
Fernando mengeram kesal saat menjejakkan kakinya di rumah megahnya. Tak ada siapapun yang menyambutnya selain kesunyian. Pelayan dan para pemgawal yang berjajar rapi menyambutnya seperti biasapun dia tampak mengabaikannya. Mereka cenderung menyambut untuk formalitas saja. Senyum Sofia atau tawa lucu Rafa seperti hilang tak berbekas. Pun para pembantu yang menyambutnya di depan pintu juga hanya menunduk hormat padanya tanpa mau berinteraksi dengannya. Sangat jauh berbeda saat ada Sofia. Istrinya itu begitu ramah hingga bisa mencairkan suasana formal keluarga itu. Mereka seperti saudara saat berkumpul bersama. Pasti ada saja celetukan mereka yang memancing rasa riang di rumah itu. Sekarang....semuanya kembali seperti dulu. Dingin dan kaku.
"Dimana Sarla?" tanya Nando. Bi Mimi segera menunjuk ke belakang tubuh majikannya. Disana Sarla yang baru saja mengantar koper sang nyonya bersama sopir keluarga baru kembali ke rumah itu. Langkahnya bahkan terhenti diambang pintu saat melihat Nando hadir lebih dulu.
"Kau dari mana?" Fernando menanyai kepala ART itu dengan wajah datar.
"Mengantar baju yang diminta nyonya muda dan tuan kecil, tuan muda." jawab Sarla ragu. Dia sama sekali tak tau masalah majikannya. Yang dia tau Sofia pergi bersama Rafa dan Maria dalam waktu lumayan lama karena baju yang dia pack lumayan banyaknya. Dari Marialah mereka tau jika Elle adalah biang masalahnya.
"Hmmmm..." hanya gumaman itu yang keluar dari mulut Fernando yang terlihat tak mau bertanya lebih jauh. Pria itu masuk ke kamarnya dilantai atas untuk mandi dan ganti baju. Setelahnya dia akan menuju rumah sakit untuk menjaga Elle. Tak mungkin dia membiarkan anak itu sendirian.
"Jaga rumah baik-baik." pesannya pada bodyguard yang selalu siaga di depan pintu rumahnya sebelum masuk ke mobilnya dan meluncur menuju rumah sakit.
Ramainya orang yang berlalu-lalang dirumah sakit megah milik keluarganya itu sama sekali tak menganggu dirinya yang sudah seperti raga tak bernyawa. Langkah panjangnya menuju kamar perawatan bagi Elle bagai dikejar sesuatu yang menakutkan. Cepat dan tergesa.
"Bagaimana keadaan Elle?" tanya sang tuan muda pada suster jaga yang sudah dia bayar khusus untuk mengawasi putrinya itu.
"Satu jam lalu dia sudah sadar dan mencari anda tuan muda."
"Lalu??"
"Nona kecil merengek agar dipanggilkan anda. Dia juga sempat akan lari dari sini karena ingin mencari anda. Lihatlah." dan suster itu menunjuk bekas cipratan darah dibaju dan Sprei Elle karena anak itu nekat melepas paksa selang infusnya. Nando tak menyahut. Tangannya bergerak mengelus lembut kepala Elle. Sejenak matanya terpatri pada sosok gadis kecil itu. Wajah itu....wajah yang sama persis dengan Emma marseden, ibunya. Apa ini yang dikhawatirkan momy dan keluarganya?
"Kau boleh pergi. Datanglah besok pagi karena malam ini aku yang akan menunggui putriku." perintah Nando yang langsung dituruti suster jaga itu.
Tangan kekar Nando terus membelai kepala Elle hingga pria itu tertidur di kursi samping brankar Elle. Rasa lelah dan banyak pikiran membuatnya terlelap begitu cepat.
Pagi menjelang saat pergantian shift terjadi. Sofia yang kebetulan mendapat giliran pagi sebagai asisten dokter jantung segera menyiapkan dirinya. Memeriksa beberapa pasien jantung adalah rutinitas paginya. Seorang perawat mengikutinya dari belakang menyusuri koridor demi koridor. Sesaat langkah sang dokter terhenti di depan ruang VVIP milik Elle.
"Maaf dokter...ini bukan pasien anda." ingat perawat tadi, tak ingin Sofia salah kamar.
"Iya saya tau sus." jawabnya singkat. Saat akan melangkah pergi, ekor matanya menangkap pintu ruangan yang tak tertutup rapat. Berlahan Sofia membukanya.
"Astaghfirullahaladzim....." ucap Sofia terdengar jelas hingga suster yang mengikutinya juga membelalakkan matanya. Bagaimana tidak...Elle mencium bibir Fernando yang masih terlelap di kursinya. Suaminya itu baru membuka mata saat Sofia berucap tadi. Sedang Elle? dengan cerdik gadis cilik itu pura-pura tidur terlentang di brankarnya seperti pasien kebanyakan.
"Mama...." sapanya tanpa rasa berdosa. Tiba-tiba Sofia merasa jijik pada gadis itu. Yang dia lihat bukan ciuman antara ayah dan anaknya. Tapi pada adegan dewasa pada umumnya. Apa yang dia dengar dari Bella tempo hari adalah suatu kebenaran? jika Iya...maka darimana gadis belia itu tau tentang ciuman, rasa tertarik atau hal yang menjurus pada adegan tak pantas seperti tadi? padahal baik Bella ataupun Alex sudah menjaganya dengan baik.
"Sofia...kau datang?" sapa Nando yang baru mengumpulkan nyawanya. Suara seraknya benar-benar menandakan jika pria itu baru bangun tidur walau dalam posisi yang tak nyaman.
"Ya." jawab Sofia singkat. Berlahan dia mendekati Elle dengan tatapan dingin.
"Apa kau sudah baikan?"
"Hmmm...begitu ya? sakit sekali hingga bisa mencium papamu dengan amat bersemangat seperti tadi?" tanya sofia dengan nada rendah nyaris berbisik.
"Sofia...apa yang kau katakan? Elle baru saja sadar. Bisakah kau membuang jauh-jauh rasa cemburu tak beralasan dalam dirimu?" sengit Nando galak. Sofia menarik sudut bibirnya sinis.
"Jadi kau melarang aku untuk cemburu hubby? hmmm...baiklah, tak masalah." balas Sofia santai tapi dengan tatapan membunuh pada Elle yang juga tersenyum tipis mendengar papanya menghardik Sofia. Seperti ada kepuasan tersendiri bagi gadis itu.
"Kau terlalu percaya pada perkataan orang lain Sofia. Bukannya wajar jika Elle mencium papanya? hal kecil seperti itu kenapa kau permasalahkan." sungut Nando kesal. Tubuhnya terlalu capek untuk menghadapi sikap istrinya.
"Terserah kau saja mas." katanya sambil berlalu.
"Tapi gadis itu benar-benar mencium anda pak." pekik sang perawat merasa kesal juga melihat Sofia disalahkan. Sebagai sesama wanita dia sakit hati juga. Apalagi melihat akting Elle yang sempurna.
"Ayo suster." panggil Sofia keras agar suster itu segera memgikutinya. Tapi tangan Fernando sudah lebih dulu menahannya.
"Jangan berkata sembarangan atau kau akan dipecat." ancam Nando dengan mata berkilat. Dia memindai wajah sang perawat yang sangat asing menurutnya. Pasti dia perawat baru yang tidak tau siapa dirinya. Tapi tampaknya sang suster sudah amat kesal karena ulah Fernando.
"Saya ada buktinya pak." katanya seraya menunjukkan hasil jepretan kamera ponselnya beberapa saat lalu. Sekarang Nando yang gantian melotot tak percaya.
"Ohh ya Tuhan...apa yang kau lakukan nak?" tanyanya dengan nada getir. Ingin rasanya Fernando memaki Elle untuk meluapkan kekesalan hatinya. Tapi pria itu lebih fokus mengejar istrinya.
"Sofia...Sofia..!!" panggilnya keras hingga semua orang menatapnya.
"Dokter Sofia sudah masuk kamar operasi tuan muda." jawab seorang perawat yang kebetulan berpapasan dengannya. Pria itu segera berlari ke kamar operasi. Dalam hati merasa kesal juga karena istrinya itu berjalan lebih cepat dari cara jalan wanita biasa.
"Ijinkan aku masuk." kata Nando pada dokter yang akan melakukan operasi.
"Apa ada yang anda butuhkan tuan muda?" tanya sang dokter bingung. Untuk apa pemilik rumah sakit itu ingin masuk kamar operasi?
"Aku ingin menemui istriku."
"Dokter Sofia tidak berada disini tuan muda."
"Jangan bohong!! tadi dia kesini." geram Nando hampir lepas kontrol.
"Beliau kesini hanya untuk menyerahkan laporan pasien ini tuan."
"Lalu dia kemana?"