
Ceklek....
Pintu kamar Nando terbuka saat Sofia memutar handle pintu. Tubuh langsing itu bergerak masuk seraya memindai tiap sudut, mencari keberadaan Fernando. Kosong. Hanya korden yang melambai, menandakan pintu balkon yang terbuka. Sofia bergerak mendekat. Disana, fernando berdiri menatap kejauhan.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" tanyanya tanpa membalikkan badan. Harum aroma pinus yang menyebar dari tubuh Sofia sudah bisa dia tebak. Dia hafal betul suara langkah kaki istrinya walau dibuat sepelan mungkin. Wajahnya gusar.
"Aku...."
"Besok akan ada dokter terbaik yang sudah kusiapkan di rumah sakit. Alex akan mengantarmu kesana." ujarnya dingin, tanpa ekspresi. Air mata Sofia luruh. Aborsi? lelakinya bahkan tetap ingin dia aborsi, sedang dia tau betapa bahagianya Nando saat tau dia hamil. Mungkinkah luka yang diantorehkan terlalu dalam untuk pria segagah Arjuna tapi berhati selembut dewi Sembadra ini?
"Kenapa bukan kau saja yang mengantarku? Kenapa tidak kau saja yang membunuhku Fernando satria hutama?" percuma menahan isak tangisnya. Ruangan itu begitu hening dan sepi hingga hembusan angin saja terdengar berisik menusuk kulit.
"Aku bukan pembunuh yang akan mengotori tanganku dengan darah keturunanku."
"Apa kau pikir aku pembunuh?" sentak Sofia penuh emosi. Nando menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis.
"Percuma membiarkannya hidup jika yang dia dapatkan hanya kehampaan. Ayah ibunya sibuk dengan dunianya. Aku tidak akan membuat putraku menjadi duplikat diriku dimasa lalu." Bibir Sofia ternganga. Duplikat dirinya? Mungkinkah Fernando adalah anak yang lahir tanpa kasih sayang orang tuanya? jika iya, maka dia adalah salah satu anak yang paling menyedihkan didunia. Terlahir sebagai anak konglomerat tapi tidak pernah mendapatkan kasih sayang siapapun, termasuk orang tuanya.
"Alex akan mengurus semuanya termasuk harta gono gini sebagai kompensasi dari pernikahan ini. Setelah ini kau bisa meneruskan hidupmu tanpa takut kekurangan sedikitpun. Kau bisa mewujudkan mimpimu membangun klinik atau rumah sakit gratis di daerah terpencil." Sekarang dia membahas perpisahan dalam bahasa yang rancu.
"Kau...tau?" Sekali lagi Sofia dibuat terperanjat. Nando tau cita-citanya sejak pertama kuliah dulu. Pria yang dingin, tapi sangat tau sisi dirinya yang tersembunyi. Dadanya berubah sesak.
"Aku ingin bicara denganmu mas." kali ini suara Sofia melemah, nyaris menyerupai gumaman.
"Keluar atau kupotong tangan penghianat yang memberimu kunci memasuki kamarku!" sentaknya kasar, membuat tubuh Sofia gemetaran.
"Aku datang untuk mengatakan padamu jika aku sudah mengajukan pengunduran diriku dari universitas, juga dari pekerjaanku sesuai keinginanmu. Aku juga ingin meminta maaf untuk sikap tidak pantasku kemarin. Mas, terimakasih sudah membantuku mewujukan cita-cita dan impianku. Apa yang tidak seharusnya kudapat sudah kukembalikan padamu. Aku melepas impianku dan ingin hidup tenang bersama dirimu dan anak-anak kita nanti. Tolong beri aku kesempatan." refleks Sofia berlari memeluk pinggang suaminya seraya menangis tersedu. Mengingat berpisah dari Nando saja sudah membuat hatinya sakit. Entah kapan perasaan itu tumbuh dan merajai batinnya, tapi sungguh dia takut kehilangan.
Menit demi menit berlalu, tangis Sofia mereda. Berlahan dia merasakan sama sekali tidak ada pergerakan dari tubuh Fernando. Pria itu bahkan tak ingin berbalik untuk sekedar melihat wajahnya. Apa itu artinya sudah tidak ada kesempatan baginya? berlahan Sofia melepaskan rangkulannya. Menatap lekat bahu kokoh yang berdiri menjulang di depannya. Diam.
"Apa..sudah tidak ada lagi kesempatan bagiku?" tanyanya gamang. Lagi-lagi hanya gemrisik angin yang menjawab pertanyaanya. Bibir Sofia bergetar, tapi dia gigit tergesa. Orang lain tidak boleh tau seberapa hancurnya hatinya kala sudah kehilangan semuanya. Pekerjaan, impian dan keluarganya. Sofia terhempas ke dalam jurang kehidupan yang tak berdasar.
"Aku menganggap diammu adalah jawabanmu mas. Selamat malam hubby." ujarnya lirih lalu berjalan lunglai ke pintu. Sesaat pikirannya kosong hingga sampai ke anak tangga terakhir. Tak ada lagi yang tersisa. Semua sudah dia lepaskan, dia hanya ingat jalan pulang. Memeluk ibunya yang pasti akan selalu mendukung setiap keputusannya walau dia sudah kalah. Anak gadis mereka telah gagal! Yang dia inginkan hanya mengadu pada ayahnya yang tak pernah marah pada tiap kegagalannya dan selalu menyemangati dirinya untuk bangkit. Tawa si kembar yang akan menyambutnya penuh kerinduan. Ada pepatah yang bilang jika buah tidak akan jatuh terlalu jauh dari pohonnya. Dia anak petani, maka takdirnya juga bertani. Pilihan yang tidak buruk. Membayangkan kehidupan yang tenang di desa saja sudah cukup membuatnya tau hendak kemana tempat berpulang.
Sofia melirik jam dinding. Belum terlalu malam untuk pergi. Bergegas dia memesan taksi online dan mengambil tas selempang kecilnya. Tak ada satupun yang ingin dia bawa. Cukup calon bayi ini dan sedikit tabungan miliknya, surat-surat dan uang tunai saja yang ada di tas kecilnya. Tak dia hiraukan perutnya yang keroncongan karena belum makan apapun. Dia harus pulang.
"Anda mau kemana nyonya?" tanya seorang bodyguard sopan saat Sofia melintasi pagar.
"Ada sesuatu yang harus ku kerjakan." ujarnya tegas. Pengawal itu memincingkan matanya menyelidik. Tak biasanya nyonya rumah itu pergi sendirian malam hari. Tuan Nando pasti menyuruh sopir atau mengantarnya, apalagi sang nyonya sedang hamil. Mata tajamnya melirik balkon kamar Nando yang berada berhadapan dengan tempatnya. Sang tuan kelihatan acuh saja, padahal melihat istrinya ingin keluar dari rumah. Pengawal itu menarik nafas dan membukakan pagar, tepat saat taksi online yang di pesannya datang.
"Hallo kak...benar, kak sofia sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya via email ke kampus. Dia juga sudah berhenti dari rumah sakit." Lapor Alex diseberang sana, membuat tubuh Nando menegang.