Dear Husband

Dear Husband
Konsep



Suasana mencekam masih terjadi di ruangan besar yang berada di kediaman utama keluarga Hutama. Fransisca memanggil seluruh keluarga Hutama untuk pulang kecuali Keluarga Karin yang ada di Perancis tentunya. Sekarang, nyonya besar Hutama itu sudah duduk anggun di kursinya. Di depannya duduk Fernando dan Sofia. Ada Bella dan Alex di sofa kirinya.


"Sofia sudah menyerahkan semua keputusan soal Elle padamu. Katakan keputusamu sekarang." Fernando menatap dingin ibunya. Wajah yang hampir mirip itu saling pandang.


"Biarkan Elle tetap bersamaku mom. Aku akan mendidiknya dengan baik." putus Nando.


"Kau melakukannya demi sebuah janji pada wanita yang sudah menghianatimu? Jangan picik Nando." hardik Fransisca lagi. Sofia menoleh menatap suaminya.


"Janji? Janji apa mas?" Suara lembut Sofia bergema, namun mau tak mau membuat Nando bingung menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya.


"Tentu saja janji suamimu itu pada Emma. Dia berjanji akan membesarkan Elle dan menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Menjijikkan." Fransisca kembali bersikap menyebalkan dengan tatapan sinisnya.


"Janji tetaplah janji mom. Aku menyayangi Elle seperti aku amat menyayangi ibunya. Emma punya tempat khusus dihatiku mom. Dan tak ada satu orangpun yang bisa menggantikannya." tegas Nando dengan wajah garang. Dia mungkin menyuarakan isi hatinya tanpa sadar ada seseorang yang harus dia jaga hatinya. Tubuh Sofia menegang mendengar perkataan suaminya. Kepalanya yang tadinya terangkat lurus menjadi tunduk, menatap jemarinya yang saling bertaut. Kenapa tiba-tiba ada rasa sakit yang menggores sudut hatinya?


"Baiklah jika itu pilihanmu. Mulai detik ini jangan pernah menginjakkan kakimu dirumah ini. Bawa anak itu, rawat dia sesukamu tapi anggaplah momymu ini sudah mati." Semua yang ada disana dibuat terperangah pada ucapan Fransisca. Nando bahkan sampai berdiri dari tempatnya, menghampiri sang mama.


"Apa yang kau katakan mom? kenapa semuanya jadi serumit ini?" desah Fernando frustasi. Fransisca hanya diam, tak berniat menanggapi perkataan anaknya.


"Mencintai itu hak asasi. Kenapa momy tak juga mau mengerti? Emma tidak sepenuhnya salah mom. Dia hidup tertekan dalam keluarga ini. Dan aku..akulah penyebabnya. Rasa cintakulah yang membunuhnya. Elle...dia tidak tau apa-apa."


"Sampai kapan kau akan tetap membela perempuan itu? dan juga anak haram itu?" sarkas Fransisca kasar. Emosi sudah menguasai jiwanya.


"Sampai momy tau jika mereka sangat berharga dalam hidupku." Seketika Sofia berdiri dari tempat duduknya. Tangannya mengepal erat. Egonya tertampar. Apa sebenarnya yang dilakukan Fernando? sandiwara apa yang dia mainkan hingga terus menyebut Emma dan Elle sebagai sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya? lalu apa arti hadirnya dirinya dan anak-anak mereka?


"Ma, bolehkah saya pamit pulang sekarang?" tanya Sofia. Fransisca mengerling sekilas padanya.


"Sofia, kita akan pulang bersama nanti." potong Nando cepat. Pria itu masih menatap penuh amarah pada ibunya.


''Ma, boleh saya pinjam apartemen didekat rumah sakit untuk beberapa waktu?" kali ini Sofia tidak mengindahkan perkataan suaminya. Dia lebih memilih bicara pada ibu mertuanya yang langsung menatapnya teduh.


"Untuk apa Sofia? Kubilang kita akan pulang bersama nanti." tegas Nando lagi.


"Kau boleh memakainya sesukamu Sofia." ujar Fransisca tak kalah tegasnya. Sofia mengangguk sopan.


"Kita tidak akan pulang bersama mas. Mulai malam ini aku akan tinggal di apartemen mama."


"Kubilang tidak ya tidak!!"


"Mungkin mama benar mas..kau butuh banyak waktu untuk merawat Elle tanpa melibatkan kami."


"Dia lebih butuh kau sebagai dadynya. Jika dia butuh dokter, kau bisa membayar jasa dokter untuknya. Sementara ini aku hanya ingin fokus pada anak-anak." Tentu saja Nando murka karenanya. Dia serasa diremehkan. Tak biasanya Sofia yang penurut menjadi berani menentangnya.


"Apa itu berarti kau juga ingin mengabaikan aku, memutuskan hubungan denganku seperti momy?" desisnya geram.


"Bukan mengabaikan atau memutuskan hubungan. Kita hanya akan sama-sama merenung mas."


"Merenung? Untuk apa?"


"Untuk tau siapa yang lebih berharga dalam hidup kita. Kau tidak bisa duduk diantara dua kursi mas. Jikalaupun bisa maka kau sendiri yang akan sakit karenanya. Kuharap kau bisa memilih satu kursi yang tepat." Kali ini raut dingin dan wajah datar Sofia mendominasi suasana. Tak ada yang bersuara. Semua hanya menatap interaksi pasangan di depannya.


"Kau ingin memisahkan aku dari anak-anakku?"


"Tidak. Kau masih bisa menengok El kapanpun karena kau dadynya."


"Lalu kau? bagaimana bisa kau berpikir jika aku bisa jauh darimu Sofia?" lirih Nando nyaris bagai sebuah bisikan. Jaraknya dan Sofia yang terlalu dekat membuat suara itu terdengar sempurna. Sofia melepaskan tangan lelakinya yang memegang pundaknya kuat.


"Bisa. Kau pria yang kuat mas. Ada Elle yang akan berada disisimu bersama bayangan mamanya. Aku hanya butuh menenangkan diri saja."


"Kalau hanya ingin menenangkan diri, rumah kita kelewat luas untuk itu. Aku bahkan akan mengubahnya sesuai keinginamu. Tak perlu pergi dari rumah Sofia." bujukan yang terdengar sebagai perintah. Tapi Sofia tak bergeming.


"Anggap saja aku sedang liburan bersama anak-anak mas."


"Sofia aku...."


"Tidak usah memaksa menantu mom. Dia tinggal di apartemen atau momy akan membawanya ke London sebagai pengganti anak itu." Nando kembali tercekat. Jika mamanya sudah ikut campur, maka bisa dipastikan perang akan terjadi. Fransisca sama seperti dirinya, tak suka dibantah juga tak mau mengalah.


"Kau ingin anak itu tetap tinggal bukan? maka rawat dia hingga sembuh dirumahmu. Kau masih bisa memfasilitasinya tanpa batas sesuai keinginanmu. Toh keluarga ini tak mencabut hakmu atas kepemilikan aset maupun saham. Kau tetap jadi CEO walau sudah membuat kami kecewa. Sekarang biarkan Sofia pergi ke apartemen, mom tak ingin Sofia kelelahan."


"Ohhh ya...soal cucu-cucu momy...kau tak perlu memikirkannya. Dady kalian akan mengurusnya." lanjut Fransisca dengan gaya elegannya.


"Itu tidak perlu mom. Aku dadynya! aku akan mengurus anak istriku sendiri." protes Nando kembali dilingkupi emosi.


"Ma, saya pamit." sela Sofia yang lelah melihat perdebatan ibu dan anak itu. Hari juga makin malam, tak baik untuk El. Sofia menyalami Fransisca dan suaminya beruntun. Wanita cantik itu juga sempat menghindar dengan gaya halus saat Nandon hendak mencium keningnya. Dia juga melepas cekalan sang suami yang terasa kuat dipergelangan tangannya.


"Boleh Maria ikut bersamaku mas?" tanyanya datar. Tentu saja Fernando langsung mengijinkan. Dia amat khawatir pada sang putra juga kandungan istrinya yang masih berada dalam fase rentan pada trisemester pertama. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Semua sudah berada diluar kendalinya. Padahal tak begitu konsep awalnya. Semua melenceng dari konsepnya.