Dear Husband

Dear Husband
Saya Suaminya



"Apa kau akan tetap membiarkan Elle disini?" Pria bermata blue ocean itu akhirnya membuka mulutnya. Bersuara. Sofia yang salah tingkah berusaha menata hatinya.


"Apa rumah dinasmu ini sudah tertutup untuk kami?" tanyanya penuh tekanan.


"Bukan begitu, tapi ini sudah larut malam."


"Ada apa dengan larut malam? kau takut dihakimi warga? kenapa? aku suamimu. Ada surat-surat resminya juga."


"Tapi....."


"Permisi tuan, ini obat dan peralatan yang dipesan nyonya." Alex masuk sembari menenteng plastik besar berisi pesanan Sofia beserta tiang infus pada Sofia.


"Ma..masukkan saja ke rumah. Mari lewat sini." Sofia segera membuka pintu penghubung rumahnya. Wangi parfum beraroma pinus dari pengharum rumah tercium lembut begitu pintu terbuka. Sofia masuk lebih dulu diikuti Nando yang menggendong Elle kemudian Alex yang menenteng obat-obatan tadi. Ragu, dia membuka pintu kamar karena tidak ada tempat tidur lain disana. Elle butuh ranjang agar nyaman.


Nando masuk kesana dan membaringkan Elle yang agak tenang disana lalu duduk ditepi ranjang.


"Sayang, tahan ya...mama akan memasang infusnya agar kamu cepat sembuh." Elle hanya memejamkan mata Dia memang takut jarum suntik.


"papa..." isaknya. Nando mengenggam tangan kanan Elle, sedang Sofia menusuk tangan kiri Elle dengan jarum. Untunglah bisa terpasang hanya dengan satu kali tusukan saja hingga Sofia maupun Nando bisa bernafas lega. Pria itu segera bangkit dari duduknya dan bicara pada Alex dan seorang anak buahnya. Tak berapa lama terdengar pintu tertutup dan mobil yang berjalan menjauh. Saat masuk kembali, Nando melihat Sofia sudah berganti baju dengan baby doll dengan lengan dan celana panjang. Suasana kaku terlihat diantara mereka.


"Apa Elle sudah tidur?" tanya Nando sambil melepas jasnya dan menyampirkannya di gantungan baju.


"Sudah. Aku memberinya obat tidur dan penurun panas agar bisa istirahat dengan tenang."


"hmmm baguslah. Aku ingin mandi. Dimana tempatnya."


"Pergilah kebelakang. Kamar mandinya disamping dapur." Nando berjalan kebelakang, menyangking sebuah paper bag yang mungkin dibawakan Alex tadi. Tak lama terdengar guyuran air dari sana.


Sofia baru saja akan kembali ke kamar Elle kala perutnya terasa sangat lapar. Dia baru ingat jika belum sempat makan malam tadi. Dia mengambil dompet dan akan keluar kala Nando selesai mandi. Pria itu bahkan masih mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Kedua bola mata mereka bertemu pandang. Ada yang berdesir disudut hati sofia. Kenapa pria itu terlihat sangat hot dan seksi dengan kaos oblong dan celana pendeknya? sesaat dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Meski dia mengagumi pria itu, dia tidak akan membiarkan rasa itu tumbuh subur. Makin subur akan makin sakit hatinya nanti. Lebih baik memusnahkannnya sebelum rasa itu merajai sanubarinya.


" Mau kemana?" tanya Nando dingin seperti biasa. Sofia menggerutu kesal. Kenapa dia bertemu lagi dengan robot berurat nadi ini setelah hampir move on darinya?


"Keluar, beli makanan."


โ€hmmm belikan aku spagheti juga. Aku belum sempat makan tadi."


"Ini bukan Jakarta yang serba ada tuan muda. Yang ada disini hanya makanan biasa. Kaki lima." terang Sofia menahan tawa. Suami pura-puranya itu pasti amnesia.


"Belikan apa saja asal layak dimakan." pungkasnya lagi. Tanpa banyak tanya, Sofia berjalan keluar. Mendung diluar sana hitam pekat. Dia berjalan menuju penjual mie ayam bakso diujung jalan. Awalnya dia tidak ingin membeli mie, tapi kemudian sadar bahwa Nando tidak akan bisa makan menu lain karena yakin pria itu akan protes keras karena yang tersisa hanya pedagang sate kambing saja. Menu yang kurang disukai Nando. Entahlah, kenapa banyak penjual yang tidak membuka lapaknya malam itu. Yang tadi sore buka pasti sudah laris manis dagangnnya.


Banyaknya pembeli membuat Sofia harus antri hingga hujan turun cukup deras. Dia sampai harus rela berdesakan dalam tenda walau barusan pesanannya sudah ditangan. Mau menerobos hujan juga pasti dia ketakutan. Kali ini terbilang deras. Sekalian saja menunggu agak reda.


" Ada dokter Sofia rupanya. Sedirian saja dok?" sapa seorang bapak-bapak berkumis tebal yang Sofia tau rumahnya didekat perempatan menyapanya ramah. Demikian juga beberapa ibu-ibu yang kebetulan menunggu hujan reda bersamanya.


"Ehh iya pak."


"Dingin-dingin begini apa nggak butuh teman dok? Tau arah pembicaraan akan bermuara kehal negatif, Sofia hanya tersenyum saja. Bagaimanapun dia orang baru disana. Mau tidak mau harus menggunakan adab kesopanan. Lagi pula dia seorang dokter, profesinya sedang dipertaruhkan. Dalam hati Sofia berdoa agar hujan cepat reda.


"Sayang, ayo pulang."


Seluruh mata memandang pada satu titik dan sumber suara. Disana, sesosok pria tinggi gagah, berwajah sangat rupawan mengenakan celana pendek dengan kaos putihnya berdiri menjulang dengan payung hijau berlogo dinas kesehatan mengulurkan tangan padanya. Fernando!


"Ehh...iya mas." Segera Sofia bangkit dari duduknya dan keluar dari tenda.


"Pacarnya ya dok?" tanya pria tadi. Fernando meraih pinggang Sofi dan mendekatkannya pada tubuhnya.


"Saya suaminya. Permisi." Nando segera mengajak Sofia pulang sambil terus memeluk pinggangnya. Kali ini Sofia hanya menurut saja.


"Lain kali tidak usah membeli makanan diluar. Deliveri order saja." bisik Nando kesal. Mungkin dia mendengar perkataan bapak-bapak tadi. Sofia hanya mengangguk.


Mereka tiba diteras dan mengibas-ngibaskan baju yang terkena air hujan. Rok panjang Sofia bahkan sudah basah hingga ke lutut. Dia masuk rumah lebih dulu, melihat keadaan Elle sekalian ganti baju. Sedang Nando mengunci pintu rumah dan mematikan lampu ruang tamu lalu duduk di depan televisi. Ada meja kecil disana. Dia menduga itu meja makan Sofia karena tidak ada meja makan disana. Nando menggeleng kesal. Bagaimana bisa istrinya tinggal dengan bahagia disana dua minggu ini? dirumah yang hanya sebesar kamarnya saja.


Sofia keluar kamar dan mengambil mangkok dari dapur. Dia juga membuat teh manis hangat untuk Nando. Suasana begini pasti membuat mereka butuh makanan dan minuman hangat. Dengan telaten dia menuangkan mie itu kedalam mangkok dan menyerakanya pada Nando.


"Makanlah, nanti keburu dingin." katanya lalu menuang mie miliknya. Mereka makan dalam diam, dibawah rinai hujan yang semakin deras.


"Mas tidur saja bersama Elle. Ini sudah larut. Elle baru akan bangun besok pagi atau bila dia ingin buang air kecil saja.โ€


" Lalu kau?"


"Aku bisa tidur disini." Sofia menggelar kasur lantai diatas karpet tebalnya. Dia masuk kedalam kamarnya lalu mengambil selimut tebal dari sana karena selimut yang biasa dia pakai sudah dipakai oleh Elle tadi. Dalam hati dia berterimakasih pada Maya, Sahabat barunya itu begitu perhatian padanya hingga membelikannya barang-barang kecil yang mungkin dia butuhkan.


"Kau saja yang tidur dengan Elle." kata Nando datar.


"Mas papanya."


"kau juga mamanya."


"Dia pasti lebih nyaman jika kau menemaninya."


"Tapi aku lebih nyaman saat menemanimu." Wajah Sofia merona. Namun dia cepat menepisnya.


"Baiklah, aku akan ke kamar." Nando segera menarik tangan Sofia yang barus setengah berdiri hingga wanita itu oleng dan jatuh dalam pelukannya.


'Diam disini dan jangan berisik." bisiknya pelan diatas bibir merah Sofia. Sesaat dia mengecupnya pelan lalu menarik Sofia dalam pelukannya. Tidur.


*


*


*


*


Hai readers...saya sangat bahagia dengan berbagai komentar dan like yang anda berikan. Meski tidak saya balas satu persatu, sejujurnya saya merasa sangat tersanjung dan dihargai. Masukan dan komentar dari anda adalah penyemangat saya untuk berkarya lebih baik lagi. Terimakasih sudah mampir dan mengapresiasi karya saya. Jangan lupa tingalkan jejak untuk menyemangati author ya..salam sayang selalu๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜