Dear Husband

Dear Husband
Kembali



Sofia menatap tajam mata Alex yang masih setia menunggunya di depan ruang ICU. Entah berapa panjang kalimat yang sudah dia bacakan agar sang sekretaris merangkap bodyguard itu pergi dari sana. Namun pria itu tetap tk bergeming. Masih tetap dalam posisi sama. Berdiri di depan pintu ICU selama berjam-jam lamanya. Sofia sampai berpikir, apa dia tidak merasa penat? beberapa rekannya bahkan sudah menegurnya agar cepat pulang tanpa menunggu pergantian shift.


"Permisi dokter.” hampir saja Sofia melonjak kaget dari duduknya saat tiba-tiba dokter Aka menepuk pundaknya.


" i...iya dok."


" Surat kepulangan anda sudah diurus dan ditanda tangani kepala rumah sakit. Saran saya anda segera pulang sebelum sore. Anda tau sendirikan, medan sulit masih harus dihadapi hingga bandara?"


"Tapi dok...saya.."


"Dokter Sofia, masih banyak rekan-rekan yang bertahan disini. Kondisi juga makin membaik.Mungkin beberapa hari lagi kami juga dipulangkan. Dia juga bekerja untuk suami anda dok. Apa anda tidak kasihan melihat dia menunggu anda sedang anda sudah boleh pulang sejak 4 jam lalu? kita ini bekerja untuk kemanusiaan bukan?apa anda mau dicap sebagai dokter yang tidak punya prikemanusiaan?" deg...hati Sofia bertalu. Wajahnya serasa tertampar. Yang dikatakan dokter senior itu benar adanya. Membiarkan Alex menunggu dalam posisi itu malah akan menimbulkan banyak asumsi negatif pada dirinya.


"Maafkan saya dok."


"Anda harusnya minta maaf ke dia dokter. Kami menegur juga karena kemanusiaan. Harap anda tidak tersinggung." Sofia tersenyum tipis. Dirapikannya meja kerjanya lalu menyerahkan data pasien pada seorang perawat. Dia memutuskan segera pulang sesuai permintaan Nando. Dia tau Alex pria yang sangat patuh pada suaminya dan tidak akan menyerah sebelum dia mau pulang. Sofia segera berpamitan pada semua tenaga medis dan beberapa pasien lalu mendekati Alex yang masih setia menunggunya disana.


"Lewat sini nyonya." Tak ada jawaban dari bibir Sofia. Jangankan memutuskan jalan hidupnya, memilih jalan pulang saja dia sudah diatur oleh Alex atas ijin suaminya. Ada sesak dalam dada Sofia.


Alex membawanya menuju mobil yang sudah terparkir dihalaman samping rumah sakit itu. Dia bergegas membuka pintu dan menganguk hormat pada istri majikannya itu. Hampir berbarengan saat keduanya memakai kaca mata hitamnya. Matahari memang sangat terik. Perlu ada pelindung untuk mata disaat seperti sekarang.


Sepanjang jalan menuju bandara, Sofia termenung dalam diam. Hanya pandangan matanya yang menerawang menembus pepohonan nun jauh disana. Tak ada percakapan berarti dari mereka. Alex yang duduk disamping sopir juga hanya mengatupkan bibirnya. Matanya yang awas memindai setiap yang terlihat didepannya. Untuk kewaspadaan,Alex memang diatas rata-rata.


Penerbangan terakhir membawa mereka menuju Jakarta. Dalam burung besi itu, Sofia kembali dilanda dilema. Dia tau, tugasnya akan selesai begitu Elle sudah bisa kembali melihat. Itu berarti, Nando juga akan mengambil langkah untuk menceraikannya sesuai kesepakatan awal mereka. Harusnya dia bahagia karena bisa bebas hidup sesuai kemauannya, tapi memikirkan Elle membuat dia tidak tega. Bayangan kedua orang tua, adik-adik, paman dan bibinya langsung berkelebat layaknya tayangan Scene film. Betapa dia ingat bayangan mereka semua saat tau dia menemukan jodohnya dan menikah meski tanpa kehadiran mereka semua. Berbagai doa dan harapan mereka selalu membuatnya kuat dimanapun berada. Tegakah dia melihat senyuman mereka semua berakhir dengan kekecewaan begitu tau dia akan bercerai nantinya?


"Silahkan nyonya." Alex menunjukkan tempat duduknya lalu berjalan ke kursi seberang. Sofia melirik kursi kosong disampingnya, ada kelegaan tersendiri begitu tau Alex tidak duduk disampingnya. Berarti ada penumpang lain yang akan duduk disana. Artinya Sofia tidak akan mendapat pengawasan ekstra dari sekretaris patuh akut suaminya.Namun pikiran itu langsung sirna saat Alex mengangkat panggilan teleponnya.


Disana, suara Nando terdengar. Sofia tau, Alex sudah mengaktifkan kamera belakangnya dan menyorot dirinya.


"Bagus. Jangan biarkan siapapun mendekati nyonya dalam jarak intens hingga sampai kerumah." Sofia tau Nando sengaja memerintahkan membooking tiket pada beberapa bangku dalam pesawat yang dekat dengannya entah karena apa. Yang jelas dia tidak ingin berpikira macam-macam dan memberatkan dirinya. Cukup sudah Fernando mengatur hidupnya, nanti dia pasti akan bebas laksana elang yang terbang tinggi ke angkasa.


Tak terasa pesawat sudah mendarat begitu hari telah gelap. Sofia bersikeras menuju rumah sakit tanpa pulang ke rumah utama sesuai perintah Nando. Bukan apa-apa, dia ingin melihat kondisi Elle. Alex menolak karena tak berani melawan perintah sang majikan, namun Sofia langsung menelepon Nando yang memang sedang menunggui Elle di kamar rawatnya. Mau tak mau pria itu mengijinkan juga.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam." Nando menatap lekat wanita di depan pintu. Ada kesejukan saat melihat senyum itu hingga dia tidak menyadari jika wanita itu sudah meraih tangan kanannya dan mencium punggungnya takzim.


"Bagaimana keadaan Elle mas?" bisik Sofia saat melihat Elle tertidur pulas dibrankarnya.


"Dia baik. Elle tertidur karena pengaruh obat yang dokter Edward berikan. Kenapa tidak istirahat dulu dirumah?"


"Maaf." desahnya lirih. Ada penyesalan yang jelas membayang diwajah ayunya. Dia menghampiri ranjang Elle untuk mencairkan suasana yang berubah tegang dan membuatnya gerah.


" Lex, kau bolah pulang. Istirahatlah." perintah Nando.


"Baik tuan muda. Anda bisa menghubungi saya jika membutuhkan sesuatu. Permisi." Nando mengangguk. Alex meletakkan koper Sofia disudut ruangan lalu keluar dari sana.


"Bersihkan dirimu dulu Sofia, lalu temani aku makan."


"Mas belum makan?"


"menunggumu." Sofia merasa dadanya berdesir. Baru kali ini Nando menunggunya makan. Apalagi ini sudah lewat waktu makan malam. Tanpa kata wanita muda itu membuka koper, mengambil baju bersih dan handuk dari sana lalu menuju kamar mandi. Tubuhnya memang terasa lelah dan lengket karena perjalanan panjang tadi.


Hanya lima belas menit yang dibutuhkan Sofia untuk mandi kilatnya kali ini. Dia tidak ingin Nando terlalu lama menunggunya. Saat membuka pintu, dia melihat salah satu pengawal Nando meletakkan kotak makanan dimeja.


"Duduklah!" ujar Nando sambil menepuk tempat kosong disebelahnya. Sofia duduk disana dengan perasaan kikuk. Selama menjadi istri Nando, baru kali ini dia duduk terlalu dekat dengan pria itu. Tangannya terulur membuka kotak makannya.


Astaga!! hampir saja dia berteriak girang kala melihat gurami bakar dalam porsi jumbo beserta sambal kesukaannya. Sofia begitu bersemangat memulai makannya karena cacing dalam perutnya sudah mulai berdemo meminta asupan makanan.


"Kok nggak makan mas? katanya belum makan?" tanyanya saat melihat Nando hanya memandanginya. Pria itu tak bersuara, membuka kotak makan miliknya. Sofia begitu gemas melihat cara makan Nando yang terlalu sulit dipandang karena menggunakan sendok plastik yang tersedia disana. Padahal nasi dan permukaan ikan terlihat agak keras dan susah disendok. Sofia sendiri memilih makan menggunakan tangannya, tanpa bantuan sendok.


"kenapa tidak makan sepertiku? ini lebih mudah."


"Saya tidak bisa." Sofia baru sadar jika suaminya ini sang tuan muda keluarga Hutama yang besar dilingkungan dan didikan budaya barat. Dia terbiasa dengan tablemannernya.


"Mau kusuapi?" tawar Sofia ragu. sungguh dia hanya tidak tega mendengar perut Nando yang juga bersuara kencang pertanda dirinya sangat lapar. Pria itu mengangguk.


" Mau kemana?" tanya Nando saat melihat Sofia beranjak dari sisinya.


"Cuci tangan dulu mas. Kotor." Sofia menunjukkan tangannya yang memang terkena sambal.


" Tidak perlu."


"Tapi...."


"duduk dan mulailah menyuapiku nyonya muda."