Dear Husband

Dear Husband
Salah paham



"Sean tunggu!! bukan itu maksudku.." tapi Sean tetap berlalu.


Teriakan Amanda membuat Fernando, Fransisca dan Teguh Hutama yang berada diruang kelurga menoleh serempak ke pintu samping. Mereka menatap kedua calon pengantin itu penuh tanda tanya.


"Ada apa Sean?" tanya Nando saat melihat Sean masuk lebih dulu. Sean berdiri terpaku dengan wajah tak terbaca.


"Sean??" Ulang Nando lagi, merasa pertanyaan pertamanya tak mendapatkan respon.


"Tuan Fernando maaf...saya membatalkan rencana pernikahan saya."


"Apa?????!!!!" pekik Fransisca kaget. Membatalkan? Ahh...ini hal gila. Meski Sean bukan keluarganya tapi Fransisca benar-benar tulus membantunya. Pesta yang tadinya hanya akan diadakan dirumahnya secara sederhana sudah dia pindahkan ke hotel berbintang dengan pelayanan kelas satu. Meski tak sampai VVIP, tapi Sisca sudah mempersiapkan pernikahan itu sedemikian rupa. Semua rekan kerja Sean sudah diundang juga beberapa kenalan dan kerabat Hutama.


"Dibatalkan bagaimana maksudmu Sean?? jangan membuatku bingung." ketus Sisca lagi.


"Duduk mom!" tegur Teguh agar istrinya tenang. Sisca menoleh sekejap lalu kembali duduk anteng di depan suaminya.


"Sebenarnya ada apa Sean?" tanya papa Teguh halus.


"Amanda tidak ingin menikah dengan saya tuan besar."


"Tapi kenapa?" Nando yang lama terdiam mulai bersuara. Ekor matanya menangkap kehadiran Bella dan Karin kakaknya menuruni tangga.


"Saya cukup sadar diri tuan."


" Materi maksudmu?" Sean menunduk diam.


"Aku mengartikan diammu sebagai jawaban "ya' Sean." tegas Fernando seraya berdiri dari tempatnya. Langkah panjangnya menuju Amanda Larsons.


"Apa sebegitu sulit hidup dengan ketulusan nona Larsons? kau menolak pria sebaik Sean demi harta yang tak kau bawa mati. Tapi itu adalah pilihan hidupmu, aku atau siapapun tidak bisa memaksamu. Tapi ingatlah, penyesalan tidak datang di depan maka pikirkan sekali lagi keputusanmu. Sean...ayo!" Nando berjalan mendahului Sean yang menguntit dibelakangnya patuh. Amanda yang begitu kaget masih dalam mode termenung, lupa pada tujuan awalnya mengejar Sean. Teguh Hutama bangkit lebih dulu meninggalkan ruangan menuju kamarnya. Fransisca menghampiri dan menepuk pundaknya.


"Amanda, wanita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan ini hanya mengingatkanmu...harta bukan segalanya, cinta juga bukan faktor utama dalam pernikahan. Lebih baik dicintai dari pada mencintai tapi bertepuk sebelah tangan. Tante hanya berharap kau cukup bijak untuk memutuskan jalan hidupmu." Seperti suami dan anak bungsunya, Fransisca ikut berlalu, meninggalkan Amanda yang terpaku dalam bisu. Karin dan Bella yang tak tega kemudian menghampirinya, memeluknya bergantian.


"Ayo..kuantar ke kamarmu. Renungkan lagi keputusanmu." ajak Karin, namun Amanda masih terpaku.


"Sofia..aku ingin Sofia kak." bisiknya lirih. Karin menghela nafas panjang dan memberi isyarat agar Bella tetap disana menemani Amanda yang terlihat tidak baik-baik saja. Wanita tinggi semampai itu menaiki tangga menuju kamar Nando, dimana Sofia mungkin masih mengurus baby Rafa. Karin mengetuk pintunya.


"Hai kak, masuklah! Ada apa? apa kakak perlu sesuatu?" tanya Sofia melebarkan pintu, setelah menyuruh Karin masuk dia bergegas menuju box baby Rafa yang belum selesai berpakaian dan merapikannya. Karin mengambil keponakannya itu dan menggendongnya.


"Sepertinya ada yang membutuhkan terapi darimu dokter."


"heh??"


"Ada pasien yang harus segera kau tangani."


"Siapa?"


"Amanda." jelas Karin pendek-pendek. Dari pada menjawab pertanyaan Sofia dia memilih menciumi keponakan tampannya.


"Dia kenapa kak?" usut Sofia penasaran.


"Membatalkan pernikahannya dengan Sean. Aku juga tak tau penyebabnya."


"Lalu dimana Sean?" Karin menggidikkan bahunya.


"Ahh ya Tuhan...kenapa mas Nando malah membuat semuanya jadi kisruh begini." keluh Sofia lemah. Kenapa Nando malah menurunkan ilmu melarikan diri jika ada masalah pada Sean? lelaki ini...bukannya mendamaikan mereka dan menasihati baik-baik, tapi malah mengajak pergi begitu saja tanpa minta penjelasan. Terlalu.


"Titip Rafa kak, aku kebawah dulu." dengus sofia kesal. Karin mengiyakan sambil tertawa ringan. Adik iparnya ini memang sangat peduli pada orang lain. Semua sifatnya bertentangan dengan Fernando. Kadang Karin juga heran kenapa adiknya bisa cinta mati pada istri dokternya itu hingga bucin akut dalam waktu singkat.


"Sofia." Amanda berlari memeluk Sofia dengan mata berlinang. Semua tangis dia tumpahkan disana.


"Amanda katakan..ada apa?" tanya Sofia seraya membelai punggungnya. Bella mengambilkan Amanda minuman lalu duduk disofa. Dia ingin tau drama apa yang terjadi antara dua calon pengantin ini. Lumayan dari pada nonton sinetron Indonesia yang tak ada ujung pangkalnya.


"Sean...dia salah paham Sofia." katanya serak. Sungguh dadanya terasa sesak setelah Sean pergi darinya. Rasa takut kehilangan dan ditinggalkan menyeruak dalam hatinya, sangat dalam. Berlahan Amanda menceritakan percakapan antara dirinya dan Sean sepeninggal Sofia tadi.


"Aku hanya minta waktu Sofia, bukan menolaknya. Dia juga menuduhku seperti Emily yang gila harta. Aku tidak seperti itu Sofia."


"Itu berarti kau menaruh hati pada Sean?" Amanda membulatkan matanya.


"Tidak." balasnya pasti.


"Lalu kenapa kau panik begitu? biarkan saja Sean pergi. Itu malah akan membuatmu lebih baik. Kau tinggal meneruskan hidupmu."


"Tapi Sean..."


"Lupakan dia. Para lelaki akan lebih mudah menyembuhkan lukanya dari pada kita yang menggunakan perasaan. Sebentar lagi juga sean menemukan wanita yang tepat. Jangan khawatirkan dia." ucap sofia lembut, tanpa beban. Jangankan Amanda, Bella saja dibuat menganga tak percaya pada perkataan kakak iparnya itu.


"Apa yang kau katakan kak?" sungut Bella heran, tapi Sofia tetap pada mode tenangnya. Samas sekali tak menanggapi pertanyaan Bella yang hanya diliriknya sekilas. Setelahnya dia kembali menatap lurus Amanda yang sudah meredakan tangisnya. Wanita muda itu termenung dalam diam.


"Dalam pernikahan, cinta bukanlah alasan utama Amanda, yang terpenting adalah niat. Yakin saja Allah akan memudahkan jalan dan rejeki kita. Jangan menunda niat baik, apalagi kalian sudah berbuat dosa. Aku yakin Sean hanya ingin menghindari zina yang lebih besar."


"Lalu aku harus bagaimana Sofia?" tanya Amanda putus asa. Air mata kembali mengalir di pipi mulusnya. Sofia menghela nafas panjang.


"Susul Sean dan lanjutkan pernikahan ini."


"Tapi dia dimana? Tuan Fernando sudah membawanya pergi. Aku takut dia pulang ke negaranya Sofia. Tolong aku." tukas Amanda mengguncang tangan Sofia penuh harap.


"Aku juga tidak tau mereka kemana, telepon saja." tanpa diperintah dua kali Amanda mengeluarkan ponselnya, mencoba mrnghubungi Sean. Tapi nomer diluar jangkauan. Saat menghubungi Nando, suara ponselnya terdengar di dekat Bella yang segera mengambilnya. Sang tuan muda lupa membawa ponselnya.


"Sekarang aku harus bagaimana??" Amanda menarik rambutnya frustasi. Rona keputusasaan mendominasi wajah orientalnya.


"Bel, apa kau tau dimana mas Nando?" Sofia yang tak tega kemudian bertanya pada iparnya yang masih duduk tenang ditempatnya.


"Kenapa dicari sih kak? Amanda juga tak cinta padanya. Yang ada dia malah akan menyakiti Sean nantinya." kata Bella jengah. Amanda menghampirinya dan memegang kedua tangan Bella di dadanya.


"Bella tolong aku..." ucapnya memohon.


"Aduh Manda...aku bisa dihajar kak Nando jika membuat sahabatnya terluka. Sudahlah, jika kau mau minta maaf nanti kusampaikan."


"Tapi aku mau menjelaskan sesuatu pada Sean. Kumohon Bell."


"Apa? Tetap saja kalian tidak akan menikah." hardik Bella.


"Aku...aku ingin menikah dengannya Bel."