
"Sebaiknya bu dokter jangan menghidupkan ponsel malam hari. Matikan saja jika tidak penting. Kalau ada apa-apa, saya dan mas Reza siap membantu 24 jam." Nasihat Susan kala mereka sudah keluar dari rumah itu lirih. Wanita itu juga mengantar Sofia hingga depan pagar rumahnya. Entah kenapa dia bisa begitu kesal dengan kelakuan Andre tadi. Jelas-jelas dia sehat, tak sakit apapun tapi masih saja pura-pura sakit dan memanfaatkan kebaikan Sofia. Pria itu juga menyuruh ini itu seenaknya seolah Sofia adalah istrinya saja. Berulang kali dia melarang Sofia menuruti permintaan aneh itu, tapi tampaknya nyonya muda Hutama itu tipe wanita baik hati, ringan tangan dan tidak tegaan.
"Kadang saya memerlukan ponsel untuk menelepon sahabat atau keluargaku di desa mbak. Hanya malam hari saja saya bisa leluasa memegang ponsel."
"Kalau begitu pakai saja nomer baru yang hanya orang-orang tertentu saja yang tau." saran Susan serius.
"Akan saya coba mbak. Nanti saya pakai ponsel satunya saja." putus Sofia kemudian. Sejak Susan tinggal di depan rumahnya, Sofia memang merasa punya teman. Tetangga barunya itu tak segan mengirimkan makanan kala dia pulang kemalaman dan tak sempat memasak. Reza suaminya juga selalu mengecek pintu pagar sebelum masuk ke rumahnya. Sofia merasa sedikit tenang dirumah.
" Baik bu dokter, saya pamit dulu. Jangan lupa kunci pintu."
"Mbak Susan ini seperti petugas keamanan saja." kelakar Sofi karena melihat wajah Susan berubah serius. Padahal baru satu kali dia lupa mengunci pagar karena tergesa-gesa masuk rumah. Saat itu perutnya sedang mulas berat. Dan Reza yang menguncinya kemudian.
"Tugas saya memang menjaga bu dokter."
"Manjaga saya??"
"Ehh..maksud saya bukannya kita hanya ada tiga rumah yang ditempati disini? kita harus saling menjaga satu sama lain bukan?" ralat Susan karena merasa Sofia sudah mulai salah paham. Sofia hanya menganggukkan kepalanya.
"Hhmmm baiklah, saya permisi bu."
"iya mbak. Terimakasih sudah menolong saya."
" Sama-sama bu dokter. Selamat malam." Lalu wanita muda itu berjalan kembali ke rumahnya. Reza bahkan sudah membuka pintu sebelum dia mengetuknya. Apa pria itu menunggui istrinya di dekat pintu? Kenapa mereka berdua selalu saja sudah membuka pintu sebelum ketukan kedua? apa ruang tamu mereka sudah diubah jadi kamar tidur sekarang?
Lelah berspekulasi, Sofia memilih masuk ke rumah. Merebahkan dirinya ke kasur. Memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan rumah tangganya saja suda benar-benar membuatnya lelah. Dia seperti sudah tidak mungkin mengharapkan Fernando kembali. Pria itu bahkan sudah seperti menghilang ditelan bumi. Tak ada yang tau keberadaanya hingga kini atau bisa dibilang menutupi.
Apa dia akan terus menunggu? rasanya tidak. Karena hari ini, setelah kejadian Andre sudah membuatnya tidak nyaman lagi tinggal disini. Jarak dari rumah sakit atau kampusnya ketempat ini juga lumayan jauh. Dalam posisinya kini dia harus banyak berhemat. Memutuskan kost saja di dekat rumah sakit adalah pilihan terbaik. Dia bisa hemat ongkos karena bisa kesana hanya dengan berjalan kaki saja.
Mengembalikan rumah itu pada Rosa juga sudah dia pikirkan masak-masak. Sahabatnya itu pasti tau keadaanya sekarang. Dia butuh banyak uang untuk lulus spesialis. Uang dari Rosa bisa dia gunakan untuk cadangan. Kalaupun tidak dikembalikan semua toh dia sudah harus bahagia karena tidak memikirkan kekurangan pembayarannya.
Sofia hanya seorang diri di kota itu. Rumah terlalu besar untuknya tinggal sendiri walau tipe kecil sekalipun. Rasanya memilih kamar kost yang nyaman kedengarannya lumayan baik. Dia juga akan punya banyak teman disana. Tak seperti sekarang.
..... Rosa Calling........
"Sof, kamu nggak pa-pa kan? perasaanku tiba-tiba tidak enak." kata sahabatnya itu resah. Sejak hamil Rosa memang sedikit aneh dan sensitif. Hormon kehamilannya mungkin yang membuatnya begitu.
"Hmmm ya..aku baik kok Ros."
"Syukurlah..." ujarnya lega. Padahal ini sudah malam. Herannya dia masih sempat-sempatnya menelepon karena kawatir. Benar-benar sahabat yang baik bahkan terbaik.
"Ros, kebetulan kamu telepon."
"Ada apa? kok kamu aneh Sof?" Sofia diam. Memikirkan dulu akankah dia mengatakannya pada Rosa sekarang atau nanti saja.
"Hey...kenapa diam? katakan wwooii.."
"hmmm besok saja."
"Kau ingin membuat aku dan bayiku penasaran dan tidak bisa tidur semalaman?"
"Sudah jangan tapi-tapi. Cepat ngomong." Yang namanya Rosa tetap saja Rosa walau dia akan menjadi calon ibu beberapa waktu lagi. Sahabatnya itu tukang maksa kelas kakap yang susah ditolak.
"Itu...tentang rumah ini."
"kenapa? ada hantunya? ada maling? bocor? atau...."
"Stop!! tebakanmu salah. Dengarkan aku...aku serius." kesal Sofia.
"ya???"
"Aku ingin mengembalikan rumah ini padamu."
"Hey...tapi...tapi kau kenapa? kau butuh uang?"
"Kira-kira begitu. Aku juga akan memulai hidup baru Ros. Kau tau aku tidak mungkin terus berharap pada mas Nando."
"Tapi Sof...begini saja. Aku bilang dulu kesuamiku ya. Soalnya uang yang kemarin sebagian sudah terlanjur dipakai membeli mobil. Tapi akan kuusahakan genap dalam dua bulan." jawab Rosa dengan nada penuh sesal.
"Tunggu. Mobil?"
"Ya. Mobil baru untukku."
"Mobil baru? uang yang kuberikan padamu bahkan hanya cukup untul beli mobil jadul saja. Dan kurasa itu bukan seleramu." jadi sahabat sejak kuliah membuat Sofia tau jika Rosa tidak suka barang bekas. Jadi dia pasti beli mobil baru.
"Iya baru. Masih sisa malah." Sofia tergelak cukup lama. Rosa benar-benar membuatnya geli.
"Sudah belum bercandanya Ros?"
"Wooiii aku serius wooiii...suamimu sudah membeli dan melunasi rumah itu dengan harga diatas normal. Aku saja sampai kaget saat dia datang kerumah. Hey nyonya muda, kau sangat beruntung punya suami tampan, kaya dan royal sepertinya." Puji Rosa.
"Melunasi? kapan?"
"Minggu lalu." jawab Rosa mantap tapi membuat Sofia bingung seketika.
"Bukannya mas Nando ada di London?"
"London? tidak mungkin Sofia. Dia datang bersama sekretrisnya. Tunggu, aku masih punya fotonya. Sebentar aku kirim ya." dan setelahnya Rosa mengirim foto suaminya yang datang kerumah Rosa. Hati Sofia teriris. Melihat foto pria itu saja sudah membuatnya perih menahan kerinduan tapi kenapa dia, Alex dan Bella bersekongkol untuk membohonginya? jika tak ingin bertemu dia juga tidak memaksa. Dia masih punya harga diri yang cukup sebagai seorang wanita.
"Jadi rumah ini dia yang punya?"
"Ya."
"Baik, terimakasih Ros. Besok temui aku di kampus oke? ada yang akan kukatakan padamu."
"hmmm baiklah. Kalau begitu ku tutup dulu. Suamiku pulang tuh." dan belum dijawab kebiasaan Rosa dimulai. Main tutup dan lari.
Membeli rumah ini dengan harga fantastis? itu artinya Fernando tidak bangkrut. Suaminya itu masih baik-baik saja pada posisinya. Lalu dia anggap apa dirinya selama ini? rumah ini juga miliknya, berarti dia tidak berhak tinggal. Baik jika itu keinginannya. Maka Sofia juga akan mengikuti alurnya.