Dear Husband

Dear Husband
Mengakui



Rutinitas pagi dijalani Sofia dengan cepat. Menyelesaikan mandi, sholat dan merapikan kamar dan menyiapkan keperluan Nando seolah pekerjaan ringan yang bisa dia selesaikan semudah menjentikkan jarinya. Tujuannya hanya ingin cepat-cepat ke dapur untuk segera memasak sup favoritnya. Sesungguhnya pikirannya sedang kacau, dan dia butuh aroma rempah dalam kuah sup agar bisa sedikit rileks.


Suara gemricik air masih terdengar saat dia memutuskan keluar dari kamar dan langsung ke dapur. Suasana masih lengang, hanya bik Rin yang ada disana untuk menyiapkan sarapan sederhana. Nando dan Elle memang tak perlu menu berat saat sarapan. Mereka hanya butuh susu, roti dan selai. Sangat simple bukan?


"Selamat pagi nyonya." sapanya seraya tersenyum ramah.


"Pagi bik."


"nyonya ingin masak apa hari ini?"


"Sup, ayam goreng dan sambal bawang bik. Tiba-tiba saya kangen bau sup." tutur Sofia sambil mengambil bahan-bahan yang dia perlukan dari kulkas.


"Apa nyonya butuh bantuan?"


"kurasa tidak bi, ini hanya masakan sederhana. Aku bisa sendiri."


"Tapi nyonya...tuan melarang..."


"Mulai sekarang biarkan dia mengerjakan apapun sendiri. Ini perintahku!" suara bariton menggema memenuhi dapur. Bik Rin buru-buru mengangguk hormat lalu terdiam kaku ditempatnya. Sedang Sofia?wanita muda itu hanya tersenyum samar. Sebegitu bencikah Nando padanya hingga membiarkannya melakukan semua pekerjaan rumah? padahal baru kemarin dia memberi perintah agar para pelayan tidak boleh membiarkannya bekerja terlalu berat. Kalau saja dia putri konglomerat yang cengeng dan manja, mungkin sekarang dia akan menagis dan memohon maaf. Tapi dia adalah Sofia, anak petani biasa yang sudah biasa hidup mandiri dan ditempa kerasnya kehidupan. Jika hanya mengerjakan hal seperti itu adalah hal biasa baginya.


Tak ingin terlalu lama berpikir, Sofia kembali pada kesibukannya setelah memberi kode pada bik Rin yang sudah selesai menyiapkan menu sarapan sang tuan dan nona kecil agar pergi dari sana. Terlalu tak tega bagi Sofia melihat pelayan baik hati itu menunduk diam menungguinya memasak dan merasa salah tingkah.


Bau sup yang di bumbui rempah-rempah menguar memenuhi dapur. Selesai dengan itu, dia mulai menggoreng ayam yang sudah dibaluri kunyit dan bawang. Hanya sekali dia melirik Nando yang terbatuk karena dia menggoreng cabe untuk sambal. Wajah pria itu terlihat memerah karena bau tajam dari penggorengan. Setelahnya, Sofia hanya bersikap cuek hingga acara masak dan bersih-bersihnya selesai.


Secepat mungkin dia menuju kamar, berganti baju kerja. Sepatu berhaknya sedang tak diperlukan hari ini karena akan bertugas di ICU untuk beberapa hari kedepan. Dia lebih membutuhkan sneaker atau flat shoes untuk memudahkan langkahnya saat bekerja. Sofia menghampiri meja rias dan kembali meneliti penampilannya.


"perfect." gumamnya dengan senyum terkembang. Untuk ukuran wanita rumahan dan sederhana sepertinya, riasanya saat ini bisa dikatakan sempurna dengan aksen naturalnya.


Saat akan turun ke bawah, Sofia berpapasan dengan Maria yang menggandeng tangan kecil Elle untuk turun.


"Selamat pagi nyonya." sapa Maria ramah.


"Selamat pagi juga Maria." balas Sofia tak kalah ramah. Pandangannya mengarah pada Elle yang memasang wajah datar. Anak itu seakan tak melihat apa-apa walau pada kenyataanya dia memang tidak bisa melihat. Maria yang mengetahui itu berusaha mencairkan suasana.


"Berapa kali kubilang jika dia bukan mamaku! dia bukan mamaku! Dia cuma ibu tiri yang jahat seperti nenek sihir." teriak Elle keras hingga membuat Nando sedikit belari pada mereka.Wajah pria itu menegang. Ditatapnya nanar Sofia yang tetap diam tak beraksi. Wanita muda itu bukanya meminta maaf atau membujuk Elle seperti permintaanya, tapi lebih memilih diam seolah membenarkan pendapat dan perkataan Elle.


"Sofia!!" sentaknya setengah emosi. Ditariknya kasar tangan sang dokter hingga meringis kesakitan.


"Lepaskan tuan Fernando!" teriaknya tidak terima sambil mengibaskan tangan Nando kuat. Cengkeraman itu terlepas dan menyisakan warna merah disana. Sofia mendekati Elle dan berjongkok seperti biasa saat mereka berinteraksi.


"Elle....meski aku bukan mama kandungmu, tapi aku sangat menyayangimu seperti putriku sendiri. Berulang kali aku menentang ide untuk menipumu, tapi wanita sepertiku bisa apa nak? Ada banyak hal yang tidak kau tau, tapi sungguh aku menyesal sudah ikut menipumu. Maafkan tante Elle." Tak ada nada ragu ataupun lemah disana. Sofia begitu tegas seakan dia seorang ibu yang meyakinkan anak-anaknya yang sedang merengek. Pandangannya terlihat sinis pada Nando, seolah mengatakan pria inilah yang paling bersalah dalam semua ini.


"Satu lagi Elle, tidak semua ibu tiri itu jahat. Banyak dari mereka yang dengan suka rela merawat anak yang bukan darah dagingnya dengan penuh keikhlasan. Tante tidak bisa memaksamu untuk percaya atau menerima kehadiran ibu tiri seperti tante. Semoga kau selalu bahagia nak." sebuah kecupan lembut mendarat dipipi Elle yang berdiri mematung. Tak lama kemudian Sofia berjalan menuju pintu utama dan keluar dari sana dengan langkah panjangnya. Baik Elle, Nando dan Maria masih termenung dengan pemikiran mereka.


"Mama!!" teriakan Elle membuat Nando mendapatkan kesadarannya. Putri kecilnya itu terisak.


"Papa, bawa mama Sofia kembali."


"Mama pasti kembali Elle. Dia hanya tergesa-gesa pergi ke rumah sakit karena sudah waktunya bekerja."


"Tapi Elle mau mama Sofia, pa."


"Baiklah, papa akan menyusulnya. Elle tunggu disini ya." kepala kecil itu mengangguk seiring dengan langkah cepat Nando menuju keluar. Dia yakin Sofia masih di gerbang rumah karena baru pergi beberapa saat. Rumah itu juga dibatasi taman yang luas hingga tidak memungkinkan dia keluar dengan cepat dari sana.


"Dimana Sofia?" tanyanya pada penjaga yang ada di depan pintu.


"Sofia siapa tuan?"


"Nyonya muda.Istriku bodoh!" maki Nando kesal karena kegugupan yang menerpanya. Bodohnya dia baru menyadari jika kesalahan ini memang bersumber dari dirinya sendiri. Dia yang selalu menutupi jati diri Sofia dengan tidak pernah menyebut nama aslinya. Mereka hanya tau jika wanita itu istri barunya.


" Nyonya sudah pergi tuan. Dia pergi kearah sana.” jawabnya. Tanpa banyak tanya Nando menuju mobilnya dan mengarahkan keluar pagar. Dia harus segera menyusul Sofia. Rumah yang ditinggalinya termasuk kawasan Elit hingga jauh dari akses kendaraan umum.


Disusurinya tiap gang, namun tidak ada hasilnya. Sofia seperti menghilang entah kemana.


"Pasti ada orang yang membawanya, tapi siapa? sedang Sofia baru beberapa hari disana. Tak banyak yang dia kenal." Nando memilih membalikkan mobilnya ke rumah. Sofia tidak mungkin pergi jauh karena hanya membawa tas kerja dan baju kerjanya saja. Sekarang dia harus menenagkan Elle dan mengajaknya sarapan, baru nanti dia akan datang ke rumah sakit untuk bicara pada Sofia.