Dear Husband

Dear Husband
Kembali



"Dokter tunggu...biarkan saya tetap disini!" semua mata memandang pada Emily. Wanita itu sudah mengambil posisi setengah duduk saat mengatakan keinginannya. Sean segera mendekat padanya.


"Em, kita harus segera pergi. Masih banyak rumah sakit terbaik disini atau luar negeri. Aku akan membawamu kesana." sergah Sean cepat. Entah apa yang ada dalam kepala Emily hingga dia nekat tetap tinggal. Dia tak tau jika dokter Sofia ini istri Fernando atau pura-pura tidak tau?


"Biarkan aku tetap disini Sean. Aku akan segera sembuh." kali ini Emily meminta dengan nada memohon, membuat Sean bimbang. Disatu sisi dia ingin membawa Emily kembali ke negaranya, disisi yang lain wanita itu terlihat ingin tinggal.


"Kau yakin Em?" tanya Sean memastikan.


"Aku tidak pernah seyakin ini dalam hidupku Sean. Kumohon biarkan aku tinggal." Emily kembali memohon, membuat Sean kehilangan kata-kata.


"Baiklah." putusnya penuh keraguan. Sofia yang cerdas dan teliti tentu tak melewatkan moment itu.


"Dokter, tolong rawat istri saya." lanjutnya kemudian.


"Maaf tuan Sean, bukan tidak mau .. tapi sudah saya jelaskan dari awal bukan? Saya bekerja sesuai prosedur yang berlaku." kali ini Sofia berkata sangat tegas.


"Tidak apa-apa Sean, asal aku tetap berada disini." Kembali Sofia dibuat terkejut dengan perubahan keputusan Emily. Yang tadinya menolak menjadi menurut, yang dulunya menurut jadi menuntut, yang tadinya menuntut jadi menurut. Perubahan yang aneh.


"Baik, saya akan mengatur kepindahan and ke ruang rawat inap." Sofia menandatangani pemindahan ruang pad selembar kertas dan memberikannya pada sang perawat yang sajak tadi berdiri disampingnya.


"Ruang rawat inap? Kenapa? Saya mau disini!" tolak Emily keras hingga tubuhnya refleks terduduk.


"Ini UGD nyonya. ICU. Ruang ini khusus untuk pasien gawat darurat sebagai pertolongan intensif awal, bukan bagi pasien yang sudah 100% sadar seperti anda." Sofia kembali mengingatkan dengan suara halus dan sopan. Bukannya menurut dan sadar, Emily malah makin meledak hingga nekat memegang krah kemeja Sofia dan menariknya kasar hingga sang dokter hampir terjerembab di atas brankarnya.


"Em...lepaskan!" teriak Sean kesal sambil berusaha melepaskan cengkeraman kuat Emily pada baju Sofia. Urusannya bisa jadi runyam jika dibiarkan. Bagaimanapun Sofia adalah istri seorang Fernando satria hutama yang sama sekali bukan tandingannya. Milyarder muda itu bahkan bisa menghancurkan keluarga Emily dalam satu jentikan jari saja.


"Kau. ...kau membuatku kesal dokter sombong!" maki Emily keras hingga membuat beberapa dokter dan suster jaga berdatangan hingga membuka tirai pasien. Mata mereka terbelalak melihat adegan itu. Para suster berlarian ke brankar lain untuk menenagkan pasien ICU agar tidak terpengaruh pada keributan itu.


Sofia sama sekali tak menjawab atau memberi perlawanan terhadap perbuatan Emily padanya. Kedatangan rekan-rekannya sudah cukup menerbitkan senyum kecil di bibirnya. Tinggal sedikit bumbu lagi maka semuanya akan jadi jelas.


"Maaf jika saya membuat anda kesal nyonya. Tapi anda memang sudah waktunya dipindahkan ke kamar perawatan..."


"Diam!!" dan......plak!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sofia hingga meninggalkan bekas merah dan darah segar mengalir disudut bibirnya. Lagi-lagi semua orang tercengang karenanya. Tak terkecuali Sean yang langsung mencengkeram tangan istrinya sekuat tenaga hingga Emily kembali memaki dengan serangkaian kata-kata kotor dari bibirnya.


"Anda lihat bukan tuan Sean? Istri anda sudah sembuh total. Bukan hanya anda, sayapun juga terkejut karenanya. Tapi melihat perlakunnya pada saya tadi, saya sebagai dokter berani menyimpulkan jika istri anda sudah normal. Tak ada orang sakit jantung yang bisa menampar seorang dokter dengan penuh kemarahan. Jadi anda sudah boleh membawanya pulang." tukas Sofia seraya mengelap ujung bibirnya dengan tissu yang diambilkan oleh perawat tadi.


"Siapa bilang dia boleh pulang?" suara bariton yang sangat dikenal sofia menggema diseluruh ruangan. Fernando berjalan gagah diikuti Alex yang selalu setia berada dibelakangnya. Pria itu menghampiri Sofia dan mengelus ujung bibirnya yang terluka.


"Lex, telepon polisi sekarang!"


"Baik tuan muda!" Alex yang patuh segera bertindak cepat sesuai keinginan majikannya.


"Apa? minta maaf katamu? Jika semua hal bisa diselesaikan dengan minta maaf, lalu apa gunanya penjara?" kata Nando penuh penekanan, suara datar dan wajah dingin yang mengintimidasi.


"Kak...jangan lakukan itu. Wanita ****** ini yang sudah menjebakku hingga emosi. Dia duluan yang mulai." Protes Emily dengan lantang.


"Aku tidak percaya padamu."


"Kak, demi cintamu pada Emma maka kau harus percaya padaku." rengeknya lagi. Nando terdiam dan menatap lurus kedepan. Gamang. Emily yang melihat adanya cela langsung merengkuh tangan Nando yang berdiri disisi ranjang. Tak ada perlawanan.


"Emma adalah cinta dan obsesimu kak. Wanita ini tidak akan bisa menggantikannya sampai kapanpun. Aku dan Emma adalah sama. Mencintainya, sama artinya mencintaiku juga. Kita...bisa memulai segalanya dari awal."


"Lalu pria ini?" tunjuk Nando pada Sean yang berdiri membatu dengan mata melebar. Sekilas Emily menatap suaminya lalu mempererat rangkulannya.


"Dia hanya pelarian bagiku. Yang kucintai adalah kau. Bukan Sean! Jadi mari menikah dan memulai hidup baru bersamaku. Aku berjanji tidak akan berbuat bodoh seperti Emma." Kedua tangan Sofia mengepal kuat. Dasar wanita tidak tau malu! Pekiknya dalam hati. Tapi yang lebih membuatnya sakit adalah gestur tubuh Nando yang terlihat menikmati pelukan wanita menjijikkan itu. Sofia tau...Nando sangat mencintai Emma dan tak bisa melupakannya seperti kata-kata Emily. Sekarang apa lagi yang bisa dia harapkan?


"Kau....." dengus Sean kasar dengan tangan mengepal dan wajah merah padam.


"Apa? Belum cukupkah penjelasanku? kau hanya figuran. Tak ada dalam kamusku daftar kata mencintaimu Sean Moraima." cibir Emily dengan mimik jijik dan merendahkan.


"Mulai saat ini aku menceraikamu Emily Marseden. Enyahlah kau dari hidupku!!" dan Sean berjalan cepat menuju pintu, pergi dari sana.


"Sayang, lihat..dia sudah menceraikan aku. Kau tinggal menceraikan wanita ****** ini dan kita bisa menikah." Sofia menundukkan kepalanya, kalah. Dia tau dari awal jika dirinyalah yang akan kalah. Tapi ternyata kekalahan itu begitu menyakitkan. Perlahan dia mengelus perut ratanya dan beristighfar dalam hati. Hampir saja dia berjingkat saat telapak tangan besar menyentuh perutnya juga.


"Mas ...." desisnya saat melihat Nando pelakunya. Berlahan pria itu melepas tangan Emily yang melingkari tangannya.


"Kau terlalu berhalusinasi Emily." balas Nando dingin.


"Sayang...kau...."


"Diam!! Sekali lagi kau sebut aku dengan kata-kata menjijikkan itu maka kupastikan semua gigimu akan rontok dalam tiga detik." Ancam Nando horor.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


*Selamat malam readers....


Up sedikit saja untuk mengobati kangen kalian pada Sofia dan Nando ya...


Terimakasih yang tak terhingga pada kalian yang sudah menyemangati saya agar terus berkarya. Karena hanya motivasi kalian saja yang membuat mood saya membaik dan banyak berpikir dalam beberapa hari ini , hingga saya sampai pada sebuah pemikiran...Jika bekerja dan berkarya itu bukan melulu masalah uang dan materi. Membuat kalian semua bahagia dan terhibur juga merupakan ibadah bukan? Hingga akhirnya saya sudah mengikhlaskan penurunan level pada karya saya. Mungkin nanti Allah memberi ganti yang lebih baik...amin*....


Jangan lupa tab like dan tinggalkan jejak pada karya ini agar saya tetap semangat berkarya. Terimakasih๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜