
Fernando terus bergerak aktif menelusuri tiap jengkal tubuh Sofia yang terdiam pasrah dibawah tubuhnya. Ciuman-ciuman yang dia berikan meninggalkan bekas disana sini. Pakaian yang dikenakan Sofia juga sudah hilang entah kemana. Tak ada perlawanan atau kata-kata dari bibir Sofia. Wanita itu diam seribu bahasa hingga membuat Nando yang asyik menghisap dadanya mengerutkan kening dan menatap wajahnya.
Setetes air mata jatuh membasahi pipi mulus sang dokter membuat sesuatu dalam diri Nando terguncang. Pria itu mengangkat tubuhnya yang menindih Sofia dan berbaring menyamping, bertopang pada tangan kirinya. Berlahan dia mengusap air mata itu lembut hingga membuat Sofia mengerjabkan matanya tanpa mau menoleh padanya.
"Maafkan aku Sofia." ucapnya lirih penuh penyesalan. Sofia hanya tergugu dalam bisu. kesedihan membuncah di dalam dadanya.
"Tak ada yang perlu dimaafkan. Kau suamiku. Kau berhak melakukannya dengan atau tanpa persetujuan dariku." balasnya disela isakan pelan. Fernando mengepalkan tangannya, geram pada dirinya sendiri
"Aku bukan lelaki brengsek yang akan memaksa seorang wanita untuk melayaniku walau itu kau, istriku. Aku bukan pria seperti itu Sofia. Aku tidak akan menyentuhmu hingga kau sendiri yang datang padaku dan menyerahkan dirimu." bisiknya lalu bangkit dari ranjang, memungut pakaiannya dan berlalu ke kamar mandi. Tak berapa lama Nando keluar dari sana dengan tubuh segar dan aroma sabun lembut yang menguar dari tubuh tegapnya. Sebuah kimono warna putih membungkus tubuh kekarnya. Ditatapnya sesaat Sofia yang masih berusaha meredakan tangisnya. Nelangsa.
"Aku tau kau sangat kecewa dengan perbuatanku Sofia. Mulai sekarang aku akan tinggal diruang kerjaku. Kau bebas berada dikamar ini karena ini milikmu. Aku tidak akan pernah mengangumu." tak ada sahutan dari Sofia. Wanita itu masih enggan menatap sang suami yang hampir saja memperkosanya walau itu bukan dosa. Tapi pemaksaan yang Nando lakukan tadi masih menyisakan trauma pada dirinya.
Nando berlalu, menutup pintu dan menuju ruang kerjanya. Sebuah kamar luas menjadi tempat favoritnya selama ini. Ditempat ini dia banyak merenung, bekerja, dan melarikan banyak masalah disana. Ada sebuah kamar terhubung yang juga dilengkapi tempat tidur, lemari pakaiannya walau isinya tak seberapa uga kamar mandi. Dia mendudukkan diri di sofa, mengingat kejadian tadi. Kenapa dia bisa seemosi dan sekasar itu pada Sofia saat melihatnya bertelepon ria dengan sang dosen. Banyak hal yang sudah terjadi namun tak sesuai rencananya.
Sepasang anak manusia itu tenggelam dalam pemikiranya masing-masing hingga sang fajar menjemput malam dan mengantarkan bulan kembali ke peraduannya. Sofia melonjak dari tempat tidurnya saat matahari sudah muncul, bahkan sinar terangnya sudah menerobos korden tebal yang menutupi jendela kamarnya. Tangannya meraba kesamping...kosong. Tidak ada Fernando disana. Berlahan dia bergulir kesamping, membenamkan kepalanya kebantal empuk yang biasa dipakai sang suami. Hanya wangi pria itu yang tertinggal disana.
"Ahh ya Tuhan...kenapa aku bisa kesiangan?" runtuknya pelan. Baru hari ini dia bangun jam tujuh pagi. Untung saja dia pergi ke kampus agak siang. Sofia bergegas ke kamar mandi, matanya membelalak lebar saat tau seperti apa rupa wajahnya. Wajah kusut dengan mata sembab hingga nyaris bengkak karena kebayakan menangis. Cepat dia mandi dan mengganti baju agar bisa segera turun. Namun ingatanya tertuju pada surat ijin yang kemarin diberikan Shandy. Dia harus mendapatkan ijin Nando dulu agar bisa ikut program itu.Diambilnya surat itu dan menuju ruang kerja Nando.
"Bik, apa tuan Nando ada didalam?" tanyanya saat bik Mimi baru keluar dari ruang kerja sang tuan. Terlihat sekali wanita paruh baya itu baru saja membersihkan ruangan itu dan mengambil pakaian kotor sang majikan.
"Tuan sudah berankat pagi-pagi sekali nyonya."
"hhhhhh...ini karena aku bangun terlambat." keluh Sofia frustasi.
"Apa nyonya butuh sesuatu?"
"Kenapa tidak datang saja ke kantor tuan?"
"Nanti malam saja setelah dia pulang bik. Saya berangkat dulu ya." pamit Sofia . Tangannya memasukkan lembaranh kertas tadi kedalam tas punggungnya.
"Sebaiknya ada sarapan dulu nyonya. Saya sudah memasakkan gurami bakar untuk anda." Sofia melongo heran. Sejak kapan rumah ini memakai menu sarapan berat seperti dirinya? bahkan dia memasak sendiri sarapannya setiap hari karena pelayan disana tidak biasa memasak menu-menu seperti itu untuk sarapan.
"Tumben bibi masak menu itu untuk sarapan."
"Tuan yang menyuruh nyonya. Kata tuan gurami itu makanan kesukaan anda."
"Mas Nando? dari mana dia tau?" disebut keanehan saja jika orang seperti Nando yang sangat sibuk dan introvert mau mengurusi hal-hal kecil semacam itu.
"Saya kurang tau nyonya. Tapi tuan juga memberikan sebuah resep masakan pada saya." Tanpa banyak bicara Sofia menuju meja makan. Bukan rasa lapar yang membuatnya bergegas kesana, tapi sebuah rasa penasaran yang butuh jawaban untuk dituntaskan. Berlahan disendokkannya makanan itu kedalam mulutnya. Lagi-lagi keanehan dia rasakan. Rasa masakannya sangat mirip dengan masakan ibunya dikampung. Apa mungkin?????
Kembali rasa penasaran merajai hatinya. Sofia menyelesaikan makan paginya dengan cepat lalu menelepon ibunya dikampung. Pasti jam sekarang ibunya masih berkutat di dapur. Benar saja, wanita yang melahirkannya itulah yang mengangkat telepon.
"Bu, apa mas Nando pernah menelepon ibu?" tanya.Sofia hati-hati setelah lumayan lama berbasa-basi.
"Hampir tiap hari suamimu itu selalu telepon kami. Menanyakan kabar dan kesulitan yang mungkin kami alami. Ayahmu bahkan tidak kesulitan lagi mencangkul disawah dan ladang karena suamimu sudah membelikan kami peralatan yang baru. Kemarin juga dia telepon untuk menanyakan hal-hal yang kau suka. Kau tau..ternyata dia juga yang membantu adik-adikmu mencapai cita-cita mereka." Sofia terpaku ditempatnya. Masih banyak cerita yang mengalir dari bibir sang ibu dan hanya dia cerna satu-satu dalam diam. Pantas saja sikembar bisa masuk akademi secara instant tanpa kesulitan. Ternyata ada campur tangan Fernando didalamnya. Yang ada dalam benaknya kini adalah kenapa Fernando diam-diam melakukan semuanya tanpa sepengetahuannya?
Berjuta tanda tanya bergelayut dalam benak Sofia. Jika Nando sangat baik pada orang tua dan kedua adiknya, kenapa dia terlihat sangat tidak peduli padanya?