
"Namanya menjadi Moraima saat saya menikahinya tuan muda." Ujar Sean membuat semua orang tercekat karenanya. Nando seketika menatap manik mata Sean tajam.
"Menikahi Emily?" tanyanya mengulang. Sean menundukkan wajahnya dan menganggukkan kepalanya.
"Saya suami Emily Marseden." tegasnya kemudian. Nando menarik nafasnya panjang lalu berdehem sejenak.
"Baiklah, kita mulai meetingnya." semua kembali fokus pada proposalnya, demikian pula Sean yang langsung mempresentasikan milik perusahaan Roy.
Cukup lama Nando menimbang keputusannya, membuat tuan Roy dan istrinya bergerak gelisah. Alex juga terdiam dalam sikap dinginnya. Tatapannya lurus dan dingin. Sofia segera menyentuh lengan suaminya. Dia tau bukan haknya melakukan itu, tapi dia ingin Nando membuat keputusan secepatnya.
"Baiklah, saya setuju. Lex, segera keluarkan kontraknya." ucap Nando kemudian, membuat suami istri itu menarik nafas lega dan berulang kali berterimakasih pada keduanya.
"Tuan Sean, bisa kita bicara sebentar?" Ucap Nando setelah penandatanganan kontrak.
"Tentu saja tuan muda." balas Sean lalu kembali ke kurisnya sedang Roy beserta istrinya cukup tau diri dan memilih kembali ke kamarnya dilantai empat.
"Sayang, kau mau kemana?" cegah Nando ketika Sofia hendak mengikuti Alex keluar ruangan. Nyonya muda Hutama itu juga merasa tak enak hati tadi.
"Keluar. Bukannya kalian ingin bicara berdua saja?"
"Tidak. Tetaplah disini. Kau harus tau juga."
"Hmmm baiklah." Sofia juga kembali duduk ditempatnya disamping Nando.
"Sejak kapan anda menikahi Emily?" kali ini suara Nando tegas penuh selidik.
"Dua tahun lalu sebelum Emma meninggal." balas Sean masih dalam mode gugupnya. Yang ada di depannya kini bukan pria biasa, tapi putra mahkota kerajaan bisnis Hutama. Amat bodoh jika Emma menghianati pria yang bisa membuatnya kaya tujuh turunan.
"Kau tau tentang Emma?" selidik Nando.
"Saya hanya mendengar ceritanya saja." Memang itulah kenyataannya, Sean adalah orang baru yang hadir dalam kehidupan keluarga Marseden yang berantakan.
"Istrimu sudah bertemu aku di rumah sakit. Dia ingin mengambil Elle dariku. Apa kau tau itu?"
"Ya."
"Dan kau setuju?"
"Ya."
"Kenapa? bukankah kau juga tau jika Elle sudah kuanggap anakku?" sarkas Nando gemas.
"Ya saya tau."
"Saya dan Emily harus melakukannya demi keselamatan Elle." kali ini Sean menjawab pertanyaan itu dengan berapi-api."
"Keselamatan Elle? apa kau pikir aku tidak bisa melindungi Elle?" Geram...itu yang ada dalam pikiran Nando.
"Maafkan saya tuan muda. Mari berpikir....Elle adalah putri tunggal Emma dan Andeas. Hasil hubungan...." Sean tentu saja ragu berucap. Dia melirik Sofia gelisah. Sofiapun berbalik menatapnya dengan bibir terkatup rapat. Bukan ranahnya jika dia ikut dalam percakapan itu. Sama seperti Sean, dirinya juga orang baru dalam hidup Fernando meski berstatus istri milyarder itu.
"Lanjutkan. Istriku tau semuanya." Sean menarik nafas panjang.
"Secara hukum, Andreaslah yang berhak atas perwalian Elle."
"Kau salah, perwalian Elle jatuh ke tanganku karena aku dan Emma tidak pernah bercerai." Rahang Nando mengeras.
"Pernikahan kalian tidak sah karena Emma dan Andrean sudah lebih dulu melegalkan pernikahan incest mereka di Jerman. Tidak diperbolehkan seorang wanita memiliki dua suami. Anda dengannya juga menikah diluar negeri karena beda keyakinan. Dan saya pastikan pernikahan anda tidak absah dimata hukum ataupun agama." Tegas Sean kembali berapi-api. Entah keberanian dari mana yang di dapatkan pria berkulit pucat itu untuk bicara panjang lebar seperti itu dihadapan sang tuan muda.
"Jadi selama ini Emma dan Andreas membohongiku?" Ada rasa sakit dan tak terima dihati Nando. Cinta yang dibalas penghianatan. Semua rela dia lakukan dan berikan agar Emma mau berada disisinya. Cinta sudah membutakan mata dan hatinya.
"Ya. Emma mendekati anda untuk melancarkan dana perusahaan Andreas Marseden." Bak tersambar petir disiang bolong, Nando terhenyak. Namun sebentar kemudian pria itu menoleh ke arah Sofia yang langsung mengenggam tangannya lembut. Mata yang menyala kemerahan karena dendam yang muncul secara tiba-tiba itu meredup, membalas gengaman tangan itu hangat.
"Emily...tidak bisa mempunyai anak. Rahimnya rusak karena sesuatu hal. Dia ingin Elle yang akan menjadi anak angkat kami karena hanya Emily satu-satunya keluarga Elle yang hidup dan normal." lanjut Sean lagi dengan wajah tertekuk sedih.
"Tapi apa kau tau jika saat aku bertemu dengan Emily tadi dia mengungkit tentang rumah tangga dan perasaanku pada Emma? dia juga ingin menggantikan posisi Emma."
"Dan anda setuju?" sinis Sean terlihat sangat terluka.
"Tentu saja tidak. Aku sudah beristri."
"Orang kaya sekelas anda bisa menikah lebih dari satu." sindir Sean tajam.
"Jangan bicara buruk tentang suami saya tuan Sean. Saya juga tak bicara buruk soal istri anda bukan?" kali ini semua mata memandang takjub pada Sofia yang bicara sangat.
"Sebaiknya nasehati istri anda agar tidak menganggu rumah tangga orang lain, atau dia akan menerima akibatnya." kata Sofia penuh penekanan. Wanita muda itu berdiri diikuti Nando dan alex.
"Sudah cukup kita mengingatkan dia mas. Ayo pulang. Aku lelah." lanjutnya lagi lalu bergelayut manja dilengan kekar Nando. Tentu saja pria itu segera mengelus kepalanya dan membawanya pergi dari sana.
"Jangan coba-coba bermain api dengan keluarga Hutama jika kau tak ingin terbakar karenanya sekretaris Sean. Apalagi dengan nyonya Sofia, dia punya kekuatan diluar perkiraanmu." sergah Alex lalu berjalan menjauhinya. Selepas itu tubuh Sean terduduk lemah di kursinya.
"Sayang kenapa dilepas?" tanya Nando bingung saat Sofia segera menghempaskan tangannya saat mereka masuk ke mobil.
"Lalu kau berharap apa?" balasnya dingin, nyaris tanpa ekapresi.