Dear Husband

Dear Husband
Selamatkan anakku



"Sofiiaaaaaaaaa!" teriak Nando sambil memburu tubuh istrinya yang terpental hingga menabrak pembatas lobi. Beberapa orang yang ada disana serentak memberhentikan mobil hitam tadi, ada juga yang mencoba menolong Sofia dan Nando.


"Sofia....bangun sayang." Bibir Nando bergetar saat mengucapkannya. Tubuh istrinya melemah dalam pelukannya. Darah mengalir dimana-mana. Tak dia hiraukan juga darah yang mengalir dikeningnya saat itu. Yang ada dalam pikirannya hanya keselamatan Sofia saja.


"Mas...anak kita ..selamatkan anak kita." rintih Sofia sebelum jatuh pingsan. Nando terus menyebut nama istrinya seperti kesetanan.


"Tuan, kita harus segera ke rumah sakit." kata sopir pribadinya yang sudah memutar mobilnya kembali saat tau sang nyonya kecelakaan. Seperti tersadar, tubuh Nando yang penuh luka segera berdiri dan membopong sang istri. Dia tidak ingin istrinya disentuh orang lain.


"Jalan, cepat!!" serunya gugup. Darah mengalir diantara kaki istrinya, kepala dan tangannya hingga membuatnya makin histeris. Sepanjang jalan menuju rumah sakit yang dia lakukan hanya berteriak memanggil nama Sofia saja.


Bunyi brankar yang didorong tergesa memecah keramaian rumah sakit milik keluarganya. Beberapa perawat juga menjadi sasaran kemarahannya karena dinilai terlalu lama memberi pelayanan pada istrinya.


"Maaf tuan muda..anda dilarang masuk. Kami akan memeriksa istri anda." kata seorang dokter yang berjaga hari itu. Dia mencoba menahan Nando tetap diluar sementara istrinya sudah dibawa masuk. Nando memincingkan matanya.


"Biarkan aku masuk." katanya dingin.


"Maaf tuan, tapi peraturan disini anda harus menunggu diluar agar tidak mengganggu pemeriksaan." ujar sang dokter kukuh pada pendiriannya. Nando meradang. Dicengkeramnya krah baju sang dokter kuat.


"Jangan banyak bicara. Cepat selamatkan istriku!!! Sentaknya penuh kemarahan.


"Oohhh astaga, tuan muda anda..."


"Sam..bagaimana istriku? Biarkan aku masuk!" teriak Nando pada dokter Sam yang baru keluar dari sana.


"Dok...dia??"


"Dia tuan muda Hutama, pemilik rumah sakit ini. Tuan, tolong lepaskan dokter Jo. Dia masih baru dan belum tau siapa anda. Maafkanlah dia." bujuk Sam pada Nando yang masih diselimuti kemarahan. Berlahan Nando melepaskan cengkeramannya dan beralih pada dokter Sam.


"Nyonya muda mengalami pendarahan dan trauma akibat benturan keras. Hal itu mempengaruhi janin dalam perutnya. Hanya ada salah satu yang bisa diselamatkan tuan...nyonya, atau calon bayi anda." Kepala Nando laksana ditimpa godam besar. Perkataan Sofia untuk menyelamatkan bayi mereka kembali terngiang ditelinganya. Setetes air mata jatuh membasahi punggung tangan Sofia yang berada dalam genggamannya. Dalam bimbangnya, Sofia tersadar dari pingsannya. Nando menoleh begitu merasakan pergerakan dari tangan halus Sofia.


"Sayang ..kau ..kau sudah sadar??" Nafas Sofia tersengal dengan wajah yang makin memucat.


"Tuan, anda harus segera memutuskan. Nyonya dalam masa kritis." tekan Sam membuat sedikit kebahagiaan dalam hatinya yang sempat menyala menjadi redup menjadi dan hendak padam.


"Selamatkan bayi kita mas." kata Sofia lemah dengan nada memohon. Hati Fernando menjadi kalut.


"Tuan....."


"Selamatkan istriku Sam!" putusnya mengagetkan semua yang ada disana, juga Sofia yang makin lemah.


"Mas..kumohon..."


"Sayang dengar, aku ingin bayi kita tetap hidup. Tapi jika disuruh memilih aku akan tetap memilihmu. Pria ini tidak bisa hidup tanpamu Sofia. Aku...aku sangat mencintaimu istriku, jangan pernah meninggalkan aku atau menggantikan kebahagiaanku dengan yang lain. Yang kuinginkan adalah kau Sofia." kata Fernando tegas sambil menyusut air mata yang turun di pipinya. Mata Sofia berkaca. Perkataan itu ...kata itu...dia sangat menantikannya sejak awal pernikahan mereka. Sekaran, di detik-detik terakhir hidup matinya...pria yang dicintainya dengan segenap jiwa itu menyatakan perasaannya. Pria yang dia anggap memberi perhatian lebih padanya karena sedang mengandung anaknya itu malah memilihnya. Apa dia masih akan meragukan ketulusannya??


'Tuhan, jika aku masih kau beri rahmat dan umur panjang..ijinkan aku tetap hidup bersama bayiku. Untuk seorang suami yang sudah kau tuliskan namanya di lauhul mahfudz untukku.'


Bisiknya dalam hati.


"Sam...cepat selamatkan istriku!!" hanya teriakan itu yang bisa dia dengar. Selebihnya hanya gelap.


Dokter Sam langsung menghubungi beberapa dokter untuk mengoperasi Sofia secara mendadak. Keributan kembali terjadi saat Nando tetap memaksa masuk ruang operasi. Sang tuan muda yang keras kepala sama sekali tidak mau dipisahkan dari istrinya hingga sekretaris Alex datang dan menariknya keluar. Hanya Alexlah yang berani memaksanya. Untung sopir tadi bergerak cepat mengabari Alex soal keadaan tuannya hingga sang sekretaris segera meluncur kesana. Dia tau Nando akan membuat keonaran saat berada dalam posisi genting menyangkut nyawa anak istrinya.