Dear Husband

Dear Husband
Berbagi



"Bu dokter,tolong adik saya..dia baru saja jatuh dari motor,ditabrak orang." kata seorang pria yang tampak panik di hadapan Sofia.Kegugupan pria itu bahkan membuatnya lupa mengucapkan salam,mengetuk pintu,juga melepas alas kakinya saat masuk ke dalam rumah Sofia.Dokter muda itu segera berdiri dan membuka pintu kamar depan yang terhubung dengan teras agar mereka bisa masuk.


"Silahkan bawa kemari pak." kata Sofia ramah sambil menyuruh mereka membaringkan seorang pemuda yang memang terlihat tidak baik-baik saja dikamar depan.Darah mengucur dimana-mana,kulitnya juga dipenuhi bekas lebam karena benturan yang kuat.Fernando,Herman dan Arif yang ada diruang tamu menatap kepanikan itu dalam diam.Mereka bisa melihat dengan jelas kedalam karena ada jendela besar yang menghubungkan ruangan itu.Mungkin Sofia lupa menutup tirainya tadi.


Sofia memeriksa keadaan sang pemuda.Setelah memastikan tidak ada luka dalam dari kecelakaan itu,dia bergegas mengambil kotak obat dan mulai membersihkan luka dengan telaten lalu membalutnya dan memastikan pendarahan berhenti saat itu.Meski cukup parah,namun Sofia tidak berniat mengirim pemuda itu ke rumah sakit besar.Dia hanya memberikan beberapa jahitan pada luka terbuka dan memperbolehkan sang pemuda pulang.


"Matur nuwun bu dokter,kami permisi dulu." pamit ketiganya.Sofia tersenyum ramah dan mengantarkan mereka hingga ke teras.Tak lama dia kembali ke ruangannya,melepas sarung tangannya lalu mencucinya dengan cairan anti septik.


"Apa istri saya sering kedatangan pasien dirumah yah?" tanya Nando memastikan.


"Sofia satu-satunya dokter disini nak Nando.Pada awalnya banyak warga yang menentangnya karena warga kami lebih percaya berobat ke dukun.Jangankan Sofia yang baru diangkat kerja disini,Bu bidan Nana yang sudah hampir lima tahun disini aja masih sering jadi bulan-bulanan warga.Tapi Sofia dan para pekerja puskesmas pembantu berhasil meyakinkan mereka untuk berobat dengan cara yang benar.Jadilah sejak itu warga mulai datang kemari kalau Sofia ataupun bu bidan tidak ada di pustu.Sejujurnya saya sangat bangga saat Sofia bisa membantu mereka.Setidaknya ilmu yang dia dapat bisa bermanfaat untuk orang lain." jelas Arif panjang lebar.Fernando manggut-manggut.Dia masih mengamati sang istri yang berkutat membersihkan peralatan medisnya lalu menyimpannya kembali.Wajah yang sabar,telaten dan tulus.


"Mungkin besok kami harus kembali ke Jakarta yah,dan saya pastikan besok dokter pengganti Sofia sudah datang dan menggantikannya menolong warga." tegas Fernando.


"Ayah kira kalian akan agak lama berada disini.Tadinya ayah dan ibu berencana menggelar syukuran pernikahan kalian.Tapi sudahlah,kita bisa melakukannya lain waktu.Ayah sangat paham kesibukan kalian."


"Maafkan kami yah,lain waktu kami akan agak lama disini.Siapa tau saat kunjungan kami berikutnya,kami sudah membawa serta cucu pertama ayah." Mata Arif membola.Sesunguhnya dia juga menginginkan seorang cucu sama seperti teman-temannya yang bahkan suda punya dua tiga cucu.Tapi dia dan Karmila selalu berusaha menjaga perasaan putrinya dengan tidak pernah membahas seputar pernikahan maupun cucu dihadapannya.


"Maaf tuan muda,jika sudah tidak ada lagi yang bisa saya kerjakan..saya mohon diri." Herman menundukkan kepalanya hormat saat Nando memberinya ijin dan berpesan agar menjemputnya sebelum jam 8 pagi.


"Sudah adzan isya nak,mau sholat di mushola dengan ayah atau dirumah saja?" tawar Arif.Nando yang tidak biasa berjamaah sedikit menimbang,namun saat Sofia berjalan tergesa ke kamar dia jadi memahami sesuatu.


"Apa Sofia juga jamaah yah?"


"Biasanya kalau mahgrib dan isya iya nak."


"Ya sudah,saya ikut ke musholla dengan kalian." putus Nando.Sesaat kemudian Sofia sudah menucul kembali dengan mukena yang tepasang rapi di kepalanya.Arif berdiri dan berjalan lebih dulu diikuti Nando dan Sofia dibelakangnya.


"Aku tidak perlu ijinmu untuk melakukam sesuatu dokter." desisnya membalas.


Jarak antara rumah dan musholla hanya beberapa meter hingga membuat ketiganya sampai tak lama kemudian.Postur tubuh Fernando yang tinggi kekar dengan wajah tampan kebule-bulean dan manik mata biru oceannya menarik perhatian banyak orang terutama kaum hawa.Melihat gelagat itu,Nando serta merta menggenggam erat tangan Sofia seakan menyatakan kalau dia sudah beristri dan baru melepaskannya saat sampai diserambi musholla.


Hanya Sofia yang merenggut tidak suka.Dalam hati dia meruntuki tindakan Fernando yang membuat wajah mulusnya merah padam.Di depan banyak orang bahkan suami satu harinya itu memutuskan urat malunya sendiri.Ingin dia berteriak dan membuat telingan pria gila itu mendengarnya,jika ini kampung.Penuh tata krama dan gunjingan publik.Bukan dikota yang bebas dan acuh tak acuh.Tapi semua hanya tertahan ditenggorokannya saja.


"Waahh...bu dokter,suaminya romantis banget.Pantes sampe ditungguin bertahun-tahun nggak nikah-nikah.Calonnya ganteng gitu sih." celutuk bu RT yang terkenal sedikit ember sambil curi-curi pandang ke arah Nando yang cuek bebek.Sofia hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas pujian dan ucapan selamat beberapa warga.


Fernando masih menatap sekelilingnya saat Arif datang dan menepuk lengannya.Mertuanya itu tersenyum hangat padanya.


"Nyari Sofia ya?dia pasti sudah pulang duluan.Ayo pulang." ajak sang mertua.Mereka berjalan beriringan sambil sesekali membalas sapaan beberapa orang yang berpapasan dengan mereka.


"Pergilah ke kamar nak.Istrihat,besok kalian berangkat pagikan?" Nando mengiyakan.Dia juga menolak tawaran makan malam ibu mertuanya karena memang perutnya masih terlampau kenyang.


Nando membuka pintu,melihat istrinya berbaring di ranjang kelelahan.Dia tau,perjalanan bolak balik Jakarta-Surabaya sangat menguras tenaga wanita itu.Tapi mau bagaimana lagi,semuanya akan terjadi karena Fernando sudah berjanji pada Arif untuk datang.Sesaat tatapan nanar Nando mengitari kamar yang bahkan ukurannya tak lebih luas dari kamar mandi dikediamannya.Sangat sempit hingga hanya ada ranjang lumayan besar,meja rias kecil dan almari mungil disana.Untung saja Sofia tipe wanita yang cerdas dan cekatan.Dia membuat ruang sempit itu terasa luas dengan beberapa sentuhan.


"Berani sekali kau meningalkan aku dokter." Sofia menoleh.


"Tidak ada peraturan aku harus menunggumu tuan muda."


"Baiklah.Ini tempatmu,mau tidak mau aku kalah darimu.Sekarang katakan dimana aku harus tidur.Jangan katakan kau akan menyuruhku tidur disofa karena dikamar ini tidak ada sofa." ketus Nando.Sesungguhnya tubuhnya memamg terasa sangat lelah dan butuh istiahat.


"Seperti saat kau berbaik hati berbagi ranjang denganku di kamarmu,maka aku juga berbaik hati berbagi ranjang denganmu tuan Fernando.Anggap saja ucapan terimakasih karena sudah membuat ayah ibuku bahagia." ungkap Sofia lalu bergerak ke tepi ranjang.