
"Sofia tunggu!!" Nando menghadang langkah Sofia yang hendak kembali ke kamarnya hingga wanita muda itu terkejut karenanya.
"Ada apa?"
"Ikut aku." katanya singkat penuh penekanan.
"Kemana?"
"Suatu tempat." kata Nando lembut sambil memegang bahunya. Matanya begitu teduh memindai wajah sang istri yang tiba-tiba merona karena ditatap sedemikian rupa olehnya. Sungguh dia berubah gemas karenanya. Istrinya itu bukan lagi ABG, tapi masih bersikap malu-malu seperti remaja yang sedang jatuh cinta.
"Maaf, aku lelah. Lain kali saja." Tolaknya halus, menepis tangan Nando lalu kembali berjalan ke kamarnya. Tapi lagi-lagi Nando mengejar dan meraih lengannya.
"Sayang kita harus pulang. Tidak enak dirumah mom dan dad terus." bujuknya dengan wajah memelas membuat Sofia berpikir dua kali untuk menolaknya. Ini yang dia lupakan, dia tak pernah bertanya rumah siapa yang dia tempati sekarang karena terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Jika benar ini rumah mama Sisca, artinya Nando benar, mereka memang tidak boleh terlalu lama disana walau mama Sisca tak pernah keberatan dan terlihat bahagia dengan kehadiran mereka.
"Baiklah. Antar aku pulang.'' putusnya kemudian. Tentu saja Fernando tersenyum senang. Lain halnya dengan mama Sisca yang terlihat kecewa pada keputusan putranya yang tiba-tiba.
"Apa tidak sebaiknya besok saja kalian pulang?" Pinta sang mama hati-hati. Sang mertua tau jika keduanya sedang tidak baik-baik saja maka itu dia berniat menahan pasangan itu tetap disana hingga hubungan keduanya membaik.
"Sekarang atau besok sama saja mom." dan Sisca hanya dapat mengangkat bahunya tinggi-tinggi. Mencegah Nando adalah pekerjaan sia-sia.
"Mas Nando hanya mengantar saya sampai ke stasiun atau terminal saja mom." dan kedua ibu anak itu saling berpandangan heran.
"Apa? terminal? stasiun? apa maksudmu sayang?" Nandolah yang pertama ingin tau kemauan istrinya.
"Ya, aku ingin kembali ke tempat asalku."
"No!! kau mengandung anakku." teriak Nando marah. Bagaimana bisa Sofia membawa calon anaknya pergi kembali ke desanya yang sangat jauh dari pusat keramaian? membayangkan tumbuh kembang calon anaknya saja dia tidak sanggup.
"Lalu apa maumu mas?"
"Kau."
"Aku atau anak ini?" sinis Sofia.
"Kalian berdua."
"Aku tidak yakin." jawab Sofia pedas. Untuk kali ini Sisca memilih diam dan membiarkan anak-anaknya menyelesaikan masalah mereka sendiri.
"Kau harus yakin karena aku papanya. Aku yang akan menghidupinya. Atau kau tidak ingin hidup sengsara bersamaku saat kau tau aku sudah bangkrut dan tidak punya apa-apa?" wajah merah Fernando sudah bisa menggambarkan betapa murkanya sang tuan muda.
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Pulanglah bersamaku."
"Sampai kapan kita akan bertahan dalam hubungan aneh ini?"
"Sampai izrail menjemput kita." jawabnya tegas dengan mata tajam membuat Sofia terdiam.
"Mom, kami harus segera pulang." pamit Nando sambil menggandeng tangan Sofia.
"Besok mama mau kembali ke London." katanya lirih, masih mencoba mencari cara agar mereka tinggal.
"itu bagus. Jemput dady agar dia segera pulang dan menimang jagoanku." tukas Nando bangga tanpa rasa berdosa.
"Kau terlalu percaya diri jika dia laki-laki." cibir sang mama.
"Laki-laki atau perempuan sama saja bagiku mom. Dia tetap jagoanku." balas Nando seraya mengelus perut Sofia yang masih rata. Hati Sofia mengahangat karena perlakuan Nando. Tapi saat itu juga dia menepisnya, takut itu hanya rekayasa Nando saja. Sungguh dia sangat takut beharap dan berakhir terluka.
"Terserah kalian saja." putus Sisca kemudian. Mana bisa Nando diatur? kadar keras kepalanya begitu tinggi. Entah berapa kali pula dia mengatakan pada sang anak untuk tidak usah membeli atau membangun rumah baru karena rumah yang mereka tempati juga kosong, tapi Nando tetaplah Nando. Susah diatur. Ada saja alasannya untuk berkelit. Jangankan sekarang saat melihat pernikahannya direstui, saat menikah dengan Emma dulu dia juga paling keras mengingikan pindah rumah. Alasannya bukan karena tidak nyaman, tapi karena dia benar-benar ingin mandiri.
"Sayang...ada sopirkan? kenapa harus kita?" protes Nando dengan wajah cemberut. Sisca kembali menjewer telinganya.
"Heh anak nakal, jangan hasut menantuku untuk jadi nakal sepertimu!" ketusnya mendapat ringisan Nando.
"Kenapa kau suka sekali menjewerku mom?"
"Karena kau nakal dan bandel!" gertak mama Sisca bertambah geram.
"Aku sudah dewasa mom! sebentar lagi jadi seorang papa."
"diam!!" sentak sang mama lagi sambil melepaskan jewerannya. Nando mengelus telinganya yang merah dan terasa panas. Mamanya memang tak pernah main-main saat marah padanya.
"Sofia, kau harus janji untuk sering telepon momy ya. kabarkan keadaan cucu momy sesering mungkin."
"Siap mom." dan setelah mengucapkan berbagai nasehat, petuah dan pesan hingga satu jam lamanya, Sofia dan Nando diijinkan pulang. Mamanya bukan hanya menyita kendaraan milik adiknya, tapi juga semua fasilitas yang dipinjam dari Alex dan Bella hingga mau tidak mau mereka pulang mengendarai mobil sang mama dengan janji mengantar ke bandara esok pagi.
"Maafkan momy, dia memang sangat cerewet. Tapi sebenarnya dia sangat menyayangi anak dan cucunya." ujar Nando. Pria tampan itu menjalankan kendaraannya pelan melewati deretan pepohonan dan jalanan yang mulai ramai lagi disore hari.
"hmmmmm."
"Sayang apa kau mau sesuatu? kita bisa mampir sebentar untuk membelinya."
"Tidak, aku hanya ingin istirahat." jawab Sofia malas. Berulang kali Nando bertanya, tapi jawaban yang dia dapatkan hanya gumaman, atau gelengan kepala.
"Rumah kita arah kesana." Tapi kali ini dia sama sekali tidak menggubris kata-kata Sofia. Dia tetap berjalan lurus meski tau jika persimpangan arah ke kanan menuju rumah Sofia sudah terlewatkan.
"Mas!" sentak Sofia kesal sambil meremas lengan Nando yang masih mengemudikan kendaraan karena merasa tidak dihiraukan. Sesaat Nando menoleh, tanpa aba-aba dia meraih kepala Sofia dan mengecup keningnya membuat mata Sofia membulat sempurna.
"Aku tau." bisiknnya lalu kembali fokus ke jalanan.
"Lalu?"
"Ikut saja. Ada yang ingin kutunjukkan." dan Sofia hanya diam tak lagi banyak bertanya. Tangannya malah fokus pada tangan Nando yang membelai perutnya lembut.
Beberapa menit kemudian mereka memasuki kawasan perumahan mewah yang berderet-deret dalam jumlah banyak. Nando membelokkan mobilnya pada rumah dengan desain berbeda dan bangunan lebih besar. Seorang satpam membuka pintu gerbang saat Nando memberinya isyarat.
"Rumah siapa mas?"
"Kita."
"Jangan bercanda."
"Aku serius, ayo turun." mereka menuju pintu utama. Dahi Sofia berkerut karena melihat wajah-wajah yang sama saat dikediaman Nando dulu. Dia bahkan masih hafal nama-nama tiap pengawal itu juga membalas sapaan mereka ramah.
"Selamat datang nyonya muda." sapa sederet pelayan rumah membuat Sofia lagi-lagi terkesima. Mereka semua pekerja dirumah mereka dulu.
"Ka...kalian..."
"Iya nyonya. Senang berjumpa dengan anda lagi." kata semuanya serentak. Bahkan Mia dan Maria mendekat dan meraih tangannya. Sofia jadi terharu kerenanya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Asalamualaikum.....
Slow up ya readers, authornya lagi sibuk jadi laskar barisan emak-emak penyemarak agustusan😂😂 maklum efek lagi kangen2nya ikut lomba setelah dua tahun fokus terkena virus corona. tapi tetap diusahakan update kok. Ditunggu dengan sabar ya ...
Indonesia... Pulih lebih cepat, Bangkit lebih kuat!!
Love U all🤩🤩