
"Maafkan saya pak, saya tidak bisa mengikuti program ini karena tidak mendapatkan ijin suami. Sekali lagi bukan maksud saya...." Tergugup Sofia mencoba menjelaskan semuanya. Kaki dan tangannya mulai berkeringat saat tau disana telah berkumpul beberapa dosen senior dan dekan juga. Sebenarnya ada apa hingga secara kebetulan para petinggi kampus juga berkumpul disana? Sofia merasa seperti dikuliti saat ini. Tadi saat seorang staf memberi tau bahwa dia disuruh menghadap Shandy, rasa tidak enak sudah menyentuh dinding hatinya.
"Suami anda sudah mengijinkan anda." Seketika Sofia menatap kaku ke arah Shandy yang duduk tegap dikursinya. Pria itu meraih laci dan mengambil sebuah stopmaf yang disodorkan pada Sofia dan memberi kode agar dokter cantik itu mengambilnya. Sofia menghentikan gerakan tangannya yang saling memilin karena dalam fase gugup. Ya..kegugupan untuk menghadap Shandy dan mengatakan alasannya tidak ikut program sesuai kenyataan tanpa dibuat-buat walau nanti konsekwensinya adalah dia akan terlambat lulus. Resiko besar yang mau tidak mau harus dia ambil dari pada hanya diam dan terkesan tidak bertanggung jawab.
Tangan itu setengah gemetar meraih map dan membukanya. Hampir saja dia bersorak girang saat melihat surat persetujuan itu sudah ditanda tangani oleh Fernando. Apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu setelah tadi sempat membuatnya sangat kecewa dengan kukuh berkata tidak. Kenapa tiba-tiba pria dingin itu setuju? kapan dia datang dan menyerahkan surat itu ke kempus. Tunggu.....disini dituliskan tujuan program itu adalah rumah sakit jantung Hutama husada. Deg......
"Tuan Alex baru saja kesini satu jam lalu untuk mengadakan kerjasama dengan universitas ini terutama fakultas kedokteran serta menyerahkan surat persetujuan ini. Anda tau betapa sulitnya rumah sakit milik keluarga anda itu diajak bekerja sama karena standart yang tinggi dari mereka? dan hari ini adalah suatu kehormatan saat mereka mengutus tuan Alex datang dan menjalin kerja sama hingga banyak residen seperti anda bisa dipebantukan kesana. Sungguh, suami anda sangat membantu fakultas ini agar lebih prouktif." jelas sang dekan dengan wajah serius. Siapa yang tidak tau Hutama husada? rumah sakit milik Hutama grup itu hanya salah satu cabang usaha dari Hutama grup yang masuk jajaran rumah sakit terbesar ditanah air dengan fasilitas lengkap dan canggih sekelas luar negeri.
"Karena suami anda hanya menyetujui anda menjadi residen dirumah sakit keluarga itu maka secara langsung anda akan berada disana hingga beberapa semester mendatang."
"Tapi pak....."
"Keputusan ini sudah final dokter. Kami harap anda menyetujuinya karena hanya ada dua alternatif. ikut atau mundur." tukas sang dekan tegas. Tak ada suara. Ruangan seketika menjadi hening.
"baik, saya ikut pak." putus Sofia kemudian. Dia tidak ingin lagi memperpanjang masalah. Nando sudah memberi ijin saja sudah membuatnya bahagia, terserah dimanapun dia ditempatkan. Sofia bergegas pamit karena hari ini dia ada jadwal dirumah sakit hingga jam 6 sore.
Dikediaman Fernando....
Bik Lani baru saja menutup pintu rumah saat sang tuan muda masuk diikuti sekretaris Alex dibelakangnya. Keduanya masuk ke ruang kerja seperti biasanya. Hanya sebentar karena pintu kembali terbuka, menampilkan Alex yang keluar dari sana.
"Bik, tolong buatkan teh jahe untuk tuan muda. Sepertinya dia tidak enak badan."
"Baik tuan." dan pelayan setia itu bergegas ke dapur. Pantas saja tuan mudanya pulang lebih awal dari biasanya. Ternyata dia sedikit mengalami keluhan. Sesaat kemudian bik Lani sudah kembali dengan nampan berisi teh jahe untuk sang tuan muda. Alex yang membawanya masuk kedalam. Sekretaris berbadan tegap itu langsung menghubungi dokter keluarga mereka.
"Asalamualaikum." salam Sofia saat memasuki rumah. Alex berdiri dari duduknya dan menjawab salamnya.
"Apa mas Nando sudah pulang?" tanya sofia sekedar basa-basi. Dia sudah cukup hafal rutinitas suaminya itu. Dimana ada Alex, disitu ada dirinya.
"Tuan diruang kerjanya." balas Alex singkat seperti biasa. Sofia hanya berdehem sesaat lalu berpamitan ke kamarnya. Tubuhnya terasa lelah hingga dia masih tetap memakai jas putihnya karena sudah terlalu enggan untuk melepasnya. Wanita muda itu bergegas ke kamarnya, mandi lalu berniat menjemput Elle nanti.
Hanya duapuluh menit yang dia perlukan untuk mandi dan bersiap. Tergesa dia menuruni tangga saat melihat siluet seseorang keluar dari ruang kerja suaminya. Matanya menajam.
"Ahhh...dokter Sofia?anda disini?" balasnya ramah sambil menjabat tangan Sofia ramah. Mereka pernah terlibat kerja sama di daerah terpencil beberapa waktu silam.
"ehmm..ya..seperti yang anda lihat." sahuy Sofia ramah.
"anda....."
"Dia nyonya muda kami dokter." jelas Alex saat tau ada pertanyaan besar yang mengganjal dibenak dokter Sam. Sang dokter menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar.
"Woow...ini kejutan. Lalu kenapa memanggil saya jika dirumah ini sudah ada dokter hebat?" katanya dengan tawa renyah. Sofia yang sekarang bertanya-tanya.
"Siapa yang sakit dok?" tanyanya tak mengerti.
"Suami anda, tuan Fernando. Kok anda malah tidak tau dokter?" tanyanya bingung. Seketika wajah Sofia berubah. Ada rasa lain yang menelusup dihatinya. Perasaan tidak dibutuhkan dan diabaikan. Namun sebisa mungkin dia menampilkan sisi positif dalam dirinya dan tersenyum lebar.
"Oohh itu...saya sudah tau dok. Cuma mas Nando saja yang tidak mau saya periksa karena takut jadi lain kejadiannya. Anda tau sendirikan bagaimana pengantin baru seperti kami ini? dia juga melarang saya masuk karena takut saya tertular. Ahh...manisnya suami saya ya dok? Lagi pula anda senior saya. Bagaimana bisa saya merebut pasien anda?" tentu saja dokter Sam tertawa tergelak mendengar perkataan Sofia. Dia sudah terlalu sering menghadapi candaan Sofia saat bertugas. Dokter muda usia itu memang senang berkelakar dan ramah pada siapapun. Dia pintar membawa diri.
"Anda masih seperti dulu dokter. Lain kali jangan terlalu memaksa suami kerja siang malam hingga dehidrasi. Masih ada banyak hari dokter...kalau perlu bulan madu saja sekalian." Sofia pura-pura tersipu seperti pasangan yang sedang jatuh cinta. Dokter Sam segera menyerahkan resep yang langsung diberikan pada pak Mun agar ditebus ke apotik lalu pamitan pulang tentu saja setelah beberapa menit berbasa-basi dengan nyonya rumah.
'"Kenapa tidak memberitahu aku jika mas Nando sakit?" cecar Sofia saat dokter Sam sudah pergi. Alex dengan wajah datarnya menjawab santai.
"Karena anda tidak bertanya nyonya."
"Apa itu harus? kau yang seharusnya memberitahu dulu."
"Seperti yang anda tau, dokter Sam adalah dokter keluarga Hutama. Dia akan selalu dipanggil jika ada anggota keluarga yang sakit."
"Tapi aku juga seorang dokter ...dan aku...istrinya." ragu...kalimat yang terdengar rancu dengan bimbang. Sofia mungkin bisa menyembunyikan masalah keluarganya pada siapapun kecuali Alex. Pria itu seperti bayang-bayang Nando saja.
"Yang tuan muda butuhkan saat ini adalah seorang istri. Jadi bersikaplah ayaknya seorang istri nyonya."