Dear Husband

Dear Husband
kau milikku



"Nyonya, ada tuan Shandy diluar." lapor seorang pembantu pada Fransisca.


"Suruh dia masuk."


"mom!!" sergah Nando keras menghentikan langkah pembantu tadi. Fransisca hanya melirik putranya sebentar lalu kembali bersikap acuh.


"Shandy mau mengantar Sofia kekampus."


"Ada sopirkan mom? kenapa harus dia?" jawab Nando terlihat kesal. Lebih kesal lagi saat tak ada protes keberatan dari Sofia. Wanita itu bahkan asyik meminum susu hangatnya.


"Ya karena mereka ada dikampus yang sama. lagian mulai sekarang Shandy akan tinggal disini."


"Maksud mom apa? kenapa jadi dia menginap disini? ini rumah Nando mom!" Tiba-tiba Nando makin meradang mendengar keputusan mamanya yang menurutnya tidak memikirkan perasaannya.


"Ya Shandy akan menginap disini hingga momy kembali ke London." sahut wanita paruh baya itu tanpa rasa berdosa sedikitpun.


"Lalu kapan momy akan kembali?"


"Kau...kau mau mengusir momy ya? dasar anak kurang ajar! akan kutelepon dadymu agar membuat perhitungan denganmu. Beraninya kau!!" teriak Sisca keras seraya menggebrak meja makan. Sofia hampir terlonjak karenanya sedang Nando hanya terdiam. Tak biasanya momynya terlihat semarah itu.


"Terserah momy saja." pungkas Nando kemudian sambil memasuki ruang kerjanya. Alex masuk ke rumah bersamaan dengan Shandy yang langsung mencium takzim punggung tangan Fransisca.


Lihatlah, pagi ini Shandy muncul dengan seragam militernya yang terasa pas ditubuh kekarnya. Deretan pangkat menghiasi seragam itu. Jangan lewatkan rambut cepaknya yang membuatnya bertambah gagah saja.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Sisca yang wajahnya sudah kembali terlihat hangat. Mereka berdua mengangguk.


"Kami harus berangkat sekarang tan." Shandy memutuskan pamit lebih dulu. Sofia juga langsung berdiri dan berpamitan pada mertuanya itu.


"Kita mampir ke kasatuan dulu ya. Ada yang harus kukerjakan."


"oke." jawab singkat Sofia. Shandy segera mengulurkan lengannya kode agar Sofia menggandengnya. Dan tanpa malu-malu Sofia tersenyum lebar dan menyambutnya. Memasukkan tangannyan dalam lingkarab itu dan bergelayut manja. Alex yang melihatnya melotot tak percaya. Bagaimana kakak iparnya itu bisa senekat ini, bahkan diarea rumah suaminya sendiri.


"Brengsek!!" maki Nando dari pintu ruang kerjanya. Tampaknya sang tuan muda melihat adegan tadi hingga membuatnya naik pintam. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.


"Kau kenapa? mama malah lihatnya mereka seperti Song-song couple dalam descendent of the sun. Satu komandan, satunya dokter. ooohhh...sooo sweeett...."


"Mom!!"


"Apa?"


"Kenapa momy terlihat senang sekali? Sofia itu istriku mom!!"


"lha trus kenapa?"


"Tidak pantas seorang istri berbuat begitu, apalagi di depan mertua dan suaminya."


"oohhh itu kamu sadar."


"maksud momy apa sebenarnya?"


"Ya wajar kalau Sofia begitu. Jadi istrimu kan cuma formalitas. Momy juga dengar perjanjian nikah kalian karena anak haram itu."


"Mom....Elle anakku. Aku sudah menganggapnya sebagai putriku."


"Dia bukan anakmu Nando! sadari hal itu karena momy dan dadymu tidak akan pernah mau mengakuinya meski kau sudah menyematkan nama Hutama dibelakang namanya. Ingat itu!"


"Momy tak pernah mengerti perasaanku pada Emma." keluh Nando lemah.


"Perasaan pada wanita ular itu? Cintai saja dia dan anak haram itu sampai mati, tapi lepaskan Sofia. Momy tidak ingin dia jadi korban ambisimu."


"Tidak mom! aku tidak akan pernah menceraikannya!" tegas Nando keras.


"Baik jika kau tidak mau. Momy yang akan melakukannya!" Kali ini Fransisca bergerak cepat ke kamarnya. Nando yang membuntutinya hingga kewalahan.


"Jangan lakukan itu mom." Fransisca tak bergeming. Nando memang bisa menghentikan langkahnya, tapi tidak keputusannya.


"Mom aku...."


"Apa?"


"Sudah selama ini kau bilang masih mau belajar?" dengus Sisca menaikkan alisnya. Nando hanya mengangguk. Dia tau mamanya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Wanita paruh baya itu mempunyai kekuasaan lebih besar dari pada dirinya. Dia tidak ingin kisah Emma kembali terulang pada sofia.


"Mom...beri aku kesempatan." ujar Nando penuh harap.


"Baik. Seminggu, hanya itu toleransiku."


"Apa jatuh cinta bisa secepat itu?" keluh Nando lagi. Sungguh momynya itu sudah membuat dia berada dalam dilema.


"Itu urusanmu. Momy tidak mau tau." lalu sang singa betina melenggang masuk ke kamarnya dan membanting pintunya keras.


''Dasar bocah keras kepala, sudah tau dia cemburu masih saja bilang tidak cinta." gerutu Sisca sambil bersungut kesal.


"Ayo berangkat Lex."


"baik tuan muda." dan kedua pria itu meninggalkan rumah dengan pikiran berkecamuk dalam kepalanya masing-masing.


Sorenya, Fransisca benar-benar menjemput Sofia kerumah sakit. Menantunya itu benar-benar terlihat anggun dalam balutan jas putihnya. Dia juga terlihat sangat sabar dan cekatan mengurus beberapa pasiennya.


"Kita berangkat sekarang mom?"


"hmmm...tentu saja. Ayo!"


Belanja adalah hobi utama wanita kelas atas. Mereka bahkan bisa menghabiskan berjam-jam untuk kegiatan menghamburkan uang seperti itu, tapi itu tidak berlaku pada nyonya besar Hutama itu. Sisca lebih banyak belanja untuk oleh-oleh ketika pulang ke London nanti. Tak lupa, memaksa sang menantu kebanggaan menbeli beberapa lembar pakaian dan keperluan lainnya. Tak terasa sudah jam 8 malam. Sisca segera mengajak Sofia pulang.


Alangkah kagetnya Sofia saat ada Shandy disana bercengkarama dengan sopir keluarga momynya.


"Sof, kamu ikut Shandy. Momy akan pulang dengan sopir. Ingat, jangan lupa belikan pesanan momy ya."


"Tapi mom...."


"Sudah nurut saja. Shan, abis ngantar Sofi kamu boleh pulang. Nggak usah menginap. Kelihatannya akan ada perang besar dirumah." kata Sisca sambil tersenyum jahil. Tentu saja Shandy senang mendengarnya. Tak perlu menginap berarti dia bisa bebas tidur dirumahnya sendiri.


Sisca sudah pergi dengan sopirnya kala Shandy juga melaju keluar dari area parkir itu. Mereka harus mampir dulu ketoko kue langganan Sisca yang lumayan jauh dari tempat itu. Setelah mengantri sejenak, dapat juga brownies pesanan mama mertuanya itu.


Pukul sembilan lewat Sofia baru sampai dirumah, dokter cantik itu segera turun setelah mengucapkan terimakasih berulang kali pada dosennya itu. Penuh senyum, dia memasuki rumah. Tampaknya wanita cantik itu tak menyadari jika ada sepasang mata srigala buas yang mengawasinya dari balik korden jendela.


"Darimana kamu?" bentak Nando membuat Sofia sontak memegangi dadanya karena terkejut.


"A...aku...da ...dari rumah sakit mas."


"Bohong! tadi momy melihatmu nonton di mall dengan dosen mesum itu."


"mo...momy..."


"Kau masih mau mengelak lagi?" bentak Nando lagi dengan wajah memearah menahan amarah.


"Terserah aku!" balas Sofia lalu berjalan cepat kekamarnya setelah meletakkan brownis itu dimeja makan. Tapi sebuah tarikan keras membuatnya hampir terpelanting jatuh.


"Kau sudah berani menentangku hemmm?? apa hebatnya lelaki itu? apa kau terlalu kesepian hingga jadi ganjen dan tak tau malu seperti itu? dasar murahan!!" seketika wajah Sofia memerah. Tangannya terkepal kuat.


"Ceraikan aku!" bentaknya keras hingga menggema diseluruh ruangan.


"Apa kau bilang tadi?" tanya Nando dingin.


" Ceraikan aku! aku tidak mau lagi hidup denganmu!" kali ini amarah Fernando sama sekali tak bisa dibendung. Ditariknya tubuh Sofia dan digendong bagai karung beras naik ke kamarnya. Tidak dia hiraukan teriakan dan pukulan Sofia dipunggungnya, fokusnya hanya satu ..kamar. Dan tanpa ampun dia membanting tubuh semampai itu keranjang sebelum melucuti pakaiannya, membuangnya asal lalu menerkam tubuh Sofia.


"Lepaskan!!" tapi pria itu tak bergeming dan makin menindih tubunnya, menciuminya penuh nafsu.


"Mas ....jangan!!" tapi Nando yang sudah dirasuki setan sudah bergerak merobek seluruh pakaian yang dikenakan Sofia hingga tak bersisa.


"Aku akan membuatmu tetap jadi milikku Sofia. Kau milikku!!!"