
Satu jam adalah waktu yang singkat untuk pertemuan ibu dan anak yang saling merindukan. Berat rasanya berpisah lagi dari Elle. Sofia berulang kali menegadahkan wajah hanya untuk menahan air matanya yang akan jatuh dan tetap tersenyum didepan sikecil.
Dari Elle, Sofia tau jika nando maupun Alex sama-sama memberitahu jika Sofia sedang sangat sibuk dengan pekerjaanya dirumah sakit hingga jarang bisa pulang, mau tak mau Elle dititipkan kembali pada Bella. Padahal kenyataanya, Sofia hanya bekerja sesuai jadwal yang ada tanpa mengiyakan ajakan beberapa rekan yang membuka praktek diluar untuk menambah penghasilan dan pengalaman. Lagi, hati Sofia teriris. Dia tau..Nando tidak main-main dengan rencana memisahkan dia dan Elle.
Ingin rasanya bibirnya berteriak dan mengatakan jika semua itu bohong. Dia bahkan selalu punya banyak waktu luang untuk sekedar mengantarkan Elle sekolah, menemaninya tidur, menyiapkan keperluannya dan mengurusnya dengan baik. Tapi dia bisa apa? Nandolah orang yang paling berhak mengatur hidup Elle. Dia hanya ibu sambung yang tidak punya banyak pilihan dan kewenangan walau dia ingin.
Susah payah Sofia membuat banyak janji dan alasan agar Elle tetap bahagia meski mereka akan kembali berpisah. Tak tega rasanya melihat netra kecil itu berkaca. Bagaimanapun dia seorang wanita yang punya jiwa keibuan yang kuat jauh direlung hatinya yang paling dalam.
Suara deheman Alex menyadarkan keduanya dan saling mengurai pelukan. Bella minta ijin membawa Elle masuk dengan alasan sholat maghrib. Pun Sofia juga mengecup pipi anak itu dan berjanji akan datang lagi. Hanya kalung kecil hasil jerih payahnya menabung selama bekerja yang bisa dia berikan pada putri kecilnya. Hanya emas biasa. Kalung berliontin bintang bermata putih, satu-satunya yang dia punya.
"El, jadilah seperti bintang yang punya cahaya sendiri. Dia putih diantara gelap. Dia berkilau walau kecil dari pandangan mata. Jaga dirimu baik-baik. Nanti setelah mama bebas tugas, mama akan menjemputmu lagi princes. Jangan Nakal ya." nasihat Sofia diangguki kuat oleh Elle. Atensi gadis kecil itu masih terfokus pada kalung pemberian sang mama yang memang terlihat berkilau ditimpa cahaya lampu.
Setelah berpamitan, Sofia keluar meninggalkan kediaman sang mertua.
"Kak tunggu!!" teriak Bella dari dalam rumah. Sofia yang hampir mencapai gerbang menghentikan langkahnya dan menoleh. Bella berlari cepat kearahnya.
"Sudah malam, menginaplah disini." pintanya seraya mengatur nafas. Sofia tersenyum gamang. Ingin rasanya mengiayakan ajakan Bella, namun dia ingat jika sekarang dia adalah wanita bersuami. Tugasnya adalah berada dirumah saat suami pergi. Menginap dirumah siapapun tidak dibenarkan tanpa ijin suami bukan?
"Belum terlalu malam Bel, sebentar lagi ojek online yang kupesan datang." Bell membelalakkan matanya tak percaya.
"Apa? ojek? ohh astaga...apa kata kak Nando jika istrinya naik ojek?"
"Dia sudah tau dan itu tidak jadi masalah buatku."
"Tak jadi masalah buatmu, belum tentu masalah untuk kak Nando. Pernahkah kau berpikir untuk menjaga nama baiknya kak? bagaimanapun dia bukan pria biasa. Apa kata orang nanti? bagaimana jika kak Nando dituding bersikap kejam pada istrinya?"
"Itu tidak akan terjadi."
"Kau terlalu percaya diri kak. Tidak semua yang ada dalam pikiranmu adalah realita. Kak Nando punya banyak rival dan kolega. Tidakkah kau merasa bersalah jika nantinya dia jadi bahan gunjingan yang akan merusak repurtasinya? bagaimana jika sahamnya anjlok? yang kak Nando pikirkan adalah nasib ribuan karyawan yang bekerja padanya, bukan hanya sebuah keluarga." jelas Bella panjang lebar. Sofia dan dia sama-sama beradu pandang.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Nikmati saja semua fasilitas yang diberikan kak Nando. Dan....." Bella berjalan pelan memutari tubuh Sofia.
"Sudah saatnya kau menjadi nyonya muda Hutama yang sebenarnya."
"Maksudmu?" tanya Sofia tidak mengerti.
"Apa kak Nando meninggalkan kartu kredit untukmu?"
"ya."
" Bagus. Besok jam 9 aku akan menjemputmu dirumah. Sekarang kakak pulanglah, biar sopir yang mengantarmu." ujar Bella sambil menarik lengan sang ipar manuju mobil hitam yang terparkir dihalaman rumahnya.
"Antarkan nyonya muda pulang." perintahnya pada sang sopir yang langsung menjalankan tugasnya, membawa nyonya muda Hutama menuju kediaman Fernando.
Tepat jam 9, Bella benar-benar sampai didepan pintu rumah Fernando dan mendapati sang ipar yang membukakan pintu untuknya.
"Ayo."
"kemana?"
"ohh maafkan aku. Silahkan duduk." dan Bellapun mengambil tempat duduk disofa yang sama dengannya.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur kak."
"Hmmm."
"Apa kau benar-benar ingin berpisah dari kakakku?"
"Dulu aku berpikir..."
"jawab iya atau tidak saja kak!" potong Bella cepat. Matanya menatap tajam dan penuh selidik. Sofia tidak bisa membayangkan betapa garangnya wanita muda didepannya itu saat berada dipersidangan.
"Aku..”
" Kau hanya perlu satu kata saja." interupsinya serasa mengintimidasi lawan.
"Tidak." seulas senyum terbit dari bibirnya.
" Apa kau mencintai kak Nando?"
" Pertanyaan macam apa in Bel?" protes Sofia tak mengerti.
" sama seperti tadi..kau cukup menjawab iya..atau tidak."
" tidak!"
"Hnmm..baiklah, akan kubuat kalian menjadi saling mencintai. Ayo Kak!" Tangan kuatnya sudah menarik lengan Sofia dan menggiringnya kedalam mobil. Tak dia acuhkan banyak pertanyan dari bibir Sofia yang ingin tau kemana dia akan dibawa pergi sepagi itu hingga mereka tiba disebuah Mall raksasa.
” Mana kartu kredit kak Nando?"
"untuk apa Bel? aku tidak ingin memakainya."
"Sudah sini kak." mau tidak mau Sofia merogoh tasnya dan menyerahkan kartu itu dengan ribuan pertanyaan dikepalanya.
”Tapi Bel..."
"Sekali-kali memanfaatkan uang suami juga bukan dosa kak. Apalagi ini untuk keutuhan rumah tangga kalian.” sela Bella sambil menarik tangan Sofia memasuki butik terkenal di pusat kota. Mau tidak mau, Sofia menurutinya. Mewah...itulah kesan yang pertama dia rasakan mengenai tempat itu.
Pemandangan baru bagi dokter dari kampung sekelas Sofia yang meski mengenyam pendidikan hingga kuliah dikota besar, namun keterbatasn mendominasi kehidupannya.Jangankan masuk ke butik, toko baju saja jarang. Mahasiswi jalur prestasi sepertinya hanya mampu beli baju dipasar. Bertahan hidup dan sekolah dikota besar mengharuskan dirinya lebih bijak dalam memilih.
" Tolong pilihkan baju untuk kakak saya dari kasual, resmi hingga ke tempat kerja. Kakak saya ini seorang dokter." perintah Bella pada dua pelayan disana.
"Bel, kenapa harus begini? aku tidak butuh baju baru. Kembalikan kartu itu pada mas Nando. Aku bisa membeli pakaianku dengan gajiku sendiri." tolak Sofia enggan beranjak dari sana.
"Turuti saja kemauanku kak. Ini juga demi kebaikanmu, Elle dan kak Nando."
"Tapi...."
"Sudah mbak, bawa kakak saya pergi." kata Bella kembali menginterupsi.