
Adzan subuh berkumandang saat Fernando menggeliat pelan dan membuka matanya. Dia tersenyum tipis kala mengurai pelukannya dari tubuh Sofia yang masih bergelung manis dalam pelukannya. Berlahan juga dia menarik lengannya yang terasa kebas karena dipakai sebagai bantalan tidur wanitanya. Dia yang awalnya hanya ingin menghangatkan tubuh Sofia yang bergetar kedinginan menjadi tertidur nyaman bersama hingga pagi tiba.
Berpisah dari Emma membuatnya lupa berapa lama dia tidak lagi mendekap seorang wanita dalam tidurnya. Dulupun dia sudah jarang berinteraksi secara intim setelah menikah dan tau Emma hamil anak kakak kandungnya. Hanya saat-saat tertentu begitu Elle lahir dia berada sangat intim dengannya. Itupun karena dia laki-laki normal yang membutuhkan belaian. Apa lagi Emma masih istrinya. Perasaan cinta dalam hatinya dengan mudah mengikis semua kesalahan dan sikap buruk Emma. Yah, Nando berusaha memaafkan mantan istrinya itu dan membuat Emma berjanji tidak akan melakukan hubungan incest lagi.
Tapi Nasi sudah menjadi bubur. Emma bukan orang yang menepati janji seperti harapan seorang Fernando. Memang benar, wanita cantik adalah kelemahan seorang pria..tapi juga sumber masalah terbesar bagi mereka. Wanita cantik adalah lautan rahasia terdalam melebihi palung mariana. Nando kembali memergoki mereka dalam sebuah hotel dengan bantuan pengawalnya. Dia yang kalut mengusir Emma dan Elle dari rumah, berharap wanita itu menyadari kesalahannya dan bertobat. Tapi sekali lagi Emma bukan wanita seperti yang dia harapkan. Bukannya bertobat, dia malah ingin mencelakai Elle dalam kecelakaan itu.
"Kau sudah bangun?" Sofia yang merasakan pergerakan disampingnya ikut terbangun.
"hmmmm."
"Mau mandi? lalu kita sholat subuh."
" Mas Nando duluan saja." Yang sebenarnya Sofia memang enggan mandi karena tubuhnya terasa meriang dan kepalanya sangat pusing.
Nando bergegas ke kamar mandi lalu membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian dia selesai dan digantikan Sofia yang berjalan pelan..bahkan sangat pelan.
Menit demi menit berlalu tapi Sofia tak kunjung keluar dari kamar mandi. Dahi Nando mengernyit heran. Tidak biasanya wanita itu mandi selama ini, apalagi pagi hari. Pria tampan itu bergegas mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Sofia ..kenapa lama sekali, subuh hampir lewat. Ayo cepat. Atau kau ingin aku sholat duluan?"
"iya mas. Aku segera keluar." jawab Sofia dari balik pintu. Nando menghela nafas lega. Mungkin dia terlalu khawatir hingga berpikir yang tidak-tidak tentang keadaan Sofia saat ini.
Sofia segera mengenakan mukenanya lalu mengambil tempat dibelakang suaminya yang sudah berdiri mengenakan baju koko putih bersihnya. Dua rekaat mereka tunaikan dengan khusyuk. Sofia segera mencium tangan suaminya usai mengucapkan salam.
"Kau...dahi dan tanganmu panas. Kau sakit?"
"Hanya sedikit meriang mas." jawab Sofia lemah hendak berdiri. Namun Nando menahan tangannya. Dia menempelkan tangan di dahi Sofia, mengecek suhu tubuhnya. Benar, suhu tubuh istrinya panas.
"Kita kedokter!" katanya dengan sorot mata tak terbaca. Bolehkah jika Sofia berharap pria dihadapannya khawatir pada keadaannya? aahh...mungkin terlalu dini baginya menyimpulkan hal itu. Baru tadi malam mereka bicara dari hati.
"Itu tidak perlu.Kau lupa jika aku juga seorang dokter?"
"Dokter juga manusia Sofia.Kau juga perlu orang lain untuk memeriksamu." Sofia hanya menunduk lelah. Kepalanya benar-benar terasa berat. Nando mengambil langkah cepat. Pria itu berdiri untuk mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi dokter keluarga mereka.
"Tidak usah mas. Bisa tolong bantu aku berdiri? Aku akan menulis resepnya. Tolong belikan saja obat yang kubutuhkan di apotik." ujar Sofia seraya menggapai tangan kiri Nando, tapi pria itu sudah bergerak lebih dulu menggendongnya ke tempat tidur dan merebahkannya disana.
Sofia segera menulis resep dan diserahkan pada Nando yang segera menghubungi Alex yang baru tiba di lantai bawah. Sekretaris utama Alfarizi itu langsung menuju kamar sang tuan.
"Selamat pagi tuan." sapanya begitu pintu terbuka.
"Pagi. Lex, belikan obat di apotik sekarang juga."
"Baik tuan. Maaf, apa tuan baik-baik saja?" tanyanya. Matanya yang menatap kedepan melihat tubuh Sofia yang terbaring diatas ranjang tanpa selimut. Nando yang mengikuti arah pandang sekretarisnya seketika menjadi geram.
"Apa yang kau lihat? berani sekali kau melihat tubuh istriku? dia yang sakit. Jadi cepatlah dapatkan obatnya dan segera kembali kemari!" bentak Nando. Alex segera mengambil kertas resep dari tangan tuannya lalu mengangguk hormat.
" Baik tuan muda." dan sekretaris itu melesat pergi secepat mungkin. Dalam hati Alex menggerutu, bagaimana dia bisa lupa jika tuannya sekarang sudah beristri? melihat ke dalam kamar majikan adalah pelanggaran berat bagi seorang asisten sepertinya.
"Menyiapkan sarapan dan lemon hangat untukmu. Baju dan perlengkapan kerjamu juga belum disiapkan." Nando menggelangkan kepalanya tanda tidak setuju. Sofia wanita yang amat bertanggung jawab. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Nando saat ini. Dalam kondisi sakitpun, istri dokternya itu masih memikirkan kewajibannya.
"Sudah ada pembantu yang menyiapkannya."
" Tapi mas..."
"Kau sedang sakit, maka istirahatlah. Dan lagi..aku tidak akan kemanapun hari ini." Ucapnya santai lalu menyelimuti tubuh Sofia. Dia juga menelepon pelayan rumah untuk menyiapkan bubur dan minuman hangat untuk istrinya.
Ketukan pintu terdengar, Alex berdiri disana seraya menyerahkan bungkusan obat pesanan Sofia. Dibelakangnya, seorang pelayan membawakan bubur dan teh hangat untuk Sofia.
"Letakkan disana!" Alex mengambil alih nampan dan masuk ke kamar besar itu tanpa berani melihat kemanapun.
"Saya permisi tuan."
"Tunggu. Kosongkan semua jadwalku hari ini. Kau pergilah ke kantor sendiri, handle seluruh pekerjaan dan kirim laporannya ke emailku." perintah Nando pelan. Dia sama sekali tidak ingin mengusik Sofia.
"Baik tuan, saya permisi."
Sepeninggal Alex, Nando langsung meraih mangkok bubur dan membangunkan Sofia.
"Makanlah dulu, lalu minum obatnya."
"Aku...aku bisa makan sendiri mas."
"Kau pikir aku akan mengijinkanmu? No! makan dari tanganku, atau aku akan menyuapimu dengan caraku!"
Sofia membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari suaminya. Tubuhnya bertambah meriang dengan kepala berputar-putar. Dia harus segera minum obat dan istirahat. Berdebat dengan Nando hanya akan menyita waktunya. Dia tau tuan muda itu tidak akan mau mengalah.
"Sudah cukup mas, aku sudah kenyang."
"Tapi baru beberapa suap. Lagi ya..."
Sofia menggeleng dengan wajah memelasnya. Nando yang tak tega melihat wajah istrinya mengiyakan saja dan mengambilkan obat sesuai petunjuk Sofia.
'Tidurlah...." ujar Nando sambil kembali menyelimuti tubuh sang istri. Hari ini perasaan bersalahlah yang mendominasi hatinya. Bagaimanapun Sofia sakit karena perbuatannya.
"Aku harus minta ijin dulu."
"Aku sudah menelepon atasanmu."
"mas..."
"kenapa? aku suamimu dan berhak melakukannya bukan?"