
Rosa mengantarkan Sofia hingga ke depan rumah. Dia juga menyempatkan diri untuk mampir kesana, mumpung suaminya sedang dinas ke luar kota. Jadilah mereka punya waktu untuk bernostalgia, curhat, bicara ngalor ngidul seperti jaman kuliah dulu. Tawa kecil menyeruak diantara obrolan mereka. Terkenang masa-masa kuliah dulu.
"Ros, bagaimana kau tau banyak tentang pak Shandy, dosen kita tadi?
" Jangan bilang kau tertarik padanya Sof. Ingat ya..suamimu itu sudah pria yang mendekati sempurna. Jadi orang harus banyak bersyukur bu. Jangan begitu melihat sesuatu yang lebih kinclong diluaran kita jadi menduakan yang dirumah." Lagi..hobi lama Rosa menceramahinya keluar. Sofia sampai gemas dan mencubit kedua pipinya bersamaan. Candaan khas mereka waktu kuliah.
"Aku hanya bertanya nyonya. Penasaran saja. Aku bertemu pak Yusuf ehm..
maksudku pak Shandy beberapa hari lalu dirumah dinasku yang dulu." jelasnya pendek.
"Maksudmu?" Sofia kembali menceritakan pertemuannya dengan Yusuf termasuk kecelakaan yang membuatnya banyak merasa penasaran pada sosok pria itu. Tak dinyana mereka bisa kembali bertemu dikampus. Rosa hanya manggut-manggut entah apa yang dipikirkan sahabatnya itu sekarang.
"Bagaimana jika kubilang rumah pak Shandy ada di depan rumahmu." Rosa berujar kalem tapi membuat Sofia berjingkat dari duduknya.
"Apa??nggak...nggak mungkin itu Ros." Katanya membantah. Padahal dia hanya menenangkan dirinya sendiri.
"Ya mungkin saja sih Sof. Secara dia itu satu kesatuan dengan suamiku." kesatuan? Sofia berpikir cepat.
"heh??? suamimu bukannya polisi ya?" ya, walau belum pernah bertemu suami Rosa secara langsung, namun Sofia ingat jika suami sahabatnya adalah perwira polisi karena Rosa sering menceritakan perjalanan cintanya dengan sang suami dahulu.
"ya. Pak Shandy juga polisi. Dia itu dokternya para polisi. Dia juga dikirim belajar ke luar negeri oleh kesatuan karena tingkat kecerdasannya. Dan jjadilah dia seperti sekarang." terang Rosa masih dengan gaya kalem andalannya.
"Dia itu polisi, dokter, dosen...kok semua profesi dia lakoni. Nggak boleh begitu dong Ros." bantah Sofia gemas. Memangnya orang seperti apa Shandy yusuf Hanggara itu hingga bisa menjalankan macam-macam profesi seperti itu? bisa kalah pesona Fernando satria hutama nantinya. Dalam hati Sofia tertawa geli. Fernando harus tau kalau ada orang yang melebihi dirinya hingga bisa sadar dan menghilangkan sikap angkuhnya.
"Hei...kau senyum-senyum sendiri Sof. Jangan-jangan kau benar-benar menaruh hati dengan pak Shandy." tebak Rosa dengan wajah garang. Maklum, wanita di depannya ini termasuk aliran anti perselingkuhan hingga benci pada hal begituan.
"Aku ingat suamiku. Mas Nando harus bertemu pak Shandy agar bisa down o earth."
"Hilihh...ya wajar dong kalau dia begitu. Dia itu orang kaya nyonya..konglomerat. Mana mau dia disamakan dengan pak Shandy yang mau bagaimanapun strata sosialnya masih jauh dibawahnya."
"Kita ini bukan berada pada masyarakat jaman dulu lho ya...bukannya semua manusia itu sama ya? hanya amalan dan ketakwaannya saja yang berbeda dimata Tuhan."
"Ini malah ganti kamunya yang ceramah Sof. Yang cucu kyai itu aku lho. Dirumah aku juga dipanggil ning tapi kenapa sekarang malah kamu yang jadi ning Sofia?" Rosa tertawa terpingkal. Dia memang cucu kyai besar pemilik pesantren terkenal dari daerah asalnya. Hanya saja, ibunya mengikuti ayahnya bertugas ke Jakarta hingga jarang pulang ke tempat asalnya. Sering juga dia bercerita tentang lingkungan pesantren yang membuatnya punya banyak kenangan mulai yang manis, asem atau asin sekalipun. Tak jarang Sofia tertawa terpingkal kala itu.
"Ya memang begitukan kenyataanya Ros?"
"ya...ya...tersesarah kau saja. Trus mau sampai kapan kamu sembunyi disini Sof? dosa lho kamunya. Bagaimanapun Fernando itu suamimu.”
" Aku pasti segera kembali." kata Sofia tanpa ragu.
"Percaya diri sekali." Balas Rosa sambil berdecak sebal.
"Fernando pasti akan menemukan aku secapatnya. Sekarangpun mungkin dia sudah tau aku ada dimana. Orang-orangnya pasti sedang mengawasiku."
"Hey nyonya...memangnya siapa kau baginya? belum tentu dia peduli padamu. Apalagi ada siapa tadi...Clara. Wanita itu sudah menjadi nyonya dirumahmu. Ingat Sofia, jangan terlalu lama bersembunyi kecuali kau sudah siap kehilangan Fernando." Rosa terlalu berapi-api hingga berkata panjang tanpa mengambil nafas. Dia sangat gemas dengan tingkah sahabatnya yang menurutnya sangat kekanakan itu. Jadilah ajang temu kangen itu jadi acara ceramah sore.
"Hmmm..lain kali berkunjunglah kemari."
"Ha...ha....kita satu kampus nyonya. Tiap hari juga akan sering ketemu. Lagian siapa yang bakalan antar jemput kamu kalau bukan aku?”
" Hey...aku bisa sendiri."
"Kau mau naik apa? motor? sebaiknya kau simpan uang untuk beli motormu. Walau kau ikut program pemerintah, kau akan tetap membutuhkan uang untuk hal lain." Rosa benar. Sekarang dia harus lebih berhemat karena hanya mengandalkan gajinya untuk bertahan hidup dan kuliah lagi. Ahh...nanti dia akan berpikir untuk mendapatkan pekerjaan sambilan lain dirumah sakit swasta.
"Aku juga tidak mungkin terus bergantung padamu Ros. Nanti merepotkanmu." Sungguh Sofia merasa tidak enak hati pada sahabatnya itu. Bagaimanapun mereka sudah sama-sama berkeluarga sekarang.
"Memangnya kau merepotkan apa sih Sof? rumah kita searah. Barengan sama kamu atau tidak sama saja bagiku. Tetap lewatl jalan ini. Sudah, pokonya kuliahnya kita barengan. Kalau yang lain kita sesuaikan nanti ok?"
"Hmmmm ya...baiklah." percuma menolak. Rosa ya tetap Rosa yang akan selalu ngeyel berat kalau punya niat. Dari dulu Sofia memang hanya wajib mengalah.
"Nah gitu dooongg...pulang dulu ya. Asalamualaikum…"
" Walaikumsalam. Hati-hati dijalan.”
"yes Mam!" Rosa berjalan mendahului Sofia menuju mobilnya yang diparkir diuar pagar. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil fortuner hitam berjalan lambat kearah mereka lalu berhenti tepat diseberang mereka. Seorang wanita paruh baya bergegas membuka pagar begitu mendengar klakson mobil berbunyi. Tak lama, seorang pria bertubuh tegap turun sembari menenteng tas kerjanya. Sekilas tattapan mata mereka bertiga bertemu. Rosa segera melambaikan tangan dan menyapa ramah dan dibalas anggukan sopan sang pria. Hanya Sofia yang tiba-tiba membeku ditempatnya.
"Kau melamun lagi." Rosa menepuk bahu sahabatnya itu seraya tersenyum kecil.
"Itu....."
"Bukannya aku sudah bilang jika rumah pak Shandy didepan rumah ini?"
"Tapi...tapi kemarin dia...dia benar-benar engemudi taksi online yang kunaiki Ros. Mobilnya...avanza hitam. Dia tidak pakai mobil itu." Rosa tertawa ngakak.
"Sofia...dari aku kenal pak Shandy itu mobilnya ya itu. Lagian garansi mobilnya juga cuma muat untul satu mobil saja. Kalau dia beli mobil lain untuk taksi online, mau di parkir dimana mobilnya?"
"Tapi kemarin aku melihatnya."
"Kau terlalu terobsesi pada pak shandy." Sofia mengatupkan bibirnya rapat. Otaknya bekerja ekstra.
*
*
*
Readers, saya membaca setiap komentar anda agar saya bisa up secepatnya. Pengennya up tiap hari, tapi mohon maaf author lagi kurang fit🤧🤕🤒. Besok Insyaallah up seperti biasa. Mohon doanya dan tunggu up selanjutnya yaa....😘😘😘