
"Prof....tunggu!!" teriak Sofia memanggil seseorang yang melintas di lorong kampus. Pria yang sudah sampai disamping mobilnya itu mengentikan gerakannya yang hendak membuka pintu. Sofia segera berlari menyusulnya dengan nafas terengah.
"Maaf, saya terlambat. Bisakah saya konsultasi dengan anda sekarang sebentar saja?" Pria tadi menatap Sofia dari atas hingga bawah dengan dahi berkerut. Aneh memang mahasiswinya yang satu ini. Dia sudah terlambat jam konsultasi tapi masih berharap ingin bertemu diluar jadwal. Harus bagaimana dia menyebut wanita muda dihadannya itu? tak disiplin atau nekat?
"Anda tidak lihat saya sudah keluar ruangan dan ingin ketempat lain? lagi pula anda sudah terlambat dokter sofia." katanya dingin. Sofia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya lalu tersenyum samar.
"Masih ada tujuh menit lagi prof." balasnya kemudian dengan wajah penuh harap. Shandy juga melihat jam tangannya. Benar, masih ada sisa 7 menit seperti kata Sofia.
"Apa anda yakin bisa konsul dalam 7 menit tersisa?"
"Bisa jika kita tidak terlalu lama berdebat dan anda mengijinkan saya konsul prof."
"Tapi saya ada janji dengan keluarga. Harus berangkat sekarang. Hanya sedikit peringatan..datanglah lebih awal jika ada perlu dengan saya." masih dengan nada dingin dan mata tajam, Shandy membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Sofia sudah mundur selangkah dan memberi jalan pada dosennya itu. Dia cukup tau diri dan mengakui kesalahannya. Mungkin dia akan menunda beberapa hari kedepan. Tak apalah menunggu, dia juga tidak akan mati jika harus menunggu. Menyelamatkan nyawa seseorang jauh lebih penting bukan?
"Sofia !!" teriakan sesorang dari arah belakang menghentikan lamunan Sofia. Rosa, sahabatnya datang sambil membawa map hijau miliknya.
"Kau melupakannya." tegur Rosa sambil meletakkan map itu ditangannya.
"Jangan berlari Ros, kau sedang hamil." Rosa hanya nyengir kuda menanggapi peringatan sahabatnya itu. Sudah berapa kali Sofia mengingatkan dirinya untuk hati-hati, namun sifat kekanakannya selalu mendominasi. Mulai dari senang berlari-lari, manja dan senang merajuk bercampur jadi satu. Bawaan bayi mungkin.
"Aku hanya takut kau gagal konsultasi karena inimu ketinggalan. Lagian kenapa juga pak Usman harus kumat epilepsinya. Hampir kejebur kolam pula." dengus Rosa sebal. Pak Usman adalah tukang kebun kampus yang tiba-tiba kambuh. Siapa yang menyangka, dia punya penyakit epilepsi dan kambuh disaat yang genting itu. Sofia jadi terlambat konsul karenanya.
"Sudahlah. Lagipula aku sudah terlambat. By the way makasih ya." sahut Sofia dengan nada sedih. Sekilas Rosa melirik kearah Shandy yang masih memanaskan mobilnya dalam posisi pintu terbuka. Rosa tau, sedikit banyak pria itu mendengar percakapan mereka. Tapi siapa menjamin pejabat militer sekaligus dosen mereka itu peduli? semua orang tau dari latar belakangnya, prajurit hanya tau kedisiplinan. Rosa menarik nafas dan menepuk pelan lengan Sofia.
"kalau begitu ayo pulang. Masih ada hari lain ok?" Rosa tersenyum manis,dia sangat tau Sofia sedih karena hal itu. Dia sangat berharap bisa konsultasi dan menjalani semuanya dengan lancar jika memungkinkan malah lulus dengan cepat karena baik dulu atau sekarang sahabatnya itu selalu punya masalah.
"Ternyata menolong orang lain itu sesusah ini ya? aahh sudahlah.Ayo pergi." ajaknya sambil menarik lengan sang sahabat.
"Bagaimana jika saya menawarkan 7 menitnya ditempat lain saja. Kantor saya misalnya." keduanya menoleh, mendapati Shandy yang berdiri gagah disana.
"Maksud anda apa prof?" tanya Sofia tidak mengerti.
"Baik prof, saya akan tiba disana lima belas menit setelah anda sampai."
"Siapa yang bisa menjamin anda tidak terlambat dokter?" Keduanya saling menatap. Keresahan sofia juga dirasakan Rosa. Andai dia tidak hamil besar dan Deo tidak melarangnya membawa mobil, keadaan tentu tak serumit ini. Dia akan dengan suka rela mengantar Sofia kebatalyon sekalian mengajak Deo makan siang. Berarti Shandy benar. Tak ada yang menjamin Sofia datang tepat waktu karena butuh beberapa menit menunggu ojol atau taksi online untuk datang kesana. Pun jika Rosa memanggil sopirnya, itu akan memakan waktu lebih lama.
"Ikut saya saja." tegas Shandy kemudian.
"Maksudnya saya...."
"Anda ikut bersama saya. Setelah konsul, terserah." Rosa segera saja menjawil lengan sahabatnya yang terlihat bimbang. Berduaan di dalam mobil dengan seorang pria dalam posisi dia sudah menikah akan menimbulkan salah paham. Tapi sudah terlanjur basah. Dia tak punya pilihan selain setuju. Namun Sofia yakin, orang selevel Shandy tidak akan berbuat aneh-aneh. Dia hanya trauma jika kejadian di depan rumah Maya tempo dulu akan terulang.
"Baik. Saya ikut pak." putusnya kemudian, mendapat acungan jempol dari Rosa yang langsung melambaikan tangannya dan kembali berlari kecil menjauh dari sana. Sofia sampai harus menggelengkan kepalanya. Sahabatnya itu memang badung. Baru juga beberapa menit lalu dia mengingatkan, sekarang malah diulang.
Bergegas dia memutari mobil Shandy dan membuka pintu depan.Sesaat kemudian dia sudah duduk manis di samping sang dosen. Pria gagah berambut cepak itu segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke batalyon. Rupanya dia benar-benar takut terlambat.
Mereka sampai dalam beberapa menit. Terlihat suasana lengang. Hanya ada beberapa tentara jaga di pos atau berlalu lalang. Siang begini kemana saja mereka? batin Sofia sambil celingak-celinguk dibelakang langkah Shandy. Makin kedalam makin banyak para prajurit berlalu lalang. Tak jarang mereka memberi hormat pada sang komandan.
"San! oohh hay...kalian berdua...." Tiba-tiba Deo muncul dari balik pintu dengan seragam militernya. Rupanya dia menyapa Shandy. Pantas saja Rosa begitu bangga menjadi istri prajurit. Suaminya tampan begitu, batin Sofia lagi.
" Kami ada konsultasi sebentar lagi." jawab Shandy pendek lalu melangkah lebar diruangan disamping ruangan Deo tadi.
"Masuklah dan tunggu saya disini. Sebentar saya kembali." Dan Sofia hanya mengangguk kecil, mendaratkan pantatnya di sofa.
Menit demi menit berlalu, hampir lima belas menit menunggu membuat Sofia diserang kantuk. Dia masih berusaha menahannya dengan memainkan sebuah aplikasi di ponselnya. Pintu diketuk dari luar dan memunculkan sebuah wajah yang ....oh Ya Ampun....tampan!
"Maaf lama menunggu. Silahkan duduk. Apa yang ingin anda konsultasikan?" Sofia masih terpana melihat tampilan Shandy saat itu. Pria itu bahkan lebih gagah dan tampan dari Deo. Tampilannya sangat maskulin dengan seragam militer dan sepatu khasnya.
" Dokter...anda baik-baik saja?" tanya Shandy setelah beberapa menit melihat Sofia diam tanpa jawaban.
"Eehh..iya..ehm..maaf prof. Jadi maksud saya....."