Dear Husband

Dear Husband
Luka



Pelukan Sofia pada perut Fernando makin erat. Tubuh langsingnya sudah melekat erat dipunggung suaminya tanpa jarak. Detak jantungnya memburu.


"lepas!" sergahnya dingin.


"Tidak!" jawab Sofia tak mau kalah.


"Lepas kataku Sofia!!" sentaknya kasar dan berusaha melerai tangan istrinya yang melingkari perut sickpacknya. Tapi sofia tetap tidak ingin menyerah. Dia mempererat pelukannya.


"Meski kau bunuh aku sekarangpun, aku tidak akan melepaskannya." teriak sofia lantang. Tangannya meraba dada Fernanndo yang terbuka.


"Maafkan aku." ungkapnya lagi dengan sepenuh hati. Tubuh Nando melemah. Darah kembali mengucur dari tangannya yang terluka karena pecahan kaca.


"Duduklah mas. Kau bisa kehabisan darah. Apa kau tidak ingin melihat calon anak kita lahir di dunia dan memanggilmu dady?" Sofia terisak tertahan. Bahkan dia sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk suami tampannya hingga harus membawa-bawa calon anak mereka.


Berlahan Nando mengikuti tarikan tangannya menuju sofa dan duduk dengan tatapan lurus ke depan. Dia tidak ingin melihat wajah sofia lagi. Tak ingin menunda, tangan sang dokter bergerak terampil membersihkan darah dan luka itu, mencabut beberapa pecahan kaca yang menembus kulit putih Nando dengan hati ngilu. Baru kali ini dia merasa jika tangannyalah yang terluka hingga merasakan nyerinya. Cekatan dia membungkus lukanya dengan dengan kasa.


"Bik, tolong bersihkan kamar tuan ya. Sekalian bawakan suami saya susu hangat." perintah Sofia melalui sambungan telepon rumah. Tidak mungkin dia turun ke dapur saat Nando memerlukan dirinya seperti sekarang.


Beberapa menit kemudian, bi Mimi datang membawa segelas susu bersama Sarla yang membawa alat kebersihan. Mereka segera membersihkan dan mengepel kamar itu hingga bersih dan kembali wangi juga mengembalikan semuanya kembali ke tempatnya.


"Kami permisi nyonya." pamit keduanya diangguki Sofia dengan ucapan terimakasih. Sofia memaksa Nando meminum susunya walau sangat terlihat jika pria itu enggan meminumnya.


"Keluar! aku mau istirahat!" katanya ketus dengan wajah datar yang menyebalkan. Sofia menatap manik blue ocean itu dalam.


"Aku istrimu, dan aku berhak disini mas." katanya kemudian tanpa keraguan. Tak ada sahutan, Nando memilih mengabaikannya dan naik ke ranjangnya, merebahkan diri. Mata elangnya terpejam. Bayangan Emma yang menghianati dan meninggalkan dirinya kembali berkelabat tanpa henti dalam ingatannya.


Mata Nando melebar. Pria itu segera bangkit dari ranjangnya, meraih kaosnya lalu keluar dari kamarnya. Sofia yang baru saja masuk ke kamarnya tidak menyadari kepergian Nando karena masih mengirimkan sesuatu lewat emailnya. Tampaknya dia begitu berkonsentrasi kali ini.


"Mas, sudah saatnya....lho mas??" Sofia meletakkan begitu saja nampan berisi makanan untuk Nando dimeja. Dia memilih mencari suaminya hingga ke lantai bawah.


"Bik, lihat tuan?" tanyanya pada Sarla yang berpapasan dengannya diruang tengah.


"Tuan bersama tuan Alex ditaman samping nyonya." jawab wanita paruh baya itu. Sofia menyingkap gorden jendela, melongok ke taman. Dia melihat Nando dan alex bicara sangat serius.


"Sebaiknya aku tidak menganggu mereka." gumamnya pelan lalu masuk kembali ke kamarnya. Melihat Nando tak berada di kamarnya tadi sudah sangat membuatnya panik. Dia kembali berkutat dengan laptopnya, menyelesaikan laporannya.


Satu jam setelahnya, ekor mata sofia yang awas menangkap bayangan Nando yang hendak menaiki tangga. Dia memang sengaja tidak menutup rapat pintu kamarnya untuk memantau sang suami. Sofia berjingkat mengikuti tubuh tegap itu ke kamarnya.


"Mas, aku ingin bicara." tapi Nando tetap menulikan pendengarannya. Sedikit geram, Sofia menarik tangan kirinya, membuat pria itu menghentikan langkahnya di depan pintu kamarnya yang berdiri kokoh dengan warna hitam pekatnya.


"Tentang permintaanmu....."


"Gugurkan saja kandunganmu dan pergilah dari hidupku." Potong Nando dingin. Perkataan yang seketika membuat tenggorokan Sofia tercekat.


"Kubilang gugurkan kandunganmu, pergi dan kejar mimpimu Sofia. Tinggalkan aku karena aku tau tidak ada aku atau anak itu dalam impianmu. Sekarang tidak ada paksaan, perjanjian atau balas budi, juga janji antara kita. Aku membebaskanmu dari semua itu." dan Nando masuk lalu menutup kembali pintu kamarnya. Terdengar pintu dikuncibdari dalam meninggalkan kaki Sofia gemetaran. Air matanya lolos begitu saja membanjiri pipi tirusnya yang berubah chuby.


"Mas..buka pintunya!! Buka!! Aku ingin bicara!! Mas. ...!!" berulang kali Sofia mengetuk pintu dan berteriak dari luar, tapi pintu itu tetap terkunci rapat. Sangat rapat hingga tak ada celah baginya untuk bisa masuk kedalam sana. Tubuh semampainya merosot ke lantai begitu saja. Tangis membuatnya memeluk lututnya yang masih gemetar.


"Mas...dengarkan aku! dengarkan aku!!" teriaknya makin melemah berganti tangisan menyayat hati.


"Nyonya." berlahan Sofia mendongakkan kepalanya. Bi Sarla berdiri di depannya. Kepala kerja rumah itu membantunya bangkit berdiri.


"Mari ke kamar anda. Sudah waktunya istirahat." katanya lembut.


"Aku mau bertemu suamiku bi."


"Tidak malam ini nyonya, biarkan tuan muda tenang dulu."


"Aku akan menunggunya bi."


"Ada tuan kecil dalam perut anda nyonya, harap pikirkan dia." Sofia menggelengkan kepalanya dan kembali berjongkok di depan pintu kamar suaminya.


"Nyonya tolong jangan berbuat begitu. Kami bisa dimarahi tuan muda nantinya." bujuk Sarla penuh kelembutan. Tapi Sofia tak bergeming.


"Pergilah bi. Aku akan menunggu suamiku disini."


"Tapi nyonya....."


"Bi, aku istri tuanmu. Perintahku adalah perintahnya juga. Tolong pergi dan tinggalkan aku disini!" Sarla mengangguk. Dia hendak berbalik saat melihat tubuh sang majikan terhuyung. Wanita itu bergegas memapahnya ke sofa.


"Jangan bertindak bodoh nyonya."


"Bantu aku bertemu suamiku bi, aku tidak akan melupakan jasamu seumur hidupku." Sekarang bukan hanya kakinya yang gemetaran, tapi seluruh tubuh dan suaranya ikut bergetar. Sarla menatap nanar sang majikan. Ada rasa iba yang menguasai dadanya.


"Tunggulah disini nyonya." Dan Sarla berjalan menuruni tangga dengan cepat setelah mengucapkannya, meninggalkan Sofia yang masih terpaku di tempatnya.


"Pakai ini nyonya. Temui tuan dan selesaikan masalah kalian secepatnya." Suara Sarla menyadarkan Sofia dari lamunannya.Ternyata dia banyak berpikir hingga tak menayadari jika asisten rumah tangga itu sudah kembali kehadapannya dengan sebuah anak kunci. Dahi Sofia berkerut.


"Dari mana kau mendapatkannya bik?"


"Tuan mempercayakan pada saya semua anak kunci cadangan dirumah ini nyonya." balasnya datar. Sarla memang pembantu yang paling lama mengabdi pada keluarga Hutama hingga diangkat sebagai kepala pelayan.


"Kau bisa dipecat bi." desis Sofia penuh penekanan. Dia sangat tau konsekwensi dari perbuatan Sarla kali ini. Suaminya juga bukan pria berhati malaikat yang dengan mudah memaafkan seseorang.


"Saya akan menanggung akibatnya asal anda berdua bisa bahagia nyonya." Sofia memeluk erat tubuh Sarla. Berulang kali dia mengucapkan terima kasih pada sang pembantu dan kebaikannya.