
"Kau mungkin sedikit demam tuan muda." ketus Sofia sambil merapikan hijabnya.
"Aku suka tindakanmu tadi nyonya muda Hutama." katanya pelan didekat Sofia yang masih sibuk dimeja rias. Bukan memakai make up, tapi hanya memastikan penampilannya sudah cukup rapi.
"Kau tau, wanita sepertiku tidak akan mengalah sebelum berperang. Jika nanti aku kalah, setidaknya aku sudah berusaha mempertahankan apa yang menjadi hakku." Suara yang mengandung keyakinan penuh.
"Semua yang menjadi hakmu akan tetap berada padamu. Kupastikan itu."
"Apa itu juga termasuk hatimu?" Tak ada jawaban. Sofia kembali meneliti rangsel yang akan dibawanya ke kampus. Tanpa dijawabpun dia tau jika dia sudah kalah. Wanita itu menarik nafas panjang lalu melangkah pergi.
"Berhenti Sofia!" namun Sofia memilih menulikan telingannya. Dia tetap meraih handle pintu dan menariknya.
"Kubilang berhenti! aku suamimu dan aku tidak ridho jika kau keluar dari kamar kita." Sofia membatu ditempatnya. Nasihati ibu bapaknya kembali terngiang. Surga seorang istri terletak pada ridho suaminya. Apa dia akan melawan? Tak ada sahutan hingga sebuah tangan kokoh meraih pundaknya dan memaksanya berbalik.
"Dengarkan aku...segera singkirkan debu itu jika dia menganggu penglihatanmu."
"Kenapa tidak kau saja?" kata Sofia bergetar kala Nando langsung menatap manik matanya tajam.
"Karena aku seorang pria Sofia. Tanganku terlalu kuat hanya untuk menyingkirkan sebuah debu. Jangan pernah membuat mata lelakimu menjadi mengabur dan memerah karenanya."
"Apa...apa aku harus..."
"Jangan ragu untuk mempertahankan hakmu nyonya muda. Waktumu 24 jam dari sekarang." Sofia masih berkutat dengan pikirnnya saat Nando menepuk bahunya dan mencuri ciuman dipipi kanannya yang seketika merona. Tangannya bergerak meraba disana saat Nando sudah keluar dari sana. Ahh..Ya Tuhan...kenapa jantung ini kembali bertalu?
Setelahnya, dia kembali sibuk mencerna setiap perkataan Fernando tadi. Apa maksudnya dia yang harus mengusir Clara dari rumah itu? tapi kenapa? dia hanya wanita beruntung yang dinikahi Fernando. Dia bukan siapa-siapa yang bahkan tak tau apa-apa seputar masa lalu mereka. Tapi sekarang kenapa harus dirinya? apa arti waktu 24 jam seperti yang Nando berikan? ahh....dia harus segera mencari jawaban.
Lama Sofia termenung hingga dia memutuskan tidak mengkuti kuliah seperti rencana awalnya. Pikirannya terpusat pada satu orang. Lekas diambilnya ponsel dan menekan nomer yang baru-baru ini bisa dia hafal diluar kepala.
"Hallo Bel, bisa kita bertemu setelah anak-anak pergi sekolah?" Diseberang sana, Bella sang ipar menyahut dengan riang. Istri sekretaris Alex itu memang tipe terbuka dan supel. Pagi itu dia ada acara dan mengajak bertemu setelahnya menjelang menjemput Ling-ling disekolah.
"Baiklah kak. Kutunggu di kafe X jam 10 oke?" Sofia mengiyakan. Dia masih sempat melirik jam tangannya dan memastikan belum terlambat ke kampus dan mengikuti mata kuliah inti dari Shandy. Keluhan kecil terdengar dari bibirnya merutuki sikap Nando yang sering berubah dari menit kemenit. Lelaki yang sukar ditebak.
"Ada sesuatu yang harus kukerjakan." jawab Sofia dingin.
"Kalau itu menyangkut imigrasi dan dokumenku, kau terlambat Sofia. Orang-orangku sudah mengurusnya dan akan mengantarnya kesini sebentar lagi. Kasihan sekali kau ini." cibir Clara dengan senyum mengejek. Sofia mendekatinya hingga wanita itu mundur beberapa langkah kebelakang. Rupanya dia masih trauma dengan tamparan Sofia beberapa saat lalu yang bahkan bekasnya saja masih tampak disana.
"Kenapa? takut? harusnya kau siap menerima perlakuan tak mengenakkan saat sudah memutuskan menganggu suami orang nona. Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku akan tetap mempertahankan Fernando bagaimanapun caranya. Dan kau???? dengan atau tanpa dokumen itu aku akan tetap menyingkirkanmu dari kehidupan Fernando. Selamat siang...dan nikmati waktu terakhirmu dirumah ini." Clara melotot saat Sofia menabrak tubuhnya kuat sambil melenggang pergi dari sana. Lagi, wanita itu terpelanting kelantai karena tidak siap dengan tindakan tiba- tiba Sofia.
"Awass kau wanita sialaaaannnn!!" maki Clara kesal namun sia-sia karena Sofia sudah melenggang pergi dengan santainya.
Taksi online yang membawa Sofia sudah sampai di depan kampus yang pagi itu terlihat ramai. Sofia berjalan pelan memasuki gerbang bersamaan dengan mobil putih yang cukup dia kenal tiba disana. Tak lama kemudian, pria berambut cepak yang beberapa saat lalu hadir dalam pikirannya keluar dari sana dan langsung menuju ruangan para dosen diujung lorong utama. Langkahnya yang tegap setegap tubuhnya bagai magnet yang menarik Sofia kedalam pusarannya dan mulai melangkah mengikutinya.
"Ahh Ya Tuhan...kenapa aku mengikutinya?" gerutu Sofia sambil menepuk jidatnya pelan. Kadang dia juga merasa aneh karena selalu ingin menatap sepasang mata teduh pria itu. Bergegas dia berbalik arah menuju kelasnya dan duduk dbarisan terdepan karena hanya tempat itu yang masih kosong.
Menit demi menit berlalu, Shandy mengakhiri sesi kuliahnya dan mengucap salam bersiap keluar dari sana. Sesaat dia melirik Sofia yang langsung salah tingkah karena ketahuan memperhatikannya.
"Ada yang aneh dokter?" tanyanya dingin. Sofia menggeleng pelan.
"Tidak pak. Maafkan saya." katanya sambil menundukkan kepalanya.
" Anda lupa mengumpulkan tugas yang saya berikan. Ikut keruangan saya. Sekarang." perintah Shandy datar. Sofia menarik nafas dalam. Baru kali ini dia ceroboh dan lupa tidak memasukkan tugasnya ke dalam tas. Kehadiran Clara mau tidak mau menguras energinya hingga kurang fokus. Entah hukuman apa yang akan diaterima dari seorang Shandy.
"Baik pak." Dan Sofia buru-buru merapikan buku-bukunya dan melangkah takzim mengikuti sang dosen menyusuri koridor panjang kampus menuju ruangannya.
"Silahkan duduk."
"Terimakasih pak." Duduk berhadapan seperti itu membuat jantung Sofia berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia juga merasa sangat canggung saat hanya berdua saja diruangan sang dosen yang memang membuatnya salah tingkah. Bisa habis cita-citanya jika sampai Shandy melaporkan keteledorannya walau tidak berat namun bagi residen semester awal sepertinya adalah suatu ancaman yang wajib diwaspadai.
"Saya sudah membaca biodata anda dokter. Ada proyek pemeriksaan kesehatan jantung masal yang diadakan departemen kesehatan dan satuan militer. Menilik rekam jejak anda saya yakin anda mampu bergabung dengan para senior untuk diperbantukan sementara waktu walau belum lulus spesialis. Anda adalah salah satu residen yang sudah saya rekomenasikan ke pusat. Jadi harap jaga kepercayaan saya dan jangan lagi teledor." Mata Sofia berkaca. Semakin banyak mengikuti program-program itu akan semakin membuatnya cepat lulus. Dia sangat terharu pada kepercayaan Shandy padanya. Berulang kali dia mengucapkan terimakasih pada sang dosen.
"Ini surat pernyataan yang harus ditandatangani wali atau suami anda. Berikan pada saya besok." Dan Sofia kembali termangu. Surat ijin? apa Fernando mengijikannya??