Selama dia masih berstatus istrimu maka tempatnya dirumahmu, bukan dirumah lain. Kau mengerti?" kata Fransisca tegas tak terbantah. Jangankan dia, dadynya saja akan berpikir dua kali untuk menyulut kemarahan macan betina ini.
"Aku mengerti mom." balasnya singkat kemudian. selepasnya Nando memilih diam. Tak ada penolakan dari bibirnya saat Sofia mengambilkan roti dan susu untuknya. Ahhh rindu itu?? kenapa bisa kembali meraja dihatinya?