
Tak ada pembicaraan yang berarti antara Nando dan Sofia dalam mobil yang membawa mereka ke rumah sakit pemerintah terbesar di daerah itu yang merupakan tempat kerja Sofia juga. Sebenarnya bisa saja mereka bertemu Edward sore nanti saat dokter spesialis mata terbaik itu sedang praktik dirumah sakit milik keluarga Hutama, namun sikap antusias Elle untuk segera diperiksa dan dinyatakan normal membuat Sofia tidak tega membiarkan sikecil harap-harap cemas menunggunya pulang untuk mengantar periksa nanti sore. Pasti anak itu banyak mengeluh dan merepotkan Maria yang tentu akan sibuk membujuknya.
Lihatlah sekarang, sikecil yang tampil cantik dengan bando pink dan dress warna serupa itu riang bernyanyi dan berceloteh riang sepanjang jalan. Alex yang mengemudipun tampak senyum-senyum mendengar nyanyian Elle yang kadang salah lirik, demikian pula Sofia yang sangat gemas karena harus beberapa kali membenarkan liriknya. Tawa kecilnya berderai seiring celotehan Elle yang lucu. Sedang Nando? pria itu tidak mau ambil pusing dengan tingkah ibu anak disampingnya. Dia menyibukkan diri mengecek beberapa pesan yang masuk dalam ponselnya.
"Silahkan tuan...kita sudah sampai." Alex yang sudah membuka pintu membuat ketiganya terkejut karena tak menyangka sudah tiba dirumah sakit. Rupanya mereka terlalu sibuk dengan aktivitas masing-masing hingga tidak sadar jika sudah sampai.
Nando turun lebih dulu, disusul Elle yang kemudian bergelayut dilengan papanya. Sofia juga menyusul turun melewati pintu lain tanpa menunggu Alex membukakan pintu untuknya.
" Mas yakin akan ikut masuk?"
"hmmmm." Sofia menghela nafas panjang lalu mulai berjalan memasuki koridor khusus bagi tenaga medis untuk menuju kepoli khusus mata diujung kanan. Beberapa kali mereka berpapasan dengan para perawat dan dokter jaga. Berkali-kali pula Sofia maupun Elle membalas sapaan mereka atau sekedar tersenyum ramah. Nando hanya menatap dingin pada mereka seperti biasanya hingga Sofia berulang kali menjawil tangannya agar bersikap ramah pada orang lain. Tapi tampaknya semua itu sia-sia. Pria itu tetap memasang wajah datar andalannya. Apa semua pria dari golongan atas selalu begitu?
"Selamat pagi dokter." Sapa asisten dokter Edward yang sudah berdiri diambang pintu. Dia tau jika dokter Edward dan Sofia sudah membuat janji karena menurut daftar pasien, Elle adalah pasien pertama Edward pagi itu.
"Pagi juga dok. Dokter Edward ada?"
"Iya ada. Anda sudah ditunggu didalam."
"Terimakasih. Ayo mas!" ajak Sofia sembari lebih dulu masuk ke sana bersama Elle.
" Pagi dok...."
"owhh dokter Sofia, mari masuk. silahkan. hmmm ada tuan muda Juga rupanya. Silahkan tuan." kata dokter Edward ramah. Nando menyusul istrinya duduk di bangku pasien. Edward yang tau jika Fernando pria yang sibuk dan perfeksionis segera menjalankan tugasnya memeriksa Elle tanp diminta tau banyak kata.
"Bagaimana dok?"
"Saya rasa Elle bisa dikatakan kembali normal walau belum seratus persen. Saya akan menuliskan resep baru untuknya. Dia tidak perlu kontrol kecuali ada keluhan nantinya." terang Edward sambil menulis resepnya. Dia tidak ingin basa-basi seperti dengan pasien lain. Hampir sepuluh tahun bekerja dirumah sakit keluarga Hutama membuatnya hafal sikap dan sifat tuan muda keluarga itu.
"Apa saya sudah boleh sekolah dokter?" suara kecil Elle menginterupsi. Sejenak Edward mengangkat kepalanya lalu tersenyum ramah.
"Rupanya nona kecil sudah sangat rindu suasana sekolah ya? tentu saja boleh, tapi tidak boleh terlalu capek ya..."
"Baik. Terimakasih om dokter." Elle yang kegirangan segera turun dan memeluk Sofia membuat senyum Edward semakin lebar. Setelah resep diterima, mereka segera berpamitan pulang.
"Mama...bolehkah setelah ini aku ikut mama bekerja? aku bosan dirumah." keluhnya. Tapi yang sebenarnya, Elle sangat tertarik dengan suasana rumah sakit yang sibuk karena banyak orang yang lalu lalang dan rasa bangga pada sang mama sambung yang selalu ramah dan dihormati banyak orang. Gadis kecil itu juga kagum pada sang mama. Bagaimanapun, seorang dokter tetaplah profesi membanggakan dan jadi idola anak-anak seusianya. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah segera sekolah agar dapat bercerita pada teman-temannya jika mamanya adalah seorang dokter yang cantik dan ramah.
Sofia menatap Nando tanpa suara. Tapi pria itu tetap berjalan pelan disampingnya, tanpa ekspresi.
"Mas...."
"Tapi pa, aku..."
"Ell, dengarkan papa. Rumah sakit adalah tempatnya orang sakit. Papa tidak mengijinkanmu disini karena tempat ini memang tidak layak untukmu."
"pa...." rengek Elle hendak menangis. Melihat itu Sofia segera berjongkok di depannya.
"El, papa benar. Rumah sakit bukan tempat yang tepat untuk anak sehat sepertimu. Mama juga akan bekerja, bukan bermain. Mama juga harus menolong orang lain bukan? El anak pintar, tunggu mama dirumah ya....nanti mama janji akan menemani Elle tidur malam ini." hibur Sofia. Mata yang semula berselimut kabut itu segera berbinar bahagia.
"Janji ya ma...."
"Sofia!" sentak Nando lirih sebelum ibu dan anak itu menautkan kelingking mereka. Wanita itu berpaling padanya. Wajah didepannya terlihat sangat dingin dengan rahang mengeras.
"Mama akan menemanimu tidur siang El, bukan semalaman." putusnya lagi. Mereka berdua tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pulang sebelum El tidur siang!" perintahnya tanpa rasa bersalah seolah Sofia adalah bawahannya dikantor yang bisa diperintah semaunya.
"Tapi aku ini harus bertugas mas. Shiftku hingga sore nanti. Bagaimana bisa aku .....mass!!!!" teriak Sofia keras saat Nando meninggalkan mereka dengan langkah lebar menuju lobi. Pria itu segera menghampiri Alex dan memberi perintah pendek. Sekretaris tampan itu berlalu pergi sebelum Sofia dan Elle sampai di dekat mereka.
"Ayo pulang El, nanti mama akan pulang untuk menemanimu tidur siang." Sofia masih mencerna kata-kata suaminya, tapi pria itu sudah lebih dulu mengulurkan tangannya yang mau tidak mau disambut Sofia dan menciumnya lembut.
"Asalamualaikum." pamit Nando seraya berjalan pergi bersama Elle yang melompat girang disampingnya.
"Walaikumsalam." gumam Sofia pelan, menjawab salam sang suami yang sudah menjauh.
"Selamat pagi nyonya."
"Ehh...sekteraris Alex. Kau mengagetkanku." Benar, hampir saja Sofia jantungan karena Alex yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya. Seketaris itu selalu membuat kejutan disaat yang tidak tepat.
"Maafkan saya nyonya. Ini surat ijin anda siang ini." kata Alex sambil menyerahkan lembaran surat resmi padanya. Sofia menerimanya dengan wajah heran.
"Aku? ijin? apa maksudnya?"
"Tuan menyuruh anda pulang nanti selepas istirahat siang. Akan ada sopir kantor yang akan menjemput anda. Permisi nyonya." Alex berlalu tanpa menunggu ijin sang nyonya. Dia tau sang majikan sudah menunggunya di mobil dan dia mesti buru-buru kesana.
"Dasar suami pemaksa." desah Sofia frustasi.