
Elle berlari kearah Sofia yang sudah merentangkan tangan didepan pintu kediaman Hutama. Tawa keduanya pecah dan menggema diseluruh ruangan. Bella yang sedang menyisir rambut Ling-ling sampai harus menggelengkan kepalanya karena kehebohan ibu dan anak itu. Ling-ling yang tak mau ketinggalan juga ikut berlari memeluk mereka. Jadilah acara peluk memeluk itu berlangsung lama.
"Hey sudah lepaskan. Kasihan mamamu Ell." teriak Bella seraya mencekal dan melepaskan Ling-ling lebih dulu.
"Biarkan saja Bel, aku kangen mereka." balas Sofia kalem.
"Kau saja yang tidak mau datang kemari. Bukanya aku sudah bilang, jangan dengarkan kak Nando."
"Bagaimanapun dia suamiku. Aku punya kewajiban menuruti perkataanya Bel."
"Ya sudah. Terserah kau saja kak." kata Bella menyerah pasrah. Dia mengantar mereka semua keruangan luas yang biasanya dipakai bermain.
Elle dan Ling-ling seolah tak mengenal capek. Hari itu Bella memperbolehkan Elle dan Aling untuk tidak tidur siang. Dia cukup mengerti kerinduan si kecil pada sosok mamanya. Dia mungkin bisa mengasuhnya, tapi tetap tidak bisa menjadi mamanya.
Dari ruang keluarga, mereka berpindah ke taman. banyak permainan mereka mainkan dan tak kalah seru dari permainan mereka di dalam rumah. Hampir sore saat Elle maupun Aling duduk kelelahan di gazebo besar ditaman. Mereka merebahkan diri disana. Elle langsung berbaring dipangkuan Sofia yang membelai kepalanya lembut. Angin sore membuat dua bocah itu tertidur.
"Mungkin mereka kecapekan. Biarkan saja tidur sebentar, nanti kita bangunkan mereka jika waktunya mandi." saran Bella karena melihat Aling dan Elle yang pulas. Ponsel dalam saku Bella berdering. Serta merta dia meraihnya.
"Kak Nando yang telepon. Kuangkat sebentar ya kak." Sofia hanya mengangguk. Nando...pria yang selalu dia harapkan menghubunginya, atau sekedar menanyakan kabarnya malah menghubugi semua orang selain dirinya. Tak ada yang aneh jika dia menghubungi Bella karena mereka bersaudara. Elle juga dalam asuhannya. Tak ada yang aneh juga jika dia menelepon bik Mimi, Alex, Maria, atau siapapun karena mereka terhubung dalam kehidupannya. Yang aneh adalah dia tidak pernah menghubungi Sofia. Bagaimanapun statusnya adalah istri Nando. Apa begitu tak layak dirinya untuk menyandang status itu?
"Hai kak...bagaiman kabarmu?" sapa Bella riang.
"Aku baik. Dimana Elle?"
" Dia sedang tidur dipangkuan kak Sofia." Bella mengarahkan kamera ponselnya pada Elle yang tertidur pulas, lalu menuju wajah Sofia yang duduk bersisihan dengannya. Kakak iparnya itu terdiam kaku ditempatnya. Tatapan mereka bertemu. Wajah yang sama. Wajah yang dia harapkan, wajah yang tak pernah punya ekspresi apa-apa padanya. Tiba-tiba seorang wanita berambut coklat muncul disamping Nando dan mengecup pipinya. Mata Sofia membulat sempurna. Ada yang nyeri dihatinya. Sofia segera menepis kamera Bella bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi juga. Ada pesan masuk dari dokter Maya.
"Hai Bell." sapa wanita diseberang sana ramah. Sofia mencoba mengalihkan perhatiannya pada ponselnya, tapi telinganya tidak mau diajak kerja sama.
"Ya, aku bersama kakakmu. Aku sudah baikan Bell, sekarang kami sedang berlibur.Perjalanan yang menyenangkan.Kau tau, sepanjang jalan dia begitu memperhatikan aku. Aku merasa kami masih pacaran seperti dulu." katanya dengan tawa berderai. Bella seketikan mengecilkan volume hpnya lalu menatap Sofia sedikit kikuk. Namun Sofia pura-pura tuli atau tak bisa berbahasa Inggis hingga tak tau apa yang mereka bicarakan. Melihatnya, Bella sedikit merasa lega. Mereka kembali bercakap-cakap sedang Sofia masih mendengarkan dengan cermat setiap pembicaraan mereka.
"Ohh syukurlah Clara. Kau memang teman terbaik."
"Hmmm tentu saja. Aku akan selalu jadi temannya sampai kapanpun. Teman jalan, teman hidup, juga teman tidurnya. Kau tau, dia pasti akan selalu menuruti keinginanku. Kakakmu sungguh pria yang sempurna Bell. Demi aku, dia bahkan rela terbang kemari. Padahal aku hanya demam biasa. Iya kan sayang?" tak ada jawaban , sambungan video call terputus meninggalkan Bella yang menggerutu kesal.
"Ahh...kakak memang selalu begitu, ehhh itu tadi Clara kak. Apa kau sempat melihatnya? sayangnya tadi bersamaan hpmu bunyi. Lain kali aku akan mengenalkan kalian. Dia masih kerabat kami." jelas Bella. Sofia hanya menganggukinya saja. Untuk apa membantah? toh tidak ada yang peduli padanya. Bella saja berani membohonginya dengan mengatakan mereka masih kerabat. Padahal jelas-jelas wanita itu menyebut kata pacaran. Bukankah lebih baik diam? rupanya Bella lupa jika dirinya seorang dokter. Dia bukan wanita tak berpendidikan yang tidak mengerti suatu bahasa.
Tak ada yang berubah dari sikap Sofia. Mereka tetap mengobrol seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka juga membangunkan Aling dan Elle bersamaan, menemani mandi dan makan sore. Selepasnya kembali bersantai di depan televisi.
"Asalamualaikum." serempak semua menoleh dan membalas salam itu. Sekretaris Alex muncul dari pintu penghung ruang tamu dan ruang keluarga tempat mereka bersantai ria.
"Kok sudah pulang pa?" Aling menyambut papanya bersamaan dengan Bella.
"iya sayang, papa akan istirahat lebih awal hari ini. Papa sangat capek hingga terpaksa masuk dihari libur. Maafkan papa yang tidak bisa menemanimu dan momymu." Sikecil Aling mengangguk tanda mengerti. Sejak Nando pergi ke Inggris Alex memang selalu pulang malam hari.
" Kalau begitu saya permisi pulang dulu." sama seperti tadi, semua mengalihkan pandang pada Sofia. Elle lah yang paling kecewa mendengar Sofia sudah pamit pulang.
"Mama...ini baru jam 5 sore. Masih ada satu jam lagi untuk menemaniku bermain." rengeknya. Kadang Sofia merasa tidak tega, tapi saat ini dia harus nenguatkan hatinya. Fernandi benar, dia harus mulai menjaga jarak dari Elle. Sekarang dia tau apa alasannya pergi tanpa pamit. Wanita bernama Clara itu yang membuatnya meninggalkannya. Dari tadi dia menahan nyeri di ulu hatinya agar terlihat baik-baik saja. Tapi nyatanya? dia tetap wanita biasa yang merasakan sakit saat sang suami lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya. Dia sadar, tidak ada cinta diantara mereka. Tapi tak bisakah Nando menghargai ikatan yang masih membelenggu mereka? sebegitu tak berartinyakah dirinya? Sofia berjongkok dihadapan Elle, memeluknya hangat sambil menyeka sudut matanya yang berair.
"Sayang, mamakan sudah menemanimu seharian, besok mama harus ke rumah sakit pagi-pagi sekali jadi harus segera istirarahat. Minggu depan kita ke taman bermain bersama aunty Bella dan Aling ya?" hiburnya. Elle bersorak girang dan memeluk tubuhnya erat. Setelahnya Sofia berpamitan pulang. Alex dan Bella saling berpandangan.
Setelah mobil melaju meninggalkan kediaman Hutama, tangis Sofia pecah sudah. Untuk apa dia bertahan? untuk apa membuat Fernando tertarik dan jatuh cinta? ide Bella ini sungguh tidak masuk akal. Sebuah panggilan masuk. Dokter Maya lagi. Dia menggeser tombol hijau.
"Ya dokter....saya bersedia."