Dear Husband

Dear Husband
Honey



Hangat ...itu hal yang pertama kali Sofia rasakan saat terjaga dari tidurnya. Dia mengerjabkan matanya, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu kamar. Sebuah lengan kokoh melingkar dipinggangnya. Saat mendongak, kepalanya tepat berada di ceruk leher pria tampan berhidung mancung dengan bibir penuh yang membuatnya menelan ludah. Wajahnya sontak memerah saat tau tangan kanannya menyentuh dada bidang penuh otot sang pria yang terekspose sempurna karena piyamanya yang terbuka. Malu rasanya walau dia bukan gadis belia lagi. Sekali lagi dia aalah seorang dokter yang tau anatomi manusia dan sering bersentuhan tanpa risih dengan mereka. Tapi dengan Fernando? kenapa rasanya berbeda? getaran halus itu nyata terasa.


"honey...jangan pergi." gumam Nando yang masih menutup matanya. Sofia langsung menghentikan gerakannya. honey?? siapa yang Nando maksud?apa...apa Nando punya kekasih? atau dia ingat pada Emma? orang sakit memang kadang mengigau.


"Lepaskan mas. Kau bermimpi ya. Kau salah orang." bisik Sofia saat merasakan pelukan Nando makin kuat padanya. Dadanya sudah menempel sempurna ditubuh sang suami, membuat wajahnya kembali merona.


"salah?" suara serak khas bangun tidur Nando menginterupsi gerakan Sofia. Wanita itu segera menengadahkan kepalanya, menatap mata Nando yang juga menatapnya teduh.


"Aku bukan Emma." ujar Sofia lirih sambil menundukkan kepalanya. Mata Nando membulat sempurna.


"Sofia lihat aku!" desisnya dingin. Mau tidak mau wanita itu menengadahkan kembali kepalanya menatap lekat netra blue ocean itu dalam.


"Jangan sebut nama wanita itu lagi diranjang kita."


"Bukankah dulu ini juga ranjangnya?"


"Stop Sofia! Semua tentangnya sudah kubuang jauh-jauh dari hidupku."


"Lalu tadi...."


"Apa?"


"Honey? apa kau...punya wanita lain yang terbawa hingga alam bawah sadarmu?" Mata Nando kembali membeliak sempurna. Dihadapannya, wajah polos dengan pulasan bedak dan lipstik tipis itu benar-benar membuatnya gemas. Tanpa kata dia bergerak mengecup bibir merah merekah itu lembut. Sadar tak ada respon dari wanitanya, pria tampan itu malah semakin gemas dan memperdalam ciumannya hingga keduanya kehabisan nafas.


"Tentu saja itu dirimu Sofia...honey, its you." bisiknya lagi tepat diatas bibir Sofia yang masih sedikit terbuka karena ulah Nando tadi.


"Ta..tapi...bi..biarkan aku turun."kata Sofia salah tingkah, tak kuasa bersitatap dengan Nando. Tangannya masih nerusaha melepaskan tubuhnya dari cengekraman Nando.


"mau kemana?"


"Dapur. Kau belum makan mas. Kita ketiduran hingga entah berapa lama. Pasti bubur buatan bi Lani sudah siap."


"Telepon saja."


"Tapi mas....." Jangan sebut namanya Fernando jika mau menurut pada orang lain. Pria itu akan selalu bertindak semaunya sendiri. Dia menekan beberapa nomer diponselnya.


"Bik, bawakan bubur ayam dan makan malam untuk istriku kemari." perintahnya lugas. Sofia sampai melenguh kesal pada pria itu.


"Sekarang apa lagi?" Sofia menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu diamlah. Tetap seperti ini." Dan Nando kembali melingarkan lengannya pada tubuh Sofia dan menyandarkan kepalanya di pundak wanitanya. Sangat intens hingga Sofia dibuat merinding dengan hembusan nafas sang tuan muda yang mengenai lehernya.


"mas....."


"hmmmm."


"Terimakasih sudah mengijinkan aku jadi residen walau cuma dirumah sakitmu." Pelan, Sofia tak ingin merusak mood sang suami yang tampaknya berbeda malam itu.


"cuma katamu? apa kau tidak tau jika Hutama persada adalah rumah sakit terbaik di Indonesia?" benar, Nando yang tenang mulai terpancing. Egonya tersentil. Orang lain pasti akan langsung terpukau begitu ada yang menyebut Hutama grup. Tapi Sofia? istrinya itu seolah biasa saja. Dia ini sebenarnya tak tau atau tidak mau tau.


"Kenapa menatapku seperti itu?" sang dokter kembali menundukkan wajahnya menghindari mata elang dihadapannya.


"Kau...menarik."


"Aku tau."


"Apa?"


"hmmmm."


.......tokk....tok....


"Masuk." Jawab Nando seraya memencet remote buka otomatis pada pintu kamar mereka. Dia juga memegang erat bahu Sofia yang akan beranjak dari tidurnya. Tak hanya itu, dia membenamkan kepala sang istri di dadanya hingga orang yang tidak tau menahu awal mulanya pasti mengira Sofia sedang lelap dalam pelukan hangatnya. Sofia yang gelagapan mau tidak mau mengikuti kemauan Nando. Rasa malu membuatnya tidak berani menengadahkan mukanya.


"Permisi tuan...ini pesanan anda." Bi Lani dan Bi Mimi datang dengan dua nampan ditangan masing-masing. Bau teh harum mendominasi ruangan.


"Letakkan saja disitu." perintah Nando sambil mengelus pipi Sofia yang memilih pura-pura tidur."


"Honey, bangun.makanan sudah datang." katanya lembut hingga membuat dua pembantu itu tersipu dan segera meletakkan makanannya di meja. Mereka pembantu senior yang sudah sekian tahun mengabdi pada keluarga Hutama. Belum pernah mereka melihat tuan mudanya bersikap selembut itu pada wanita. Tak ingin menganggu sang tuan, mereka bergegas keluar.


"Suapi aku." perintah Nando begitu pintu tertutup dan kedua pelayannya sudah pergi.


"Kau kan sudah sehat mas?"


"Siapa bilang? kepalaku masih pusing. Anggap saja rasa terimakasih karena aku sudah mengijinkanmu...."


"hmmm baiklah." potong Sofia cepat. Tak ada gunanya berdebat. Dibantunya Nando turun dari ranjang atas permintaan sang suami juga. Kini mereka duduk berdekatan di sofa kamar. Tangan Sofia mulai menyuapkan bubur hangat pada Nando yang bersikap sangat aneh malam itu. Makan sambil menatap wajahnya lekat.


"jangan melihatku seperti itu mas."


"Ada yang salah?"


"Tidak tapi aku.."


" Makan." kata Nando seraya menyuapkan makan malam Sofia pada istri cantiknya itu.


"ke...kenapa?"


"Makan dan jangan banyak tanya." Ragu Sofia membuka mulutnya, menerima suapan Fernando yang dengan telaten menyuapinya. Mata keduanya terus saling tatap hingga makanan dikedua piring mereka habis tak bersisa.


"Minum dulu mas." Sofia menuangkan teh hangat dan diserahkan pada Nando. Pria itu menerimanya, tapi malah mengangsurkan gelas itu pada Sofia.


"Lady first." bisiknya seolah memerintah Sofia agar menyecapnya terlebih dahulu. Sofia yang bingung segera meneguknya lambat. Pikirannya masih menduga-duga kemauan Fernando saat lelaki itu malah meminum sisa teh itu hingga tandas.


"Kudengar dari ayah kau pandai memijat."


"Ayah?"


"Ya."


"kau menelepon ayah juga?"


"Dia juga ayahku." balas Nando sengit. Apanya yang aneh hingga wanitanya itu terlihat kaget dengan raut muka tak percaya.


"Maksudku....apa yang ayah bilang tentang aku?" selidik Sofia ingin tau. Ayahnya itu walau ramah pada siapapun tak akan bicara mengulik putra-putrinya sembarangan.


"Ayah bilang kau pandai memijat, menyembunyikan perasaan juga sangat mencintai aku."


"Apaaa!!!!!!!!" teriak Sofia keras hingga terlojak dari duduknya.


"Kau mengada-ada mas. Aku tidak pernah bilang begitu pada siapapun apalagi ayah." lanjutnya masih kesal. Tidak mungkin ayahnya bilang begitu. Pasti itu hanya karangan Nando saja.


"Berarti kau tidak mencintaiku. Begitu maksudmu?"