Dear Husband

Dear Husband
Emily



Sofia baru akan meletakkan stetoskopnya di meja saat ponselnya berdering.


'Nando.'


Baru juga beberapa jam berpisah, tapi suaminya itu sudah kumat meneleponnya layaknya ******* terkenal. Sofia juga amat heran dengan sifat posesif Nando setelah tau dia hamil. Jangankan sehari, satu jam saja dia sudah berulang kali mengirimkan pesan untuk mengingatkannya ini itu layaknya emak-emak pada anaknya yang masih usia TK. Jenuh mendengar deringan telepon, dia mengangkatnya.


"Asalamualaikum mas, ada apa?"


"ehm..walaikumsalam sayang. Eeeng...cuma kangen aja." what?? apa dia bilang tadi? kangen😆😆?? rasanya Sofia ingin tertawa keras saat mendengarnya. Mulai kapan suami dinginnya berubah selembut sutra, baperan pula.


"Cuma itu?" Ingat dengan program perang dinginnya, Sofia masih bersikap tenang saja dengan suara datar, menahan tawanya dalam diam.


" Aku akan menjemputmu untuk makan siang."


"Maaf, aku sedang sibuk. Lain kali saja."


"Hmmm ...baiklah, masih banyak waktu untuk berdua. Yang penting kamu tidak lupa makan."


Suara Nando masih terjeda saat seseorang memasuki ruangannya, pasti Alex karena sedikit banyak Sofia hafal suara sekretaris suaminya itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Walau teleponnya masih tersambung namun Sofia kurang bisa mendengar percakapan serius mereka.


"Sayang, apa kau masih disana?" tanya Nando setelah Alex pergi.


"Hmmmm."


"Temani aku meeting dengan tuan Roy jam 5 nanti. Aku akan menjemputmu." rasanya kali ini Nando sudah kembali ke formasi awalnya. Tukang perintah.


"Tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian. Tuan Roy ingin aku membawa istriku. Apa aku harus menikah dua kali jika kau tak bersedia ikut denganku?" Tangan Sofia terkepal. Menikah lagi? laki-laki kaya memang selalu semaunya. Kata menikah lagi bahkan sudah bisa membuat moodnya berantakan.


"Terserah." pungkasnya kemudian.


"Baik, aku akan menikahi Alex setelah ini." jawabnya datar. Kalau dipikir-pikir suaminya ini berubah makin ngelantur. Bagaimana bisa dia menikahi laki-laki. Atau mungkin dia juga seorang biseksual? hiii...membayangkan saja sudah membuat Sofia mual.


"Jika sudah tidak ada lagi yang mau kau bicarakan, aku akan menutup teleponnya. Aku sibuk."


"Sayang...kumohon...temani aku." rengek Nando bak anak kecil yang ingin dibelikan permen oleh ibunya.


"Baiklah." Sofia yang jengah buru-buru menjawab. Dia tau sekali jika relasi bisnis Nando kali ini sangat penting baginya. Semarah apapun dirinya pada Nando, dia masih tak tega melihat suaminya itu datang tanpa pasangan untuk menemui koleganya.


"Terimakasih sayang. Tunggu aku disana." Nando lalu mengucapkan salam sebelum menutup teleponnya.


Sofia kembali disibukkan dengan tugasnya hingga sore menjelang. Anehnya tidak ada rasa lemas seperti yang dirasakan ibu hamil pada umumnya. Sofia hanya merasa malas bangun saat pagi hari saja. Itupun lebih karena dia ingin menghindari interaksi lebih dengan Nando.


"Dok, ada pasien yang kena serangan jantung setelah turun dari pesawat." lapor seorang suster muda saat Sofia baru masuk kembali ke ruang UDG. Tergesa dia meletakkan ponselnya lalu beranjak mencuci tangan di wastafel, tak lupa menganakan sarung tangan lateksnya.


"Sudah dilakukan pertolongan pertama?"


"Sudah dok." perawat itu lalu berjalan lebih dulu menunjukkan brankar pasiennya sekalian membacakan hasil pemeriksaan awal.


"Emma ....." desis Sofia tidak percaya. Tatapannya nanar melihat sang pasien yang masih terkapar tak sadarkan diri. Tangan Sofia sedikit bergetar saat menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Ya...dia sangat tau jika wanita dihadapannya sekarang adalah Emma, mantan istri suaminya. Walau belum pernah bertemu secara langsung, Sofia sudah sangat hafal karena Pernah beberapa kali melihat fotonya. Tapi bagaimana bisa? bukankah Emma sudah meninggal?


"Ehh...iya maaf." perawat tadi hingga harus menepuk bahunya karena berulang kali memanggil tapi tak dihiraukan oleh dirinya.


"Dokter baik-baik saja?" tanya perawat itu memastikan dengan pandangan bingung. Tak biasanya Sofia tenggelam dalam lamunan saat bertugas. Bahkan Sofia termasuk dokter yang disiplin dan sangat profesional.


"Ya, maaf saya kurang fokus tadi. Siapa nama pasien?" kali ini Sofia mencoba memastikan dari pada hanya menduga-duga tidak jelas.


"Emily."


"Nama lengkapnya?"


"Emily Moraima."


"Hmmmm." Sofia lalu memeriksa kondisi Emily lalu memberikan beberapa resep suntikan yang akan dimasukkan dalam infus tanpa menunggu seniornya mengingat pasien bernama Emily itu hanya terkena serangan jantung ringan.


"Apa keluarganya ada?"


"Kurang tau dok, dia dibawa kemari oleh petugas bandara. Tapi kata petugas itu sebentar lagi kelurganya akan datang karena sudah dihubungi."


"Hmmmmm...baguslah." Sofia lalu kembali ke tempat duduknya, tak lupa meminta data diri pasien.


"Emily Moraima...wanita kelahiran Australia yang entah untuk tujuan apa datang kemari. Yang membuat Sofia resah dan penasaran adalah wajah sang pasien yang membuatnya mirip Emma.


"Dok, suami anda menunggu diluar."


"hhhh...baru jam berapa ini?" Sofia spontan melihat jam tangannya. Benar, tepat pukul 5. Nando datang sesuai janjinya. Padahal dia merasa barusan jam 3, tapi jam bergerak cepat hingga tak terasa olehnya. Mungkin karena dia sibuk memikirkan Emily.


Sofia segera mengucapkan terimakasih pada perawat tadi dan berkemas dengan tempo cepat. Dia sangat hafal, Fernando tidak suka menunggu. Tak berapa lama, dia keluar dengan langkah lesu. Jangankan mandi, merapikan riasannya saja dia tidak sempat.


"Sayang.'' sapa Nando. Sofia hanya bergumam dan mencium punggung tangan suaminya.


"Kau terlihat lelah."


"Sedikit."


"Sudah makan?" Nando bergerak mengelus perutnya lembut. Berulang kali Sofia menepisnya lembut karena mereka berada di area umum, namun Nando tetap melakukan lagi dan lagi.


"Sudah tadi."


"Kalau begitu kita batalkan saja meetingnya." Sofia melebarkan matanya.


"Kenapa begitu?" protes Sofia galak.


"Kita bisa bertemu tuan Roy lain kali. Yang terpenting adalah kesehatanmu dan juniorku. Berapapun keuntungan yang kudapatkan dalam kerja sama ini tetap tidak bisa membeli kebahagiaan dan keselamatan kalian." balas Nando lembut, membuat Sofia trenyuh.


"Aku tidak apa-apa mas. Kita kesana sekalian makan." sejak hamil memang Sofia menjadi sangat doyan makan.


"Sayang ..." cegah Nando masih dengan wajah khawatir yang membuat Sofia geli.


"Aku dokter dan aku tau batasanku mas."